RSS
Container Icon

::. Kecintaan Isteri Kepada Suami Yang Hendak Menceraikannya .::

Buat kalian para Suami, para Istri maupun para calon suami istri, perlu kalian tau bahwa ini adalah satu kisah ‘tragis’ dalam kehidupan berumah-tangga. Saya yakin kalian nanti pasti akan menyesal dan terpaksa membaca ulang dari awal jika melewatkan satu kalimat saja dalam kisah ini dan semoga kita bisa mendapat pelajaran dari kisah ini.

***

Semuanya berawal dari sebuah rumah mewah di pinggiran desa, yang mana hiduplah disana sepasang suami istri, sebut saja Pak Andre dan Bu Rina.


Pak Andre adalah anak tunggal keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Bu Rina adalah anak orang biasa. Namun demikian kedua orang tua Pak Andre, sangat menyayangi menantu satu-satunya itu. Karena selain rajin, patuh dan taat beribadah, Bu Rina juga sudah tidak punya saudara dan orang tua lagi. Mereka semua menjadi salah satu korban gempa beberapa tahun yang lalu.

Sekilas orang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana mereka dulu merintis usaha dari kecil untuk mencapai kehidupan mapan seperti sekarang ini. Sayangnya, pasangan itu belum lengkap.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun usia pernikahannya, mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akibatnya Pak Andre putus asa hingga walau masih sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yang dianggapnya tidak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sangat sedih dan duka yang mendalam, akhirnya Bu Rina pun menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Sambil menahan perasaan yang tidak menentu, suami istri itupun menyampaikan rencana perceraian tersebut kepada orang tuanya. Orang tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi tampaknya keputusan Pak Andre sudah bulat. Dia tetap akan menceraikan Bu Rina.

Setelah berdebat cukup lama dan alot, akhirnya dengan berat hati kedua orang tua itu menyetujui perceraian tersebut dengan satu syarat, yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah pesta yang sama besar seperti besarnya pesta saat mereka menikah dulu. Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui.

Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Saya berani sumpah bahwa itu adalah sebuah pesta yang sangat tidak membahagiakan bagi siapapun yang hadir. Pak Andre nampak tertekan, stres dan terus menenggak minuman beralkohol sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara Bu Rina tampak terus melamun dan sesekali mengusap air mata nelangsa di pipinya. Di sela mabuknya itu tiba-tiba Pak Andre berdiri tegap dan berkata lantang,

“Istriku, saat kamu pergi nanti… Ambil saja dan bawalah serta semua barang berharga atau apapun itu yang kamu suka dan kamu sayangi selama ini..!”

Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri. Keesokan harinya, seusai pesta, Pak Andre terbangun dengan kepala yang masih berdenyut-denyut berat. Dia merasa asing dengan keadaan disekelilingnya, tak banyak yang dikenalnya kecuali satu. Rina istrinya, yang masih sangat ia cintai, sosok yang selama bertahun-tahun ini menemani hidupnya.

Maka, dia pun lalu bertanya,
“Ada dimakah aku..? Sepertinya ini bukan kamar kita..? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi..? Tolong jelaskan…”
Bu Rina pun lalu menatap suaminya penuh cinta, dan dengan mata berkaca dia menjawab,

“Suamiku… ini dirumah peninggalan orang tuaku, dan mereka itu para tetangga. Kemaren kamu bilang di depan semua orang bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati kecuali kamu. Karena itulah kamu sekarang kubawa serta kemanapun aku pergi. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu..!”

Dengan perasaan terkejut setelah tertegun sejenak dan sesaat tersadar, Pak Andre pun lalu bangun dan kemudian memeluk istrinya erat dan cukup lama sambil terdiam. Bu Rina pun hanya bisa pasrah tanpa mampu membalas pelukannya. Ia biarkan kedua tangannya tetap lemas, lurus sejajar dengan tubuh kurusnya.

“Maafkan aku istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa ternyata sebegitu dalamnya cintamu buat aku. Sehingga walau aku telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu sekalipun, kamu masih tetap mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun…”

Kedua suami istri itupun akhirnya ikhlas berpelukan dan saling bertangisan melampiaskan penyesalannya masing-masing. Mereka akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.
________________________________________

Tahukah kalian, apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas?
Kalau menurut Kang Sugeng sih begini, tujuan utama dari sebuah pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan keturunan, meski diakui mendapatkan buah hati itu adalah dambaan setiap pasangan suami istri, tapi sebenarnya masih banyak hal-hal lain anyg juga perlu diselami dalam hidup berumah-tangga.

Untuk itu rasanya kita perlu menyegarkan kembali tujuan kita dalam menikah yaitu peneguhan janji sepasang suami istri untuk saling mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun duka. Melalui kesadaran tersebut, apapun kondisi rumah tangga yang kita jalani akan menemukan suatu solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan berlandaskan kasih sayang ketika menghadapi sebuah masalah, sebenarnya merupakan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga kita.

“Harta dalam rumah tangga itu bukanlah terletak dari banyaknya tumpukan materi yang dimiliki, namun dari rasa kasih sayang dan cinta pasangan suami istri yang terdapat dalam keluarga tersebut. Maka jagalah harta keluarga yg sangat berharga itu..!”


Sumber Dari : http://ayomembacacerit4.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Hadiah Terakhir Robby Untuk Ibunya Yang Meninggal Dunia .::

Ilustrasi
Saya seorang mantan guru di sekolah musik dari Desa Moines, Lowa. Saya mendapat penghasilan dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya yakin bahwa setiap anak mempunyai kemampuan musik yang berbeda-beda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong siapapun, walau saya telah mengajar beberapa murid yang berbakat. Dan kali ini, saya ingin bercerita tentang murid yang "tertantang dengan musik". Namanya Robby.

Robby berumur 11 tahun saat ibunya memasukkan dia les untuk pertama kalinya. Sejujurnya, Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) memulai bermain piano dibawah umur 10 tahun, saya sudah berusaha menjelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, "Ibuku ingin mendengarkan aku bermain piano." Kemudian, saya putuskan untuk menerima dia sebagai murid.

Robby pun memulai les pianonya, entah kenapa sejak awal dia memulai les saya berpikir dia tidak ada kemampuan apapun dalam bermain piano. Robby mencoba, tapi dia tak dapat menyampaikan makna dari nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi, dia mempelajari dengan benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan entah kenapa saya mulai merasa dia tak punya bakat,tapi bagaimanapun sebagai seorang guru saya tetap menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, "Ibu saya akan mendengar saya bermain piano suatu hari nanti."

Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak punya kemampuan. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika ia mengantar Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah menemui saya langsung.

Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke tempat les. Saya sempat berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, saya pikir mungkin dia menyerah dan memilih les bakat yang lain. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi kian buruk selama saya mengajarnya.

Beberapa minggu kemudian, saya mengirimkan brosur ke setiap murid, mengenai pertunjukan piano yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur itu) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu.

Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut.

Dia menjelaskan pada saya bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya les, tapi dia tetap terus berlatih. "Bu Hondrof... saya ingin bermain piano!" dia memaksa.

Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya memperbolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya, dan sejujurnya hati saya pun membiarkannya untuk bermain. Saya berharap dia akan baik-baik saja.

Malam pertunjukan datang. Aula dipenuhi dengan penonton yang ramai. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan piano sedikit bagian terakhir. Saya berpikir kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya pun berantakan. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" pikir saya. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?" pikir saya lagi.

Robby menarik kursi piano dan memulai permainannya. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major. Saya kaget dan saya tidak siap mendengarnya. Namun, ternyata jarinya menari ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo.. . dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan anak seumur dia sebagus itu.


Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar-nya dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. "Saya belum pernah mendengar kau bermain sebagus itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya? "

Melalui pengeras suara Robby menjawab, "Bu Hondorf...Ibu tentu ingat saya pernah berkata bahwa ibu saya ingin mendengar saya bermain piano,kan? Dan sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah meninggal pagi tadi. Dan sebenarnya.. . dia tuli sejak lahir jadi hari ini adalah pertama kalinya Ibu mendengarkan saya bermain piano di surga. Saya ingin bermain secara khusus untuk Ibu yang sangat saya cintai."

Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena Robby adalah murid saya.

Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada diri sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui siapa dan mengapa.


Sumber Dari : http://ayulitaeviliaputri.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Jinan : Perjuangan Bocah Palestina Menjenguk Ayahnya Dipenjara Israel .::

Anak Palestina (Ilustrasi)
Bertemu dengan Ayah sangat mahal dan berisiko bagi Anak-anak Palestina yang Ayahnya ditahan dipenjara Israel. Mendapat ijin hanya sekali setiap dua minggu.

Kisah yang menyentuh hati, mengingat penderitaan anak-anak kecil Palestina yang ingin bertemu, melihat dan mengharap belaian kasih sayang dari seorang Ayahnya, walau hanya dapat melihat dari balik kaca dan cuma dapat bersentuhan ujung jari.

Jinan adalah salah satu anak yang berumur 6 tahun yang saban Senin setiap dua pekan mengunjungi ayahnya Ali Nazal , dipenjara Chattah-Gilboa, Israel. Aktivitas mengunjungi sang ayah sudah dilakukan sejak dua tahun belakangan ini dan bisa jadi merupakan pembesuk paling muda.

Biasanya Jinan pergi sendiri, namun belakangan ia melawat sang ayah anak-palestina bersama kedua adiknya Dania (4) dan Nur (2), mereka bertiga bersiap sejak sebelum fajar. Salam Nazal sang ibu mendandani ketiga putrinya dan tidak ketinggalan bekal makan siang untuk ketiga putri nya tersebut.

Ketiga anak-anak Palestina tersebut tidak paham mengapa sang ayah mendekam dinegara Zionis tersebut,. Karena itu setiap akan menjenguk Ayahnya, sang kakak Jinan selalu bertanya kepada ibunya, ”Mami…mengapa ayah selalu tidur di Israel?”. Salam Nazal punya satu jawaban jitu yang cukup menghibur anak-anaknya, ”Karena disanalah tempat tidur untuk orang-orang Palestina terbaik, dan Ayahmu salah satu diantara mereka.

Ali Nazal (35) sebelumnya hanya pedagang pakaian dipinngir jalan, meski baru akan diadili, ia sudah mendekam dipenjara Israel selama dua tahun. Ia terancam hukuman 10 tahun jika terbukti memiliki senjata dan menyembunyikan seorang buron. Dakwaan ini sebenarnya sama sekali tidak terbukti karena informasi yang diberikan informan Palestina salah.

Perjalanan dari rumah Jinan di kota Qalqilya, Tepi Barat ke penjara Chattah-anak-palestina2Gilboa sebenarnya hanya membutuhkan waktu dua jam, namun karena kota-kota di Tepi Barat telah dikelilingi oleh tembok pemisah yang hanya mimiliki satu pintu keluar masuk, maka waktu perjalanan molor menjadi hingga lima jam.

Sang ibu, Salam Nazal tidak pernah dapat menemani anak-anaknya membesuk sang Ayah, karena ia masuk daftar pengawasan militer Israel tanpa sebab yang jelas. Walau khawatir melepas ketiga putrinya tersebut, namun ia tetap tabah melepas kepergian putrinya yang masih sangat kecil itu. ”Apa yang dapat saya lakukan? hanya beginilah kesempatan anak-anak melihat ayah mereka,” ujar Sang Ibu saat mengantar Jinan dan kedua adiknya menaiki bus yang disewa oleh anak-palestina1Komite Palang Merah Internasional (ICRC), karena Israel menolak menyediakan transportasi bagi pembessuk, sehingga semua menjadi tanggungan ICRC dan setiap bulan menyediakan bus bagi 20 ribu warga Palestina yang ingin membesuk keluarganya sekaligus mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan.


Meski hanya 45 menit, Jinan dan kedua adiknya Dania dan Nur tetap bersemangat dan bagi si bungsu Nur (2), ini kesempatan pertamanya bertemu sang Ayah karena saat Ali Nazal dipenjara, saat ini Nur masih berumur 6 bulan.

Dengan menggandeng tangan kedua adiknya, Jinan memasuki ruang tunggu. Bertemu dengan ayah mereka walau melalui telepon da terpisah kaca tebal. Lubang kecil yang ada membuat Ali Nazal hanya mampu menyentuh ujung jari ketiga putrinya bergantian.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Ayah Yang Bijak Dan 2 Orang Pengamen .::

Suatu ketika anak dari seorang yang bijak bertanya kepada ayahnya “Ayah kenapa ya yah, aku sudah taat kepada Allah SWT, sholat lima waktu dan sunahnya tidak pernah ketinggalan, namun do’a ku tidak kunjung dikabulkan Allah SWT, sementara si fulan yang tidak taat kepada Allah tetapi do’anya cepat dikabulkan Allah SWT, padahal sifulan sholatnya jarang paling-paling hanya hari jum’at saja??”

Sesaat setelah anak tersebut bertanya datanglah seorang pengamen yang berbau tidak sedap, berprilaku tidak sopan dan suaranyapun tidak baik,, baru menyanyikan 1 bait lagu, sang ayah bijak tersebut langsung memberikan uang pecahan 1.000 rupiah kepadanya, dan setelah menerima pemberian uang tersebut, pengamen tersebut langsung buru-buru pergi meninggalkan ayah yang bijak beserta anaknya tanpa mengucapkan terimakasih atau sebuah senyuman…

Selang beberapa menit pengamen yang pertama tersebut pergi datanglah seorang pengamen yang wangi, prilakunya santun dan suaranya indah menghampiri ayah yg bijak beserta anaknya tersebut, namun kali ini perlakuan ayah yang bijak tersebut berbeda kepada pengamen yang kedua ini, ayah tersebut tidak buru buru memberi pengamen tersebut uang, namun ayah yg bijak tersebut membiarkan pengamen tersebut menyanyikan lagunya hingga usai, bahkan setelah usai, ayah yang bijak tersebut meminta agar pengamen tersebut menyanyi lagi.

Dan setelah pengamen tersebut selesai menyanyi ayah yang bijak tersebut akhirnya memberikan pengamen tersebut uang yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengamen pertama, pengamen kedua tersebut mengucapkan terimakasih serta senyuman sumringah kepada ayah yang bijak dan anaknya tersebut… 

Setelah suasana terdiam beberapa saat, sang anak mengajukan pertanyaan baru kepada ayahnya, ayah kenapa “ayah berlaku tidak adil kepada dua pengemis tersebut ?“


“Anakku, ketika ingin melakukan sesuatu kita sangat dianjurkan untuk berlaku bijak dimanapun dan kapanpun, hal yang ayah lakukan tadi adalah bentuk kebijakan ayah, mungkin terlihat tidak adil menurut kamu, namun menurut ayah itu sesuatu yang sangat adil, dan tahukah kamu anakku, apa yang ayah lakukan tadi adalah jawaban atas pertanyaan mu yg pertama tadi?” 

“apa maksud ayah? sungguh aku jadi bingung dibuatnya”

“Begini anakku, sifulan yang tidak taat kepada Allah SWT ketika berdo’a namun doanya cepat di ijabah Allah SWT, bisa saja Allah SWT mengabulkan do’anya karna Allah SWT tidak suka terhadap sifulan dan cepat2 Allah SWT mengabulkan do’a sifulan tersebut agar sifulan bisa berhenti memohon kepadanya dengan cara yg salah, dan sementara untuk kamu, bisa saja Allah SWT menunda-nunda agar do’amu terkabul, karna Allah SWT sangat sayang kepadamu disaat kamu berdo’a, serta karna ketaatanmu kepada-NYA dan bisa saja bukan, nanti ketika Allah SWT mengabulkan doamu, Allah akan memberikan sesuatu yang jauh lebih besar dari apa yang kamu harapkan anakku, seperti ketika ayah memberikan uang yang lebih kepada pengemis yang bersuara indah tadi”

“Terimakasih ayah jawaban ayah sangat memuaskan, lalu apa yg harus saya lakukan setelah ini ayah” 

“Lakukanlah seperti yg pengemis bersuara indah tadi lakukan, ketika engkau sedang berusaha agar do’a mu dikabulkan Allah SWT, lakukanlah apa yg diminta Allah kepadamu, jika Allah SWT menyuruhmu taat maka taatlah, jika Allah SWT menyuruhmu sabar maka sabarlah, dan ingat anakku setelah do’amu terkabul jangan lupa ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, agar senantiasa kasih sayang Allah selalu tercurah kepadamu”

“Alhamdulillah terimakasih ya ayah“ 

“Alhamdulillah anakku”


Sumber Dari : http://www.dream.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Pak Dul : Biarkan Saya Menambal Jalan .::

Pak Abdul Syukur
Seorang tukang becak renta membuat terharu ribuan netizen, khususnya pengguna Facebook di Surabaya, Rabu (13/5/2015).

Tukang becak itu bernama Abdul Syukur (56 tahun) atau biasa disapa Pak Dul.

Yang membuat ribuan netizen bersimpati padanya, meski kondisi ekonominya yang terbatas, Pak Dul masih sempat-sempatnya secara sukarela, menambal lubang-lubang di jalanan Kota Surabaya.

Semua itu ia lakukan tanpa pamrih, dan tak mendapat bayaran sesenpun dari siapa saja.

Cerita tentang Pak Dul awalnya dikemukakan oleh seorang pengguna Facebook bernama Himan Utomo. Himan, yang tergerak hatinya melihat Pak Dul menambal jalan, lalu memotret lelaki tua itu, dan mengunggahnya dalam status di Facebook.


"Saat itu pukul 23.05 seorang bapak tua tukang becak ini berhenti pas di depan ITC, bapak tua ini turun dan menurunkan bongkahan batu aspal dan menaruhnya dibeberapa jalan yg berlubang.. setelah beberapa kali mondar-mandir dari becak ke jalan berlubang tadi saat dirasa pas bapak tua ini mengambil hammer (palu besar) untuk meratakan bongkahan batu aspal tadi, setelah semua rata bapak ini duduk sebentar sembari mengipas-ngipaskan topi hitam miliknya sembari berucap 'Alhamdulillah',

"Saya pun akhirnya menghampiri bapak tua ini dan duduk disamping beliau serta menawarkan rokok kepada beliau, saya bertanya 'bapak dari dinas kota kah kok meratakan jalan dan cuma memakai becak?? bukankah dinas kota punya fasilitas?,"
Bapak tua ini menjawab "Bukan mas, saya tukang becak biasa..,"
Saya heran dan bertanya lagi "Lha bapak digaji berapa? dan ikut siapa?"
Bapak tua ini menjawab "Saya gak kerja sama siapa2 dan tidak digaji siapa2..,"

Saya makin penasaran dan bertanya lagi "Lha bapak nglakuin ini gak dibayar kok mau, bukankah sudah jd tanggung jawab pemerintah kota, kan kita jg bayar pajak untuk pembangunan kota jg?"

Bapak tua ini tersenyum dan berkata "Gak papa mas, ini sudah jadi hobby saya tiap malam.., setelah cari rejeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal, buat nutup jalan yg berlobang.., ya hitung2 abdi saya sebagai warga kota surabaya..,"

Allahu Akbar...!!!! Masih ada orang seperti bapak ini di Surabaya...

Bapak tua ini jg berkata tentang lika-liku nya menutup jalan yg berlubang :

"saya sering di olok-olok sama teman2 seprofesi tukang becak, "wes pak de, gak onok sing mbayari kok yo dilakoni ae, gak kiro direken lah karo wong-wong nduwuran pemerintah kota.. opo maneh bu risma.. istirahat ae sampeyan wes tuek"

Hahahaha, bapak tua ini tertawa kecil dan sering menjawab : "Demi kemanusiaan saja, kalo ada yg kejeglong trus kecelakaan gimana??? iya kalo musim panas, terus kalo banjir? kan gak kelihatan.., sudah gak apa-apa kalo jalannya gak berlubang semua yang lewat kan juga enak.."

Iki lho rek,, abdine wong asli suroboyo, masio gak dibayar, gak direken uwong, tapi sek dilakoni gawe keamanan dalan..

Yang masih penasaran sama hasilnya pak tua tukang becak ini bisa lihat di depan ITC pas ada jalan berlubang yg sudah ditutup sekitar 3 lubang.. terus rel Semut arah ke Pecindilan, sama Gembong Tebasan, sampai Tambak Adi.

Mudah-mudahan ada bapak/ibu pejabat yang baca postingan saya dan memberi beliau penghargaan atas kerja keras beliau selama ini. Amin..amin ya robbal alamin

Status dari Himan Utomo ini lalu menyebar bagai virus dengan cepatnya ke ribuan netizen Surabaya. Tak kurang, 11.221 orang membagikan (share) status Himan ini lewat Facebook! Cerita Himan makin meledak, setelah ia mengunggahnya ke portal radio Suara Surabaya.


Berita tentang Pak Dul, mendapat simpati berupa likes tak kurang dari 9.000 netizen. Himan pun kebanjiran permintaan konfirmasi pertemanan dan ucapan terima kasih dari netizen lain, karena sudah berbagi cerita soal Pak Dul.

"Suwun cak wis di-confirm,, ijin share link pak dul Aku dadi terharu cak ! mugo-mugo dowo umure, jembar lan gampangne rezekine kaleh gusti ALLAH,"

(Terimakasih cak sudah dikonfirmasi (pertemanan Facebook) saya jadi terharu cak. Semoga panjang usianya, luas dan mudah rezekinya oleh Gusti Allah). Demikian kata seorang pengguna Facebook bernama Eka Ardi.

Dan dari Shohibul Djamil : "Matur suwun cak, semoga kisah nyata pak dul dapat menginspirasi banyak orang, ijin share ya cak,"

Menurut Himan, Pak Dul tinggal di Jalan Tambak Segaran Barat I/27. Tukang becak renta itu biasa mangkal di depan pusat perbelanjaan ITC Surabaya, dekat Pasar Atum. (*)


http://suryamalang.tribunnews.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Pangeran Salim & Anarkali : Cinta Putera Raja Kepada Penari Istana .::

Salim & Anarkali (Jodha Akbar)
Pangeran salim adalah putra sultan akbar yang agung dari kekaisarn mughal, India (1542-1605) Pada masanya, Kesultanan mughal mengalami masa keemasan, tak heran ia mendapati julukan “The Great Mughal Emperor”. Dari ratunya yang bernama Mariam uz Zamani, sultan memiliki 3 putra, si kembar yang meninggal saat masih kecil serta pangeran salim yang kelak menjadi Sultan Jahangir (1605-1627).

Pangeran pewaris takhta ini dikenal sebagai pangeran yang manja, tidak disiplin bahkan cenderung kasar. Jelasnya tidak menunjukkan diri sebagai calon raja. Hal itu membuat Sultan Akbar cemas dan khawatir, mungkinkah kelak pangeran salim bisa menjadi penerusnya, menjadi seorang raja yang berkuasa dan diharapkan rakyatnya?

Untuk mendidiknya, Sang ayah mengutus pangeran salim terjun memimpin tentara di medan-medan peperangan. Dengan demikian menurut sultan, pangeran salim akan belajar memimpin, membuat keputusan, dan menjadi lebih bijaksana, sebagai bekal kelak jika sudah menjadi raja. Kemudian salim bertugas selama 14 tahun di tengah-tengah medan pertempuran.

Ketika kembali dari medan pertempuran, pangeran salim disambut ibunya beserta selir-selir istana Lahore dengan suka cita. Kedatangannya dirayakan dengan pesta meriah dan mujra, tari-tarian dengan penari muda terkenal Nadeera, gadis biasa putri Noor Khan Argun.

Nadeera dikenal piawai dalam melakukan gerak tari yang lemah gemulai yang indah nun mempesona. Ditambah kebeliaan membuatnya bak bunga mekar. Sultan akbar pun menjuluki Nadeera sebagai Anarkali (bunga delima nan mekar).

Pangeran salim menyaksikan si anarkali, dan saat itu juga tersambar panah asmara, membuatnya seketika jatuh cinta. Sejak itulah kisah cinta mereka dimulai. Anarkali, demikian selanjutnya ia dipanggil, seorang gadis dari kasta biasa menyambut cinta Sang Pangeran. Cinta mereka mekar dan penuh gelora seiring dengan merambatnya usia masing-masing.


Awalnya percintaan mereka berlangsung secara sembunyi-sembunyi. Sebagai seorang pangeran, Salim memahami bahwa ia akan menikahi seorang putri pula, yang dalam dirinya mengalir darah seorang raja. Pernikahan yang lebih bersifat politis demi melanggengkan kekuasaan dan menyatukan dua kekuatan.

Sebelum pangeran salim menceritakan rencananya menikahi gadis penari anarkali, angin telah menyenandungkan kisah cinta mereka ke telinga raja. Sultan akbar sangat marah. Ia langsung memanggil putranya dan meminta ia melupakan cintanya pada anarkali. Namun pangeran salim menolaknya.

Karena tetap saja pangeran salim berhubungan dengan anarkali, maka sang ayah (sultan akbar) kembali mengirim putra mahkotanya itu ke medan perang untuk menaklukkan daerah-daerah lain dan meluaskan kekuasaan Mughal, sekaligus untuk menjauhkan Salim dari Anarkali. Berbulan-bulan pangeran di sana, tetap saja ia berhubungan dengan Anarkali lewat sepucuk surat yang di antar oleh utusan pangeran salim. Ketika kembali ke Istana ia bahkan sudah berencana memperistri anarkali. Sultan Akbar pun semakin murka dengan keadaan ini.

Pangeran salim pun sadar bahwa sang ayah (sultan akbar) akan memisahkannya dengan anarkali sehingga pangeran salim berniat untuk melancarkan kudeta untuk merebut kekuasaan dari ayahnya.

Pusat kesultanan pada waktu itu sudah pindah dari Lahore (Pakistan) ke India. Pangeran salim tak sabar runtuk berkuasa dan bisa menentukan sendiri gadis yang ingin di nikahi tanpa di dikte dan di paksa oleh sang ayah. Namun sayang kudetanya gagal, ia pun ditangkap dan akan dijatuhi hukuman mati.

Pada detik-detik hukuman itu, Anarkali datang menghadap sultan akbar memohon pengampunan dan pembebasannya. Setelah berfikir panjang serta karena kasih sayangnya yang besar pada putranya, Sultan akbar mengabulkan dengan satu syarat. Yakni, Anarkali harus meninggalkan pangeran salim sejauh mungkin bahkan harus meninggalkan wilayah India. Demi cintanya pada sang pangeran, Anarkali pun menyutujui syarat tersebut namun sebelum melaksanakan syarat itu anarkali terlebih dahulu harus di ijinkan menemani sang pangeran salim di dalam penjara untuk 1 malam.

Akhirnya hari yang sudah di tentukan itupun tiba, Anarkali datang ke penjara tempat pangeran salim ditahan. Mereka berpelukan saling bertangis-tangisan. Anarkali meminta sang pangeran menerima takdirnya menjadi raja yang besar tanpa dirinya.


"Jangan menangis pangeran.... semua akan baik baik saja. Dan ketika aku sudah tidak disini, maka engkau akan menjadi raja agung yang sangat di hargai oleh rakyatmu... Aku tidak pantas menjadi sang ratu... Meskipun kita tidak bisa bersatu. Namun percayalah bahwa antara engkau dan aku sesungguhnya ada ikatan bathin yang tidak akan pernah terpisahkan..."

Namun sang pangeran menolak permintaan anarkali. Sepanjang malam itu mereka hanya berpelukan seakan tak ingin dipisahkan lagi. Tapi anarkali hanya sekadar melembutkan hati sang pangeran. Ia berencana memenuhi janjinya pada sultan akbar. Maka pada dini hari ia melepaskan diri dari Sang Pangeran, namun Salim tak mau melepaskan hingga para pengawal memaksa dan memisahkan keduanya.

Ternyata sultan akbar tidak menepati janjinya untuk membiarkan anarkali pergi meninggalkan india tapi justru sultan menyuruh para pengawal untuk membunuh anarkali.

Di kamar penjara itu ada dinding mencekung. Pengawal membawa Anarkali dan memasukkan ke cekungan tersebut. Setelah itu batu bata segera dipasang menandakan bahwa ia akan di tutup dinding, dikubur hidup-hidup. Pangeran salim menjerit-jerit dan berteriak sekuat tenaga dan berusaha mendobrak mengubrak abrik jeruji penjara namun pangeran salim tidak mampu keluar dari bilik penjara. Dia hanya bisa menyaksikan para pengawal mengubur orang yang di cintainya dalam keadaan hidup hidup.


***
Versi sejarah lain menyebutkan bahwa Anarkali dan Sultan Akbar menyepakati perjanjian. Anarkali pura pura dikubur hidup hidup. Dinding di belakangnya bisa dibuka dan menembus ke sebuah terowongan yang akan digunakannya untuk keluar. Segera setelah dinding di depannya tertutup, dibukalah dinding di belakangnya sehingga Anarkali bisa keluar. Sang ibu sudah menunggunya di sana dan mereka berdua lalu lari sepanjang terowongan hingga keluar dari India menuju Lahore. (semoga versi ini yang benar)

Kisah ini dipercaya oleh masyarakat India dan Pakistan hingga saat ini. Orang yang pertama kali menceritakan Anarkali dan Pangeran Salim adalah seorang penjelajah dari Inggris William Finch dan Edward Terry. Pada awal abad 17 ia memberikan informasi mengenai makam dan kisah di baliknya.


Sumber Dari : http://www.akbarelhamed.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS