RSS
Container Icon

::. Kasih Tak Sampai : Legenda Tanjung Menangis .::

Pantai Tanjung Menangis
Tanjung menangis merupakan nama tanjung yang berada di bagian timur pulau Sumbawa. Pada zaman dahulu, putri dari Sultan Samawa terjangkit penyakit yang sangat aneh, tak ada seorang pun di seantero tanah Samawa yang dapat menyembuhkannya. Sultan Samawa telah melakukan berbagai cara demi menyembuhkan putrinya. Dia telah berkunjung ke rekan-rekannya sesama pemimpin, yaitu kepada sultan Dompu, dan sultan Bima untuk mencari sandro (Tabib) sakti yang dapat menyembuhkan putrinya, namun hasilnya tetap nihil. Bertahun-tahun tuan puteri mengidap penyakit aneh tersebut, namun belum ada orang ataupun sandro yang mampu menyembuhkannya. 

Akhirnya Sultan menggelar sayembara, barangsiapa bisa menyembuhkan putrinya, Apabila dia perempuan maka akan dijadikan sebagai anak angkat namun jika lelaki akan dijodohkan dengan Sang Putri. Sandro atau dukun dari berbagai penjuru Tanah Samawa berlomba untuk menyembuhkan sang putri bahkan Sayembara ini menyebar hingga ke pulau Sulawesi. Telah banyak sandro yang mencoba mengikuti sayembara ini namun belum seorang pun yang berhasil menyembuhkan tuan putri. 

Suatu hari, datanglah seorang kakek tua renta ke kediaman Datu Samawa. Dia berasal dari negeri Ujung Pandang (Sulawesi) dan memperkenalkan dirinya dengan nama Zainal Abidin. Dia telah mendengar kabar tentang penyakit aneh yang diderita tuan putri dan ingin mencoba mengobati tuan putri bila Tuhan Yang Maha Kuasa mengijinkan. Dengan kuasa Allah Taala, melalui tangan serta pengetahuan yang dimiliki Zaenal Abidin, tuan putri pun sembuh seperti sedia kala.

Sesuai dengan janjinya, tibalah waktunya bagi Sultan Samawa untuk membayar janji kepada Zaenal Abidin yang telah menyembuhkan putrinya. Seperti yang telah beliau janjikan, beliau harus menikahkan putri beliau dengan Zaenal Abidin. Namun, karena melihat fisik Zaenal Abidin yang sudah tua renta dan bungkuk pula, Sultan Samawa merasa tidak rela untuk menikahkan putrinya dengan Zaenal Abidin. Sultan Samawapun akhirnya merubah hadiah dari sayembara. Sultan Samawa mempersilahkan Zaenal Abidin untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya, berapapun yang diinginkan olehnya, asalkan Zaenal Abidin bersedia untuk tidak dinikahkan dengan tuan putri.

Zaenal Abidin merasa sangat terhina dengan sikap Sultan. Beliau menolak untuk mengambil sepeser harta pun dari istana. Dengan hati teriris, ia pun pulang kembali ke Ujung Pandang menggunakan sampan kecil yang dilabuhkan di sebuah tanjung. Putri Sultan Samawa merasa iba melihat kekecewaan di mata Zaenal Abidin, ia pun menyusul Zaenal Abidin ke tanjung tersebut. Saat putri Sultan Samawa tiba di pelabuhan, Zaenal Abidin ternyata sudah dalam perahu dan melabu sampannya. Atas kekuasaan Allah, Zaenal Abidin yang tua renta tersebut berubah menjadi pemuda yang tampan tiada taranya. Melihat hal tersebut, putri Datu Samawa menangis, menyesali keputusan yang diambil ayahnya serta menangisi betapa tersiksa rasanya ditinggal seseorang yang baru ia cintai.

Sementara sambil berlayar Diatas perahu Zaenal Abidin, pemuda sakti nan tampan itu menembangkan sebuah lawas atau puisi :

Kumenong si sengo sia intan e (Ku mendengar panggilanmu wahai putri)
Leng poto tanjung mu nangis (Diujung Tanjung kamu menangis)
Kupendi onang kukeme. (Aku kasihan namun tiada Daya)

Sambil menangis, putri berlari menyusul sampan Zaenal Abidin hingga tengah laut tanpa menyadari ia mulai tenggelam. Hal ini menyebabkan Tuan Putri Sultan Samawa meninggal di tengah laut sambil menangis. Akhirnya, hingga kini tanjung tempat dimana putri dan Zaenal Abidin berpisah tersebut dinamakan Tanjung Menangis untuk mengenang kisah tragis antara kedua insan tersebut. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: