RSS
Container Icon

::. Tangisan Rasulullah Yang Mengguncang 'Arsy Allah SWT .::

“Dikisahkan, bahawasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, kerana aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:
“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata: 

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan? ” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu. ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!”

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la lalu menangis kerana tidak berdaya menahan keharuan dirinya.“


Sumber Dari : http://johneox.wordpress.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kasih Tak Sampai : Legenda Tanjung Menangis .::

Pantai Tanjung Menangis
Tanjung menangis merupakan nama tanjung yang berada di bagian timur pulau Sumbawa. Pada zaman dahulu, putri dari Sultan Samawa terjangkit penyakit yang sangat aneh, tak ada seorang pun di seantero tanah Samawa yang dapat menyembuhkannya. Sultan Samawa telah melakukan berbagai cara demi menyembuhkan putrinya. Dia telah berkunjung ke rekan-rekannya sesama pemimpin, yaitu kepada sultan Dompu, dan sultan Bima untuk mencari sandro (Tabib) sakti yang dapat menyembuhkan putrinya, namun hasilnya tetap nihil. Bertahun-tahun tuan puteri mengidap penyakit aneh tersebut, namun belum ada orang ataupun sandro yang mampu menyembuhkannya. 

Akhirnya Sultan menggelar sayembara, barangsiapa bisa menyembuhkan putrinya, Apabila dia perempuan maka akan dijadikan sebagai anak angkat namun jika lelaki akan dijodohkan dengan Sang Putri. Sandro atau dukun dari berbagai penjuru Tanah Samawa berlomba untuk menyembuhkan sang putri bahkan Sayembara ini menyebar hingga ke pulau Sulawesi. Telah banyak sandro yang mencoba mengikuti sayembara ini namun belum seorang pun yang berhasil menyembuhkan tuan putri. 

Suatu hari, datanglah seorang kakek tua renta ke kediaman Datu Samawa. Dia berasal dari negeri Ujung Pandang (Sulawesi) dan memperkenalkan dirinya dengan nama Zainal Abidin. Dia telah mendengar kabar tentang penyakit aneh yang diderita tuan putri dan ingin mencoba mengobati tuan putri bila Tuhan Yang Maha Kuasa mengijinkan. Dengan kuasa Allah Taala, melalui tangan serta pengetahuan yang dimiliki Zaenal Abidin, tuan putri pun sembuh seperti sedia kala.

Sesuai dengan janjinya, tibalah waktunya bagi Sultan Samawa untuk membayar janji kepada Zaenal Abidin yang telah menyembuhkan putrinya. Seperti yang telah beliau janjikan, beliau harus menikahkan putri beliau dengan Zaenal Abidin. Namun, karena melihat fisik Zaenal Abidin yang sudah tua renta dan bungkuk pula, Sultan Samawa merasa tidak rela untuk menikahkan putrinya dengan Zaenal Abidin. Sultan Samawapun akhirnya merubah hadiah dari sayembara. Sultan Samawa mempersilahkan Zaenal Abidin untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya, berapapun yang diinginkan olehnya, asalkan Zaenal Abidin bersedia untuk tidak dinikahkan dengan tuan putri.

Zaenal Abidin merasa sangat terhina dengan sikap Sultan. Beliau menolak untuk mengambil sepeser harta pun dari istana. Dengan hati teriris, ia pun pulang kembali ke Ujung Pandang menggunakan sampan kecil yang dilabuhkan di sebuah tanjung. Putri Sultan Samawa merasa iba melihat kekecewaan di mata Zaenal Abidin, ia pun menyusul Zaenal Abidin ke tanjung tersebut. Saat putri Sultan Samawa tiba di pelabuhan, Zaenal Abidin ternyata sudah dalam perahu dan melabu sampannya. Atas kekuasaan Allah, Zaenal Abidin yang tua renta tersebut berubah menjadi pemuda yang tampan tiada taranya. Melihat hal tersebut, putri Datu Samawa menangis, menyesali keputusan yang diambil ayahnya serta menangisi betapa tersiksa rasanya ditinggal seseorang yang baru ia cintai.

Sementara sambil berlayar Diatas perahu Zaenal Abidin, pemuda sakti nan tampan itu menembangkan sebuah lawas atau puisi :

Kumenong si sengo sia intan e (Ku mendengar panggilanmu wahai putri)
Leng poto tanjung mu nangis (Diujung Tanjung kamu menangis)
Kupendi onang kukeme. (Aku kasihan namun tiada Daya)

Sambil menangis, putri berlari menyusul sampan Zaenal Abidin hingga tengah laut tanpa menyadari ia mulai tenggelam. Hal ini menyebabkan Tuan Putri Sultan Samawa meninggal di tengah laut sambil menangis. Akhirnya, hingga kini tanjung tempat dimana putri dan Zaenal Abidin berpisah tersebut dinamakan Tanjung Menangis untuk mengenang kisah tragis antara kedua insan tersebut. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Menangisnya Malaikat Jibril & Malaikat Mika'il .::

Iblis (Ilustrasi)
Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis. Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam a.s. Lalu iblis berkata, "Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah.

Lalu Allah SWT berfirman yang maksudnya, "Aku membuat apa yang aku kehendaki." Oleh kerana iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam a.s kerana bangga dan sombong. Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

Kemudian Allah SWT merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah SWT membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Setelah itu, lalu Allah SWT mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah SWT melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap empat, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah SWT membalas tipu daya iblis, maka menangislah Jibril a.s dan Mikail a.s. Lalu Allah SWT berfirman yang bermaksud, "Apakah yang membuat kamu menangis?" Lalu mereka menjawab, "Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu." Firman Allah bagi bermaksud, "Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku." Setelah diusir, maka iblis pun berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.

Lalu Allah SWT berfirman yang artinya, "Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum." Berkata lagi iblis, "Tambahkanlah lagi untukku." Allah berfirman yang maksudnya, "Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya." Berkata iblis lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Lalu Allah SWT berfirman yang artinya, "Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah." Berkata iblis lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Maka Allah SWT berfirman lagi yang artinya, "Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, artinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, yaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram.

"Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka." (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang Artinya : 
"Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan."


Sumber Dari : http://mahatera.blogspot.com 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Sa'ad As-Sulami Yang Menikah Dengan Bidadari Surga .::

Dialah Sa'ad As-Sulami (Rasulullah SAW memanggilnya Julabib), seorang tokoh pemuda diantara sahabat Rasul yang berasal dari keluarga terpandang di kabilahnya bani Sulaim. Namun karena ia berkulit hitam, mereka (bani Sulaim) menolak keberadaan Julabib. Suatu hari ia datang menghadap Rasulullah SAW. 
"Ya Rasulallah, apakah hitamnya kulit dan buruknya wajahku dapat menghalangiku masuk surga?" "Tidak, selama engkau yakin kepada Rabbmu dan membenarkan Rasul dan risalah yang dibawanya..." jawab Rasulullah SAW.

Kemudian Julabib menegaskan, "Demi Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, dan engkau adalah hamba dan Rasul-Nya. Akan tetapi Ya Rasulullah, aku telah mencoba melamar wanita yang ada di sekitar sini dan yang jauh dari sini, dan mereka semua menolakku."

Maka Rasulullah SAW menungkapkan, "Wahai kekasihku Julabib, Maukah engkau aku nikahkan dengan seorang wanita yang pandai dan cantik? Tahukah engkau rumah Amr bin Wahb dari bani Tsaqif? Ia adalah orang yang baru masuk Islam dan memiliki putri yang pandai dan cantik. Datanglah ke rumahnya dan katakan bahwa aku melamarkan putrinya untukmu..."

Dengan gembira berangkatlah Julabib ke rumah Amr bin Wahb r.a. Setelah memberi salam dan masuk ia berkata, "Betulkah Tuan yang bernama Amr bin Wahb dari bani Tsaqif?" "Betul..." jawab Amr bin Wahb, "Siapa Anda? Dan apa keperluan Anda datang menemuiku?" "Aku Sa'ad As-Sulami dari bani Sulaim, aku datang karena diutus oleh Rasulullah untuk melamar putrimu." jawab Julabib. Keluarga Amr bin Wahb amat senang mendengar berita itu, karena ia mengira bahwa Rasulullah yang melamar putrinya. Maka Julabib pun menjelaskan, "Bukan begitu Tuan...tetapi Beliau saw. memintamu untuk menikahkan aku dengan putrimu." Amr bin Wahb pun terkejut dan berkata, "Kamu pasti berdusta..!!!"

Mendengar ucapan yang keras dari Amr bin Wahb, Julabib pergi dengan wajah murung menemui Rasulullah. Sementara itu putri Amr bin Wahb yang mendengar percakapan tadi berkata pada Ayahnya, "Hai Ayah, carilah selamat, carilah selamat! Jangan sampai Allah dan Rasul-Nya murka dan kau akan dipermalukan dengan turunnya ayat dari langit tentang perbuatanmu ini. Jika Allah dan Rasul-Nya rela aku menikah dengan orang itu, maka akupun rela menikah dengannya." Amr bin Wahb pun bergegas pergi mengejar, dan segera menemui Rasulullah. 

Hingga keduanya menghadap kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Inikah orang yang menolak lamaranku untuk kekasihku Julabib?" Amr bin Wahb mengakui, "Benar ya Rasul, maafkan kekhilafanku karena aku mengira ia telah berdusta. Jika memang engkau yang memerintahkan, maka aku rela menikahkan putriku dengan pemuda dari bani Sulaim ini." Seketika itu Rasulullah SAW. pun memimpin pernikahan Sa'ad As-Sulami (Julabib) dengan putri dari Amr bin Wahb bani Tsaqif. 

Kemudian Rasulullah SAW. berkata pada Julabib, "Pergilah pada beberapa orang Muhajirin, datanglah kepada Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib." Maka Julabib mendatangi mereka semuanya, Abdurrahman bin Auf r.a. memberi bahkan dilebihkan, Utsman bin Affan r.a. memberi serta melebihkan, begitu pun 'Ali bin Abi Thalib r.a. memberi bahkan melebihkan. Julabib telah mendapatkan ratusan dirham.

Kemudian ia pergi ke pasar untuk membeli mas kawin, dan beberapa pakaian untuk hadiah kepada istrinya yang belum sempat ditemuinya. Tetapi mendadak terdengar seruan, "Wahai kuda-kuda Allah, bergeraklah... bergeraklah...!!!" sebuah tanda seruan untuk berjihad. Julabib menatap ke arah langit dan berkata, "Ya Allah, kecantikan istriku mungkin takkan sebanding dengan kecantikan surga-Mu, maka aku akan memenuhi panggilan jihad-Mu." Maka ia mengembalikan semua belanjaannya, dan membeli baju besi dan kuda serta tameng untuk berperang dan segera dikenakannya. 

Hingga wajahnya tidak terlihat kecuali hanya kedua matanya. Ketika tiba dalam barisan, Rasulullah saw mulai mengabsen satu persatu setiap barisannya. Nampak Julabib yang menghindar dari pandangan Rasulullah saw. Ketika Rasulullah bergerak ke arah kiri, ia menyelundup ke arah kanan. Dan begitu sebaliknya. Mungkin Julabib khawatir jika Rasulullah mengetahui keikut-sertaannya maka Rasulullah akan menyuruhnya pulang untuk menemui istrinya terlebih dahulu.

Melihat perbuatan Julabib, Rasul hanya tersenyum. Saat Julabib menyingsingkan lengannya, rupanya Beliau saw. tahu bahwa itu adalah Julabib, seorang pemuda yang baru saja menikah tetapi belum bertemu dengan istrinya. Tetapi Rasul membiarkannya. Sementara orang-orang saling bertanya tentang penunggang kuda baru ini. 'Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Mungkin ia datang dari Negeri Syam untuk mempelajari agamamu dan melindungimu." Tatkala peperangan terjadi, Julabib maju dengan bersemangat, ia bergerak dengan lincah, menghantam ke kiri dan ke kanan, hingga kudanya kelelahan. Ia pun turun dari kudanya dan terus bergerak maju dan maju. Hingga akhirnya peperangan usai. 

Ketika pasukan kembali dari medan jihad, Rasulullah saw bertanya, "Di mana kekasihku Julabib?". Para sahabat hanya saling pandang seraya bertanya-tanya siapakah Julabib yang dimaksud Rasul? Rasulullah mengulang kembali pertanyaannya "Di mana kekasihku Julabib?" seraya berkaca-kaca. Tiga kali pertanyaan itu diungkapkan Rasul, namun tak ada seorang pun yang tahu tentang kabar dan keberadaan Julabib.

Pasukan pun kembali ke medan jihad mencari sosok Julabib. Rupanya Julabib telah syahid. Jasadnya berada di tengah-tengah tujuh mayat orang kafir. Kemudian Rasul berjalan menuju jasad Sa’ad As-Sulami, diletakkan kepalanya dipangkuannya dan dibersihkannya dari debu dengan kain. Lantas Rasulullah saw menangis, kemudian tersenyum, dan kemudian memalingkan wajahnya yang telah memerah. Maka ditanyakanlah, "Ya Rasulullah, tadi kami melihat engkau begini, begini, dan begini (menangis, tersenyum, lalu memalingkan wajah)?". Beliau menjawab, "Aku menangis karena aku akan merindukan seorang Sa'ad As-Sulami (Julabib). 

Kemudian aku tersenyum karena ia sudah menggenapkan separuh agamanya (nikah), hingga aku melihat ia telah berada di tepian telaga jernih yang tepiannya terbuat dari intan dan permata (surga). Lalu aku memalingkan wajah karena melihat bidadari berkumpul dan berlarian menghampiri Julabib, sedang gaunnya tersingkap hingga aku melihat betisnya. Aku malu melihatnya, karena bidadari itu hanya milik Julabib. Sang Pengantin Surga pun telah syahid. Kemudian Rasulullah saw mengumpulkan semua barang dan kendaraan milik Julabib untuk diserahkan kepada putri Amr bin Wahb, seraya berkata, "kataknlah pada Amr bin Wahb, Sesungguhnya Allah telah menikahkan Sa’ad As-Sulami dengan wanita yang lebih baik dari putrimu (bidadari surga)." Wallahu a'lam bi shawwab. 

Semoga manfa'at dan menjadi motivasi keimanan. 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Air Mata Rasulullah SAW .::

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya  masuk.
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah SAW menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah SAW menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah SWT?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ''Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah SAW mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Steven Eric Krauss : Terpikat Kesempurnaan Islam .::

Sekitar 13 tahun lalu, Steven Eric Krauss hanyalah seorang pemuda tanggung kebanyakan. Pada 1998, anak muda yang sedang menjalani masa-masa kuliah itu dilanda kegamangan. Dalam hatinya tumbuh sebuah keraguan akan kebenaran agama yang tengah dipeluknya sejak lahir, Kristen Protestan. Kedua orangtua Krauss adalah pemeluk Kristen Protestan. Meski terlahir dari keluarga Protestan, namun Krauss mengaku jarang beribadah seperti yang dilakukan pemeluk agama itu. Ia menjauh dari kegiatan ibadah, karena baginya agama sebagai sebuah institusi, tidak memberikan apapun dalam kehidupannya.

‘’Sulit untuk mencari apapun dari agama itu yang bisa saya gunakan untuk kehidupan sehari-hari,” tulisnya dalam artikel berjudul My journey to Islam – How Malay martial arts led a theologically dissatisfied American Protestant to Islam. Sejak masa remaja, Krauss memang sudah merasa tidak puas dengan ajaran Kristen. Ia mengatakan, agama kedua orangtuanya itu lemah dan kurang mampu memberi penjelasan tentang ketuhanan dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. “Menurut saya, filosofi Kristen itu sangat bergantung pada sebuah hubungan yang aneh dengan Jesus, yang merupakan Tuhan, tapi juga manusia,” ujarnya.

Krauss mengaku sulit menerima cara pandang seorang Kristen yang tidak bisa berdoa langsung pada Tuhan, tapi justru atas nama Jesus. ‘’Kenapa Tuhan harus mengambil bentuk sebagai manusia,’’ ujarnya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang kemudian mendorongnya untuk mencari jawaban yang lebih baik tentang Tuhan. Dia lebih mencari nilai spiritual dari sebuah agama.

Sampailah kemudian ketika masih duduk di bangku universitas, dia berbagi kamar dengan seorang Yahudi yang sedang mempelajari pencak silat. Pencak silat yang dipelajari oleh temannya itu adalah jenis bela diri yang ada di Malaysia. Ketika itu pencak silat tersebut sangat dekat dengan ajaran Islam. Setiap kali, pemuda Yahudi itu pulang, dia selalu menceritakan kepada Krauss tentang keunikan silat dan kekayaan dimensi spiritual yang ada. Dari cerita-cerita itu, akhirnya Steven merasa tertarik. Suatu Sabtu pagi, dia memilih untuk ikut dengan teman satu kamarnya itu dalam sebuah sesi latihan pencak silat.

Meskipun pada awalnya dia belum menyadari bahwa hatinya telah tergetar dengan Islam, Krauss mengakui latihan silat pertamanya pada 28 Februari 1998 itulah yang mengantarkannya untuk menjadi mualaf. Ketika itu dia bertemu dengan Cikgu (guru dalam bahasa Malaysia) Sulaiman. Sang guru silat itulah yang mengenalkannya kepada Islam. Padahal sebelumnya, agama tersebut tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Krauss. Merasa semakin tertarik dengan silat, ia pun meluangkan lebih banyak waktu untuk berlatih dan bertemu dengan gurunya.

Ia dan teman sekamarnya itu juga datang ke rumah guru Sulaiman untuk belajar lebih jauh. Pernah, pada musim panas di tahun 1998, mereka menghabiskan waktu bersama keluarga Sulaiman. Setiap hari, ia bersentuhan dengan sebuah keluarga Muslim. Ia melihat cara mereka beribadah, dan gaya hidup seorang Muslim sebenarnya. Hasilnya, pengetahuannya tentang silat dan Islam pun semakin banyak. Islam menurutnya sebuah agama yang menjadi bagian dari hidup pemeluknya, hal ini berbeda dengan Kristen yang memisahkan kehidupan sehari-hari dengan agama.

Awalnya, dia merasa asing dengan agama Islam. Apalagi ketika itu dia masih menganut paham liberal dan tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang bersifat dogmatis. Namun, lama-kelamaan, hal yang dianggap sebagai dogma dalam ajaran Islam itu ternyata merupakan sebuah kepasrahan kepada Allah. Sebuah cara hidup yang dijalankan oleh para pemeluknya.

Butuh waktu satu setengah tahun, atau tepatnya pada 30 Juli 1999, Steven bersyahadat. Dia kemudian mengambil nama Islam, Abdul-Lateef Abdullah. Dia sadar bahwa budaya Amerika kemudian datang menjadi tantangan. Kebudayaan negara Adi Daya itu sangat mengakomodasi nafsu-nafus duniawiah. Di Amerika, kebahagiaan itu tidak jauh dari konsumsi dan apa yang sudah dipunyai secara materi. Sistem pasar adalah tolak ukur masyarakat Amerika. Akan tetapi Islam justru memfokuskan pada cara hidup yang sehat dan positif. Islam sebenarnya bisa menjadi jawaban bagi permasalahan sosial. Hal inilah yang membedakan Islam dengan agama yang lain.

‘’Islam juga memberikan pengetahuan, penjelasan, dan tuntunan dari setiap aspek kehidupan (fisik, spiritual, mental, finansial, dan sebagainya). Hanya Islam yang memberikan tujuan hidup yang jelas,’’ papar Abdul-Lateef Abdullah. Sejak menjadi seorang Muslim, ia akhirnya sadar bahwa Islam benar-benar bisa menjadi pegangan dalam kehidupan. Apapun yang dikerjakan pemeluknya adalah merupakan cara untuk selalu mengingat Allah. Cara hidup Islam memungkinkan pemeluknya untuk tetap melakukan itu setiap saat, mulai dari bangun tidur hingga kembali lagi ke peraduan.

Dengan mengingat Allah, maka umat Muslim mampu menghindarkan diri dari segala macam tindakan dan perilaku yang kurang sehat dan cenderung tidak berguna. Mereka sangat fokus pada energi yang diberikan oleh Allah. ‘’Dengan mengingat Allah kita menjadi semakin kuat dan sehat di setiap aspek kehidupan kita dan kita akan terhindar dari pikiran dan perilaku yang tidak baik,’’ ucap Abdul Lateef.

Sama halnya dengan pengalaman mualaf yang lain, ia mengaku harus menyesuaikan hidupnya dengan cara hidup Islam. Ia bersyukur, diberi kemudahan untuk mengatasi itu semua itu. Sehingga, Abdul Lateef tetap bisa hidup di antara masyarakat Amerika yang lain, namun tetap memegang teguh ajaran Islam.

Begitu pula dengan keluarganya. Ketika pertama kali diberitahu tentang keputusannya masuk Islam, keluarga dan teman-teman dekatnya mulai menanyakan banyak hal dan sangat khawatir dengan kehidupannya. Akan tetapi, mereka justru tidak memandang keputusan itu sebagai sesuatu yang negatif. Dengan penjelasan yang panjang dan mendalam, akhirnya mereka bisa mengerti.

Ia benar-benar terpikat dengan kebenaran dan kesempurnaan agama Islam.

*****

Hikmah Dari Sang Guru

Steven Eric Krauss terbilang beruntung. Untuk menghadapi keluarga dan pertanyaan banyak orang tentang Islam, ia tak pernah merasa bingung. Krauss memiliki seorang guru agama yang setiap saat selalu siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang di sekelilingnya tentang seluk-beluk Islam. Selain merasa siap dengan setiap jawaban, Krauss menjadi semakin mantap dengan tata cara ibadah wajib yang harus dia lakukan setiap hari. Baginya, guru adalah sosok yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas. Seseorang mualaf yang baru belajar tentang Islam, kehadiaran guru itu sangat penting.

Di Amerika, kebanyakan para mualaf lebih senang belajar tentang Islam secara mandiri dengan menonton video atau membaca buku. Mereka merasa bisa serta-merta mengaplikasikan Islam dengan struktur kebudayaan barat. Sebenarnya, jika tanpa pendampingan yang benar, maka dikhawatirkan akan terjerumus pada pemahaman yang kurang tepat.

Atau justru terjebak dengan pemahaman yang berpaku pada ego pribadi, sehingga berujung pada kebingungan. Islam, bagi Krauss, bukan sebuah agama yang bisa diinterpretasi sendirian. Apalagi bagi seseorang yang baru saja memeluk Islam. Perlu tuntunan dari seorang guru yang memang benar-benar mengerti tentang Islam. Sejak berabad-abad yang lalu, Islam sudah selayaknya diajarkan melalui seorang ulama atau guru yang memang memiliki pengetahuan yang luas. Lewat cara inilah ajaran Islam bisa disampaikan secara benar. Menurutnya, umat Islam tidak bisa mengerjakan ibadah tanpa ilmu dan sebaliknya.

‘’Guru juga bisa menjadi contoh kepada para mualaf bagaimana sebanarnya akhlak yang baik itu, melalui cara hidup mereka,’’ paparnya. Menurutnya, sangat baik bagi seseorang yang baru berkenalan dengan Islam untuk melihat bagaimana guru mereka mengimplementasikan Islam dalam kehidupan. Mulai dari cara shalat dan cara beribadah yang lain. Termasuk perilakunya. Namun, menurut Krauss, saat ini juga banyak orang yang mengaku sebagai imam atau syekh, akan tetapi mereka hanya memiliki pengetahuan yang sedikit tentang Islam.

‘’Jadi jangan mudah terjebak dengan embel-embel imam atau syikh dalam pencarian seorang guru,’’ paparnya mengingatkan.

Menurut dia, mencari guru yang tepat adalah suatu hal yang sangat penting. Implementasi dan pemahaman seorang mualaf, kata dia, tergantung gurunya. Islam adalah cara hidup yang harus dilakukan setiap saat dalam kehidupan.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Do'a Nenek Penjual Tempe .::

Tuhan selalu punya jawaban atas do'a seseorang. Jawaban do'a itu bisa iya, bisa tidak, atau.. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk umat-Nya, seperti dalam kisah berikut ini,,


Di sebuah pinggir kota, hidup seorang nenek yang hidup seorang diri. Untuk dapat menyambung hidup, nenek tersebut berjualan tempe setiap hari. Pada suatu hari, sang nenek terlambat memberi ragi, sehingga tempe tidak matang tepat pada waktunya. Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, kedelai-kedelai masih belum menyatu. Kedelai tersebut masih keras dan belum menjadi tempe.

Hati sang nenek mulai menangis. Apa yang harus dilakukan? Jika hari ini dia tidak bisa menjual tempe tersebut, maka dia tidak akan dapat uang untuk makan dan membeli bahan tempe untuk esok hari. Dengan air mata yang masih mengalir, sang nenek mengambil wudhu lalu salat Subuh di rumahnya yang sangat kecil dan memprihatinkan.
"Ya Allah, tolong matangkan tempe-tempe itu. Hamba-Mu tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyambung hidup dengan cara yang halal. Hamba tidak ingin menyusahkan anak-anak hamba. Kabulkan do'a hamba-Mu yang kecil ini ya Allah.."
 Demikian do'a sang nenek dengan linangan air mata.

Setelah selesai salat Subuh, sang nenek membuka daun pisang pembungkus tempe, tidak ada satupun yang matang. Keajaiban belum datang, do'anya belum dikabulkan. Tetapi sang nenek percaya jika do'anya akan terkabul, sehingga dia berangkat ke pasar saat matahari belum bersinar, mengejar rezeki dengan menjual tempe.

Sesampai di pasar, sang nenek kembali membuka pembungkus tempe. Masih belum matang. Tak apa, nenek tersebut terus menunggu hingga matahari bersinar terik. Satu persatu orang yang berbelanja berlalu lalang, tetapi tak ada satupun yang mau membeli tempe sang nenek. Matahari terus bergerak hingga para pedagang mulai pulang dan mendapat hasil dari berjualan.

Tempe dagangan penjual lain sudah banyak yang habis, tetapi tempe sang nenek tetap belum matang. Apakah Tuhan sedang marah padaku? Apakah Tuhan tidak menjawab doaku? Begitulah rintihan hati sang nenek, air matanya kembali mengalir.

Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menghampiri sang nenek. "Apakah tempe yang ibu jual sudah matang?" tanya sang pembeli.
Sang nenek menyeka air mata lalu menggeleng, "Belum, mungkin baru matang besok," ujarnya.
"Alhamdulillah, kalau begitu saya beli semua tempe yang ibu jual. Daritadi saya mencari tempe yang belum matang, tetapi tidak ada yang menjual. Syukurlah ibu menjualnya," ujar sang pembeli dengan suara lega.
"Kenapa ibu membeli tempe yang belum matang?" tanya sang nenek dengan heran. Semua orang selalu mencari tempe yang sudah matang.
"Anak laki-laki saya nanti malam berangkat ke Belanda, dia ingin membawa tempe untuk oleh-oleh karena di sana susah mendapat tempe. Kalau tempe ini belum matang, maka matangnya pas saat anak saya sampai ke Belanda," ujar sang ibu dengan wajah berbinar.

Inilah jawaban atas do'a sang nenek. Tempe-tempe itu tidak langsung matang dengan keajaiban, tetapi dengan jalan lain yang tidak dikira-kira. Ingatlah sahabat, Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk doa umat-Nya. Kadang sebuah do'a tak langsung mendapat jawaban. Kadang do'a seseorang tidak dijawab dengan 'iya' karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya.


Sumber Dari : http://forum.kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS