RSS
Container Icon

::. 3 Diantara Ratusan Sahabat Rasulullah Yang Sahid Karena Kecintaannya Kepada Rasulullah SAW .::


Shalawat serta salam untuk Rasulullah SAW, manusia mulia yang dengan segala pengorbanannya, dengan segala cinta, dan semua yang beliau berikan pada jalan dakwah dan ummat, membuat kita sampai detik ini mampu menikmati nikmat Islam yang sangat luar biasa dahsyatnya.


Bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW dulu harus menerima berbagai caci dan maki, berbagai hinaan, cemoohan, gunjingan, diasingkan, dikucilkan, bahkan sampai dilukai secara fisik dan dihina. Namun, betapa besar hati beliau, manusia mulia utusan Allah SWT, dengan segala kerendahan hati dan penuh cintanya, Rasulullah tak sedikitpun menyimpan dendam dan malahan memaafkan mereka. Dengan sabar terus berjalan, perlahan demi perlahan, dengan pertolongan Allah SWT, maka Islam menjadi agama yang kuat hingga kini. Masya Allah.

Perjuangan dan keluhuran budi Rasulullah SAW tak hanya membuat para sahabat dan saudara dekat beliau begitu menghormati dan mencintai beliau, namun juga membuat para musuh-musuh Islam yang membenci beliau kala itu berbalik menjadi penasaran dan banyak diantara mereka yang kemudian menjadi mualaf dan bahkan akhirnya menjadi mujahid dan mujahidah Islam yang luar biasa cinta kepada Islam dan Rasulullah SAW.

Nah, berikut ini adalah beberapa kisah mengharukan sekaligus bisa menginspirasi kita, dari para sahabat Rasulullah SAW yang rela berkorban demi manusia mulia yang mereka cintai karena Allah SWT, siapa lagi kalau bukan Rasulullah.


Bilal Bin Rabah /  بلال ابن رباح

Siapapun pasti mengenal sosok ini. Mantan budak berkulit hitam yang dimerdekakan oleh Abu Bakar serta kemudian masuk ke dalam Islam. Bilal seperti para sahabat yang lain, dia sangat mencintai Rasulullah. Sejak masuk Islam, Bilal mulai rajin dan banyak belajar kepada Rasulullah tentang Islam.

Dia adalah muadzin pertama yang mengumandangkan adzan. Suaranya sangat merdu, sehingga membuat banyak orang terharu mendengar suaranya dan bergegas menunaikan sholat. Kematian Rasulullah meninggalkan duka yang mendalam bagi para sahabat, termasuk Bilal. Kemudian Bilal memutuskan untuk pergi dari Madinah, kota yang selalu mengingatkannya pada sosok mulia yang amat dia cintai, yaitu Rasulullah. Bertahun-tahun Bilal pergi, hingga suatu hari Bilal didatangi Rasul lewat mimpi. Rasul melihatnya dengan prihatin sambil bertanya, “Ada apa dengan engkau wahai Bilal? Kenapa engkau jadi seperti ini? Tak maukah engkau mengunjungiku lagi?”.

Bilal terbangun dan menangis, kerinduan kepada Rasulullah SAW kemudian mendorongnya untuk kembali ke Madinah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Setiba di Madinah dan setelah berziarah ke makam Rasul, dua pemuda mendatanginya. Mereka adalah Hasan dan Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW yang telah beranjak dewasa. Mereka berpelukan dengan Bilal yang telah mulai menua dengan penuh kerinduan. Lalu salah satu diantara mereka meminta Bilal kembali mengumandangkan adzan, karena mereka ingin mengenang Kakek mereka, Rasulullah SAW. Bilal memenuhi permintaan mereka, dia kemudian mengumandangkan adzan lagi setelah sekian lama tak melakukannya.

Ketika Bilal mengumandangkan lafadz pertama adzan, seluruh Madinah hening. Semua tertegun, karena suara yang telah lama tak mereka dengar dan sangat mereka rindukan kini kembali terdengar di Madinah. Bilal terus mengumandangkan adzan hingga kemudian sampai pada “Asyhaduanna muhammadarrasulullaah..”. Bilal tak mampu mengucap nama Rasulullah, berulangkali dia mencoba namun dia tak mampu, karena tangisnya selalu pecah. Seluruh warga Madinah tanpa terkecuali pun langsung ikut menangis. Hari itu Madinah penuh keharuan karena rasa rindu pada sosok Rasulullah SAW. Bilal kemudian menghentikan adzannya, adzan terakhir yang tak pernah dia selesaikan karena tak mampu membendung kerinduannya pada Rasulullah.

Sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Menjelang saat-saat kematiannya, pada saat itu Bilal berada di Damaskus. Istrinya berkata “Benar-benar suatu duka.” Tapi Bilal berkata “Tidak. Katakanlah: Benar-benar kebahagiaan, karena besok aku akan menemui Rasulullah S.A.W. dan para sahabat.”

Dapatkah kalian bayangkan, seberapa besar imannya? Dia sedang sekarat, tapi malah merasa senang karena dengan meninggalkan dunia, maka dia akan bertemu dengan Rasulullah. Karena Rasulullah S.A.W. bersabda “Dunia ini adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan surga bagi orang-orang kafir.”


Abu Bakar Ash-Shiddiq / أبو بكر الصديق

Dia adalah sahabat terdekat Rasulullah. Diberi gelar Ash-Shiddiq karena dia selalu membenarkan apa yang diucapkan dan dilakukan Rasulullah. Dia adalah orang pertama yang langsung beriman begitu Rasulullah menerima wahyu kenabian dan diperintahkan untuk menyebarkan agama Islam. Dia pula yang selalu mendampingin Rasulullah kemanapun beliau pergi. Abu Bakar disebut dalam QS. At-Taubah ayat 40, “Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya beerada dalam gua”.


Kala itu, Abu Bakar dan Rasulullah bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran musuh. Dalam kondisi gelap dan pekat, Rasulullah kelelahan dan Abu Bakar mempersilahkan Rasul tidur dipangkuannya. Rasul kemudian terbangun dan mendapati Abu Bakar dalam keadaan pucat dan menangis, namun dia tak bersuara.

Rasul heran dan bertanya, “Ada apa wahai Abu Bakar?”, kemudian Abu Bakar menjawab, “Sesungguhmu aku melihatmu tertidur karena lelah maka aku tak berani membangunkanmu ya Rasulullah, walaupun kemudian harus kutahan ketika ada ular menggigit kakiku.”. Rasullah kemudian menangis mendengarnya.

Abu Musa al-Asy’ari mengisahkan, suatu hari dia berwudhu di rumahnya lalu keluar menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berangkat ke masjid dan bertanya dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dijawab bahwa Nabi keluar untuk suatu keperluan. Kata Abu Musa, “Aku pun segera pergi berusaha menysulunya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke sebuah kebun yang teradapat sumur yang dinamai sumur Aris. Aku duduk di depan pintu kebun, hingga beliau menunaikan keperluannya.

Setelah itu aku masuk ke kebun dan beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau, lalu kembali berjaga di depan pintu sambil bergumam “Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tak lama kemudian datanglah seseorang ingin masuk ke kebun, kutanyakan, “Siapa itu?” Dia menjawab, “Abu Bakar.” Lalu kujawab, “Tunggu sebentar.” Aku datang menemui Rasulullah dan bertanya padanya, “Wahai Rasulullah, ada Abu Bakar datang dan meminta izin masuk.” Rasulullah menjawab, “Persilahkan dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga.”


Sumayyah Bint Khayyat / سمية بنت خياطّ

Sumayyah adalah mujahidah atau wanita pertama yang syahid di jalan Allah. Dia awalnya tidak mau memeluk agama Islam, hingga kemudian anaknya masuk Islam, sehingga dia dan suaminya ikut. Setelah masuk Islam, Sumayyah kemudian menutup auratnya dengan hijab. Dia menjadi wanita yang sangat patuh dan mencintai Islam. Kaum kafir Quraisy berang melihatnya. Apalagi Sumayyah dan keluarganya adalah budak keluarga Abu Jahal.

Abu Jahal kemudian menangkapnya dan suaminya beserta anaknya untuk disiksa. Mereka dipaksa untuk mengingkari Allah dan Rasulullah. Namun mereka bertiga tak bergeming, tetap teguh dengan keimanan mereka. Mereka tak peduli disiksa bagaimanapun. Hingga kemudian Abu Jahal menghina Rasulullah di depan Sumayyah. Sumayyah langsung naik pitam karena tidak terima Rasulullah dihina serendah itu. Dengan berani dia meludahi wajah Abu Jahal dan balik menghinanya serendah mungkin.

Tentu saja Abu Jahal naik pitam dan segera mengambil tombak, kemudian menusuk Sumayyah, serta menusukkan tombak itu pula pada kemaluannya, terus sampai Sumayyah syahid. Kemudian Abu Jahal dan para pengikutnya juga menyiksa suami Sumayyah, hingga mengikuti Sumayyah pula untuk syahid di jalan Allah.

Itulah kisah ketiga sahabat Rasulullah SAW yang begitu mencintai Islam, Allah, dan Rasulnya. Mereka adalah para ahli syurga yang telah dijamin Allah atas syahid mereka. Sesungguhnya mereka tidak mati, karena mereka akan hidup kekal di syurga Allah. Darah mereka harum dan keharumannya akan terus tercium di syurga.


Semoga kisah-kisah di atas menginspirasi kita, bahwa betapapun beratnya amanah yang Allah berikan pada kita sekarang, sungguh tak ada apa-apanya dengan perjuangan Rasulullah dan para sahabat pada jaman dulu dalam membela Islam. Dan tak lupa selalu kita curahkan shalawat kita pada Rasulullah, manusia mulia yang begitu mencintai kita, ummatnya, jauh sebelum beliau bertemu kita.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: