RSS
Container Icon

::. Fitrah Seorang Wanita : Keinginan Sebagian Wanita Eropa .::

Muslimah Eropa (Ilustrasi)

Dari Seorang Wanita Berkebangsaan Perancis

Kisah dibawah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman, dari seorang dokter muslim laki-laki yang hidup di Perancis. Ketika dokter laki-laki ini ditanya oleh teman kerjanya - seorang dokter wanita berkebangsaan Perancis yang beragama Nashrani. Dokter wanita ini bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, seorang muslimah yang berhijab dengan baik terutama bagaimana istrinya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah serta aktivitas apa saja yang dijalani setiap harinya.

Sang dokter menjawab: “Ketika istriku bangun dipagi hari maka dia menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak-anaknya di sekolah, kemudian tidur sampai jam 9 atau 10 pagi. Setelah itu dia bangun untuk membersihkan dan mengatur hal-hal lain yang dibutuhkan di dalam rumah. Setelah urusan bersih-bersih selesai maka dia akan sibuk dengan urusan di dapur dan penyiapan makanan.”

Dengan penuh keheranan dokter perempuan tersebut bertanya kembali: “Siapa yang memenuhi kebutuhannya, padahal dia tidak bekerja?!”
Dengan singkat sang dokter mengatakan: “Saya.”
“Lalu siapakah yang membelikan berbagai kebutuhannya?” Lanjut sang dokter wanita tersebut bertanya.
“Aku yang membelikan semua yang dia inginkan.” Jawab dokter muslim tersebut.
Dengan penuh keheranan dan ketercengangan wanita tersebut mengatakan: “Engkau yang membelikan segala sesuatu untuk istrimu?!”
Dia menjawab: “Ya.”
Perempuan tersebut bertanya lagi: “Sampai-sampai urusan perhiasan emas?!”
“Ya.” jawab dokter muslim tersebut sekali lagi.
“Sungguh istrimu adalah seorang permaisuri.” Komentar akhir perempuan tadi.

Dokter yang menceritakan kisah ini bersumpah dengan nama Allah SWT, bahwa pada akhirnya dokter wanita tadi menawarkan diri kepadanya untuk bercerai dan berpisah dari suaminya, dengan syarat dokter tadi mau menikahinya, sehingga dia bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter, lalu tinggal dirumah sebagaimana layaknya seorang wanita muslimah. Tidak hanya itu, dokter perempuan tersebut rela menjadi istri kedua seorang laki-laki muslim dengan syarat dia diperbolehkan tinggal saja di dalam rumah.

Dari Seorang Wanita Berkebangsaan Inggris

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis terkenal bernama Ety Rudh menulis dalam sebuah artikel yang disebarluaskan pada tahun 1901: “Sungguh seandainya anak-anak perempuan kita sibuk bekerja dalam rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan resikonya daripada meniti karier diberbagai instansi, karena meniti karir diluar rumah itu menyebabkan seorang wanita ternodai berbagai kotoran yang menghilangkan indahnya kehidupan untuk selama-lamanya.

Andaikan saja negeri kita ini seperti negeri orang-orang Islam yang berhias dengan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian !? Sungguh sebuah Aib di negeri Inggris yang menjadikan putri-putrinya sebagai teladan dalam keburukan karena seringnya bercampur baur dengan laki-laki. 

Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk menjadikan putri-putri kita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiatnya sebagai wanita yaitu dengan mengurusi rumah tangga dan membiarkan berbagai jenis pekerjaan laki-laki untuk kaum laki-laki dalam rangka menjaga kemuliaannya.”

Dari Seorang Wanita Berkebangsaan Jerman

Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berada di rumah saja akan tetapi selama perkembangan ekonomi Jerman akhir-akhir ini tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat maka permasalahan seperti ini yaitu back to home adalah sebuah kemustahilan. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan.” (dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jerman)”.

Dari Seorang Wanita Berkebangsaan Italia

Dia berkata kepada dokter Mustafa as-Shiba’i rahimahullah: “Sungguh aku merasa iri dengan wanita muslimah dan aku berangan-angan seandainya aku dilahirkan di negeri kalian.”

Inilah Islam, satu-satunya agama yang benar-benar memuliakan wanita. Karena orang-orang Barat mengetahui bahwa baiknya umat Islam adalah dengan berdiam dirinya kaum wanita mereka didalam rumah-rumah mereka. Oleh karena itu mereka membuat berbagai makar, sehingga wanita muslimah meninggalkan rumah, dan berbagai rencana lain untuk merusak wanita muslimah, sehingga mereka melepas jilbab dan tidak lagi memiliki hubungan dengan agama kecuali pada waktu shalat, inipun seandainya dia masih mau shalat. 

Berbagai makar ini dikemas dengan dalih kebebasan wanita, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan hak-hak wanita. Sesungguhnya tugas pokok seorang wanita dalam ajaran Islam yang disadari betul oleh orang-orang Barat adalah "Pembentuk tokoh dan pendidik generasi". Darinyalah anak-anak belajar tentang nilai-nilai luhur, menjaga kehormatan, menjauhi akhlak-akhlak tercela, mencintai Islam, dan mendahulukannya diatas nyawa dan darah.

***
Sangat disayangkan, setelah menyimak kisah-kisah di atas, kita lihat sebagian wanita muslimah tidak menemukan kemerdekaan kecuali dengan kacamata Barat dan mereka tidak mengetahui hak-hak mereka kecuali dari sudut pandang dari orang-orang Barat.


Yang jelas mereka adalah korban-korban pendidikan yang keliru yang tidak tersentuh nilai Islam sedikitpun. Dalam kesempatan ini kami tegaskan bahwasanya Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan mengembalikan wanita ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajiban mereka yang paling penting yaitu membentuk generasi yang akan mengantarkan umat Islam menjadi pemimpin kemanusiaan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Semoga Allah SWT Selalu Menjagamu,.. Dimanapun Kamu Berada, Selamanya .::

“Bu, apa kabar? Semoga iman selalu tertanam di dalam dadamu. Semoga Islam selalu menjadi pegangan hidupmu, hingga Izrail menjemputmu. Semoga taqwa senantiasa mengiringi hari-harimu. Semoga ihsan senantiasa menemanimu, dimana dan kapanpun kau berada.


“Bu, apakah kau sudah makan pagi ini?” Menu apakah yang kau masak dan sediakan untuk dirimu dan adik-adikku? Ah, jika bicara makanan, aku pasti ingat akan dirimu. Karena kau adalah koki paling hebat di dunia ini. Sekalipun hanya bayam, bawang merah, bawang putih dan cabe, namun kau bisa menyulapnya menjadi makanan yang penuh cinta, full kasih, sarat sayang. Sehingga aromanya adalah nikmat, rasanyapun mantab. Tak ayal, sederhana yang nampak luar biasa. Dan kini, aku sungguh merindukan luar biasanya masakanmu itu.

“Bu, apakah kau sudah sholat ? Kawan, aku malu jika menanyakan ini pada ibuku. Dulu, ketika aku masih kecil, beliaulah yang cerewet mengajakku untuk sholat. Dengan segala macam kesibukan yang beliau emban, beliau sempatkan mencariku yang tengah asyik dengan duniaku. Dengan cinta beliau menyapaku, “Mas, sudah sholat belum?” Beliau memanggil aku dengan bahasa cintanya, ”Mas”. Dan kini, aku bukan ingin mengguruinya dengan menanyakan sholatnya. Bukan itu, aku hanya ingin mengingatkannya. Karena aku tidak mau kita berbeda tempat di akhirat kelak. Inginku sederhana Bu, kita bersama menghuni surga-Nya, Aamiin aa Rabb.

Bahkan beliau tak pernah menyerah untuk menanyai sholatku, padahal hampir setiap ditanya, bukan jawaban yang kuberikan, melainkan mirip bantahan, ”Ngapain nanya-nanya sholat segala?”, ucapku kesal. “Gak lihat sedang asyik main sama teman apa?” lanjutku kesal. Astaghfirullah.. Maafkan aku Bu, semoga Allah mengampuni semua khilafku padamu.

“Bu, Ibu sudah mandi?” Ingin sekali aku dimandikan oleh mu, seperti dulu ketika aku kecil. Mandi bersamamu dengan air sayang, dicampur kehangatan kasih. Membersihkan setiap kotoran yang melekat ketika diri memang belum berdaya apa–apa. Pun, ketika diri ini sudah bisa berlari dan bermain, Aku masih sering dimandikan olehmu. Tanganmu lembut sekali, belaianmu benar-benar menguatkanku.  

Dengan sabar kau lakukan peran itu. Menggosok pelan tubuhku, membersihkannya dengan sepenuh jiwa, seperti kau memandikan dirimu sendiri. Bahkan, kau lebih bersih, lebih teliti dalam memandikanku, daripada ketika kau bersihkan dirimu sendiri. Dengan segenap batas, ijinkan aku untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk kasihmu yang tiada terbalas.

“Bu, Ibu sedang apa sekarang ?”. Mudah-mudahan Allah melapangkan semua aktivitas kebaikanmu. Semoga Allah mencegahmu dari berbuat keburukan, sekecil apapun. Semoga, Allah menjadikan setiap lakumu adalah keberkahan, sehingga bisa mengantarkanmu dan kami (anak-anakmu) ke surgaNya kelak, Amiin. Jangan lupa ya Bu, iringi setiap langkah dengan dzikir, dengan munajat panjang untuk kami, anak-anakmu. Karena Allah tidak akan menolak doa kebaikan dari seorang Ibu kepada anaknya. Untuk yang kesekian kalinya, ijinkan aku mengucapkan, ”Jazakillah ahsanal jaza’ atas semua yang kau berikan kepada kami, termasuk doa–doa panjangmu, yang tak pernah putus demi kebaikan kami, anakmu”

Bu, aku tersinggung ketika kau bertanya demikian, ”Mas, nanti kalau Ibu sudah tua gimana? Ibu khawatir jika kalian akan meninggalkan Ibu sendirian.”   Hatimu sungguh halus, selembut sutra bahkan lebih lembut lagi. Jangan khawatir Bu, Allah pasti memudahkanku untuk merawatmu, sebagaimana kau merawatku dulu. Akan kuajak kau serumah denganku, dengan istriku, juga dengan cucu-cucumu nanti. Insya Allah, Allah pasti akan memudahkan terwujudnya niat baikku itu. Tak perlu kau risau, tak perlu kau ragu. Aku sudah berkomitmen untuk tidak menjadi seperti Malin Kundang yang durhaka pada ibunya. 

Aku hanya ingin seperti para sahabat Nabi yang membaktikan hidupnya untuk oran tua mereka. Karena kebaktian kepadamu, karena kedekatan hati denganmu, adalah sumber keberkahan di dunia ini, juga dia khirat kelak. Tentunya, selama kau tidak menyuruhku untuk melanggar aturan-aturan Allah.

“Bu, aku rindu padamu, sangat rindu sekali.” Walaupun kutahu, rinduku hanyalah seujung kuku jika dibanding dengan rindumu yang sepanjang masa. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Aku rindu senyummu. Aku rindu teduhnya wajamu. Aku rindu belaian tanganmu. Aku rindu pijitan cintamu. Aku rindu dekapanmu. Aku, rindu gurauanmu. Aku rindu kemanjaan di waktu tuamu. Aku rindu masakanmu. Aku rindu omelanmu. Aku, aku, aku, merindukan semua tentangmu. Karenamulah, aku belajar rindu. Semoga rindu ini akan berakhir di tempat terindah yang Allah sediakan kelak di surgaNya. Untuk anak dan orang tua yang saling merindukan Surga, pertemuan sejati dengan Allah. Aamiin ya Rabb.

“Bu, jikapun kami jauh dari fisikmu. Yakinlah! Bahwa diriku tengah mencoba mendekatkanmu dalam setiap jenak kehidupan. Dalam setiap doa bahkan desah nafasku. Dalam setiap langkah, aku akan selalu menyertakanmu. Karena Rasul pernah bersabda, Ridho Allah tergantung kepada Ridho orang tua. Murka Allah tergantung kepada murka orang tua. Maka dari itu, Ridhoilah anakmu ini agar Allah tidak memurkai diri yang banyak salah ini.”

“Bu, usiamu semakin senja. Namun, sedikitpun tak kujumpai kelelalahan dalam dirimu. Senyummu tambah merekah, tawamu tambah renyah, bincangmupun semakin sarat makna. Aku tak tahu, terbuat dari apakah dirimu, sehingga begitu tegarnya dalam mengahadapai karang kehidupan yang seringkali mengahantammu sesukanya. Ah, lagi-lagi aku lupa! Bahwa kau adalah manusia terbaik di dunia ini setelah Rasulullah. Bukankah Allah pernah berpesan bahwa Ibu berbanding tiga kali dengan Ayah? Maka, di senjanya usiamu yang kian bergairah, ijinkan kami untuk berbakti, sekali lagi, walaupun apa dadanya.”

“Bu, kini, aku tengah dewasa, sudah saatnya aku mencari menantu yang akan menjadikanmu sebagai Ibu. Aku akan taat dengan pilihanmu. Aku akan dengan senang hati menjadikan pilihanmu sebagai belahan jiwaku. Sebagaimana kau telah menjadikanku sebagai belahan hatimu. Oleh karena itu, kumohon, carikan aku wanita sholihah yang kelak bisa membantuku untuk mencintai Allah, Rasulullah juga mencintaimu setulus jiwa. Jika pilihanmu adalah seperti petunjuk Rasulullah, yang bagus gamanya. Maka, tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Aku akan menikahi pilihanmu itu. Namun, jika tak ada pilihan yang kau berikan, maka ijinkan aku untuk memilihnya sendiri, tentunya dengan persetujuanmu.”

Bu, jangan berhenti melantunkan doa cinta untuk kami. Agar kami bisa menggapai mimpi kami. Mimpi untuk membuatmu tersenyum di dunia ini juga dia akhirat kelak.

Ah, aku lupa!!
Kawan, Apakah Ibumu sudah bertemu Allah?
Jika ‘Iya,’ maka belum terlambat. Masih ada waktu untuk berbakti padanya. Doakan dengan doa terkhusyu’ yang kau punya. Agar Allah mengumpulkanmu dan Ibumu di surgaNya. Lakukan pula sedekah, lalu hibahkan pahala untuknya. Karena Nabi mengajarkan hal itu. Lakukan pula haji dan niatkan untuk menghajikan Ibumu jika ternyata beliau belum sempat bertamu ke bumi Allah di Makkah. Lakukan pula amal sholih, terus menerus, agar beliau tersenyum melihat kegigihanmu di dunia ini. 

Jika Ibuku yang masih hidup saja sangat kurindukan, padahal bisa kutemui sewaktu-waktu, maka aku tidak bisa membayangkan betapa rindunya dirimu kepada Ibumu yang telah berada di negeri yang sangat susah untuk sekedar kau temui atau untuk kau kecup keningnya. Tapi, yakinlah kawan! Bahwa kau akan menemuinya kelak di Surga, Aamiin Ya Rabb.

Terakhir, untuk para calon Ibu, “Jadilah Ibu yang melahirkan pahlawan bagi agama Allah. Karena tidak ada balasan bagi para mujahid selain menang atau surga. Jangan biarkan dirimu dipersunting oleh orang yang tidak mau tahu tentang AgamaNya. Namun relakan dirimu, ketika ada orang yang dengan tulus akan mengajakmu meniti jalan cinta para pejuang, jalan cinta yang akan mengantarkanmu, pasanganmu dan keluargamu ke Surga yang sangat indah.”

Untuk para ibu dan calon ibu di seluruh dunia, kuucap syahdu penuh rindu, “Semoga Allah memudahkanmu untuk mendidik para Mujahid di jalan Allah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepadamu. Semoga Allah melindungimu, selamanya. Aku, mencintaimu karena Allah..”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Anakku Sayang,.. Wujudkan Cita-citamu Dengan Upaya & Kesungguhan .::


Anakku, Izinkan bunda menuturkan sebuah kisah.

Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang zuhud, senang beribadah dan berjihad, suatu kali pernah berkata.

"Sesungguhnya jiwaku adalah jiwa yang mempunyai banyak cita-cita".

Dia pernah bercita-cita menjadi amir, dia telah mendapatkannya. Dia bercita-cita menjadi seorang khalifah, juga telah didapatkannya. Sekarang, cita-citaku adalah surga, dan aku berharap mendapatkannya."

Lembar sejarah membuktikan, orang-orang besar umumnya memiliki cita-cita tinggi. Anakku, bukan hanya itu, mereka berusaha mewujudkan apa yang mereka cita-citakan dengan segenap upaya dan kesungguhan, dan umumnya mereka mampu meraih cita-cita yang telah mereka canangkan.

kisah kisah inspirasi Bukan hanya kisah Umar bin Abdul Aziz yang akan bunda ceritakan. Ada kisah lain, tentang empat pemuda dengan cita-cita mereka. Suatu hari, Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mushab bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan ra. berkumpul di pelataran ka'bah. Mushab yang bicara pertama kali dengan mengatakan, "Bercita-citalah kalian." Sahabat yang enggan mengatakan cita-citanya, meminta Mushab terlebih dulu menyampaikan cita-citanya.

Mushab bertutur,"Aku ingin kaum muslimin bisa menaklukkan wilayah Irak, aku ingin menikahi Sakinah puteri Husein dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah." Tahukah anakku, apa yang kemudian hari berlaku atas Mushab? Allah SWT memperkenankannya memperoleh apa yang ia cita-citakan.

Urwah bin Jubair kemudian menceritakan harapannya. "Aku ingin menguasai ilmu fikih dan hadits." Subhanallah, Urwah kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh ulama fikih dan banyak meriwayatkan hadits.

Abdul Malik bin Marwan mengungkapkan cita-citanya. Ia menyatakan keinginannya untuk menjadi khalifah. Dan anakku, Abdul Malik bin Marwan kemudian menjadi khalifah di masa Daulah Umawiyah yang dikenal sebagai khalifah yang memiliki ilmu yang luas dan taat beribadah.

Terakhir, Abdullah bin Umar menegaskan cita-citanya. Tahukah anakku, apa cita-cita Abdullah bin Umar? Cita-citanya adalah, Surga!

Anakku sayang, ambillah hikmah terbaik dari kisah itu. Apa yang menjadi cita-cita mereka? Cita-cita yang tinggi dan besar. Apakah engkau mengetahui, bagaimana mereka bisa mencapai cita-cita itu? Mereka mencapainya dengan perjuangan dan pengorbanan yang sungguh-sungguh diiringi dengan mental yang luar biasa. Bukan dicapai dengan menumbuhkan keminderan, kekalahan bahkan keputusasaan. Kekuatan tekad yang mereka miliki disertai dengan kerja keras juga doa kepada Allah SWT membuat mereka mampu mencapai apa yang mereka inginkan.


Perhatikan apa yang sejarah tulis mengenai perjuangan Umar bin Abdul Aziz. Kala diangkat menjadi pemimpin, ia tanggalkan kemewahan-kemewahan yang pernah dinikmatinya. Ia ganti kemewahan itu dengan segenap kesederhanaan. Ia bahkan meminta keluarganya untuk turut serta hidup dalam kesederhanaan itu. Yunus bin Syuaib bahkan berkata, "Sebelum menjadi khalifah, tali celananya masuk ke dalam perutnya yang besar. Namun, ketika dia menjadi khalifah, dia sangat kurus. Bahkan jika saya menghitung jumlah tulang rusuknya tanpa menyentuhnya, pasti saya bisa menghitungnya." Bukan hanya itu, Umar bin Abdul Aziz juga dikenal sebagai pemimpin yang menolak suap dalam bentuk apapun. 

Subhanallah.. Allah SWT memperkenankan Umar bin Abdul Aziz memperoleh keinginannya untuk menjadi khalifah dan Umar menjalankannya dengan penuh kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan untuk menngapai cita-cita yang lain, surga!

Karena itu, anakku, bercita-citalah! Pancangkan cita-citamu setinggi mungkin. Iringi ia dengan kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan untuk menngapainya. Semoga Allah SWT merahmatimu dengan memperkenankan cita-cita itu terwujud.


Bercita-citalah! Bukan hanya untuk duniamu, tapi juga untuk akheratmu. Rasulullah bersabda, "Dan jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga firdaus, sebab dia adalah surga yang paling tinggi." Anakku, tahukah engkau apa cita-cita seorang Rabiah bin Kaab? Cita-citanya adalah, menemani Rasulullah di surga!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Ming Ming Sari Nuryanti : Mahasiswi Akuntansi Yang Juga Seorang Pemulung .::

Di negeri ini, pendidikan telah menjadi barang yang sangat mahal. Tak heran jika hanya orang-orang yang bisa mendapatkan pendidikan secara memadai. Faktanya tidak semua orang mampu. Bahkan tidak sedikit keluarga yang untuk makan saja sulit. Ming-Ming Sari Nuryanti (18) adalah satu dari jutaan anak bangsa yang dibesarkan keluarga kurang beruntung.

Ming Ming Sari Nuryanti
Tapi Ming-Ming bukanlah gadis yang rapuh. Dia pribadi yang tangguh. Dia sadar benar menjadi pintar adalah haknya. Di tengah himpitan ekonomi keluarga, Ming-Ming yang kini tercatat sebagai mahasiswi semester II Fakultas Ekonomi Jurusan Akutansi Universitas Pamulang (Unpam), Tangerang, Banten, tetap bersekolah (kuliah). "Saya ingin menjadi akuntan yang Islami." kata Ming-Ming.

Demi cita-cita itu, Ming-Ming rela menjadi pemulung. Itulah yang sementara ini bisa ia lakukan agar cita-citanya menjadi akuntan tidak putus di tengah jalan. Menyadari kondisi ekonomi yang demikian, Ming-Ming nyaris tidak punya waktu clubing, pesta-pesta, kongkow di mall dan sebagainya, seperti yang biasa dilakukan sebagian mahasiswa tajir. Waktunya habis untuk bekerja, berdoa dan berihtiar.

Keseharian Ming-Ming dimulai pukul 03.00 WIB dini hari. Di saat orang lain masih terlelap tidur, Ming-Ming sudah terjaga. Segera saja ia beranjak mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud. Selesai sholat, Ming-Ming tidak lagi melanjutkan tidurnya, karena pekerjaan sudah menunggu, mulai dari membersihkan rumah hingga mencuci pakaian.

Pukul 08.00 WIB, Ming-Ming sudah siap untuk berangkat ke kampusnya yang berjarak kurang lebih 40 km dari rumahnya di kampung Sukasirna, desa Rumpin, Bogor. Sesekali ia berangkat agak siang, jika jadwal kuliahnya siang hari. Untuk bisa sampai ke kampusnya Ming-Ming harus lebih dulu berjalan sejauh 2,5 km menuju jalan besar Cicangkal. Untuk mencapai Cicangkal, dia harus melewati hutan karet yang lebat dan selalu becek karena merupakan daerah penambangan pasir.

Dari Cicangkal, ia mesti 3 kali naik angkutan umum. Tak jarang, karena keterbatasan biaya, ia mesti nebeng truk atau mobil bak terbuka menuju ke kampusnya. "Untuk transort, sebenarnya Rp 15.000,- pulang pergi, tapi ibu sering ngasih uangnya cuma Rp 7.000,- atau bahkan nggak ngasih duit. Makanya saya nebeng, yang penting nggak bolos kuliah." kata dia.

Pulang kuliah, Ming-Ming naik angkutan umum sampai daerah Muncul, Tangerang. Dari Muncul, ia berjalan kaki hingga daerah Suradita yang berjarak hampir 6 km. Sepanjang perjalanan matanya selalu awas meliht kiri kanan jalan. Jika kebetulan melihat botol atau gelas bekas air kemasan, dengan sigap Ming-ming mengambil dan memasukannya ke dalam karung yang selalu dibawanya setiap kuliah. Sampai daerah Suradita, ia kembali naik angkutan umum sejauh 3 km dan turun di Peruamahan Suradita. Jika sedang ada uang lebih, sesekali ia mampir ke rental komputer untuk belajar komputer di sana. Itupun ia tidak bisa lama-lama, maksimal 1 jam, karena ia membatasi budget hanya Rp 1.500,- saja untuk biaya sewa komputer.

Dari Perumahan Suradita ia kembali berjalan kaki sejauh 5 km hingga Cicangkal sambil tangannya terus memunguti botol dan gelas air mineral. Dari Cicangkal, karena kelelahan Ming-Ming lebih sering menunggu truk pengangkut pasir untuk nebeng hingga pertigaan Banjar yang tak jauh dari rumahnya. Dari sana, ia kembali berjalan kaki sambil membawa karung menuju rumahnya yang sangat sederhana. Di depan rumah, sudah menumpuk botol air mineral yang sengaja disimpan sebelum akhirnya dijual oleh ayahnya, Syaepudin (45), ke pengepul yang datang setiap 3 bulan sekali. 

Ming-Ming sebenarnya tidak hanya memungut botol atau gelas bekas air kemasan. Tapi semua barang yang bisa ia jual, seperti karton, kertas, plastik, barang-barang metal dan lain sebagainya. Terlahir dari keluarga kurang mampu, membuat wanita berjilbab ini harus berjuang ekstra keras untuk memperjuangkan hidupnya. 

Ayah Ming-Ming hanya bekerja freelance di arena bowling Ancol dengan penghasilan hanya mengharapkan tips, tentu saja tidak cukup untuk menghidupi istri dan ketujuh anaknya. Penghasilannya hanya rata-rata Rp 20.000,- sehari, sesekali pria asli Bogor ini mendapatkan uang lebih. Maka jangan heran jika sampai saat ini, ia hanya sanggup memberi makan keluarganya sehari sekali.


Ming-ming dan keenam adiknya pun akhirnya sudah terbiasa berangkat sekolah dengan perut kosong, karena jadwal makan mereka sudah ditentukan setiap malam hari saja. Karena untuk makan saja tidak cukup, Ming-Ming tidak pernah risau tidak bisa membeli baju atau bedak. "Alhamdulillah, saya nggak pernah beli baju. Apa yang saya pakai sekarang ini adalah hasil hibah dari teman-teman dan tetangga. Bahkan tas dan seisinya ini, semuanya dikasih. Lebaran bagi anak-anak lain merupakan saatnya beli baju baru, tapi buat adik-adik nggak harus seperti itu. Kami sudah cukup senang bisa memakai baju bekas orang lain." tuturnya. "Bahkan untuk masak opor pada lebaran saja harus dipaksakan." tambahnya. Rumah ukuran 6x6 yang ditempati keluarganya sejak 1996 itu pun sangat jauh dari layak, karena hanya terbuat dari bilik bambu yang sudah berlubang di sana-sini. Untuk menutupinya , ayah Ming-Ming menambal dengan kantong plastik hitam.

Tak ada secuil kemewahan di dalamnya. ruang tamu yang dijadikan ruang tidur, hanya beralaskan kertas kardus yang di atasnya digelar karung. Baginya, apa yang dirasakannya saat ini merupakan bagian dari proses hidup yang mesti dijalani. Ia merasa bahwa ia tidak ingin miskin iman cukup miskin harta. Ming-Ming memutuskan untuk menjadi pemulung sejak ia kelas 3 SMP. Sepanjang jalan pulang, ia rela jalan kaki sejauh 6 km sambil memunguti botol air mineral untuk dijual. Dari hasil usahanya Ming-Ming mengaku mendapatkan hasil yang lumayan apalagi jika sedang ada acara hiburan. 

Karena kondisi yang tidak mendukung, tamat SMA dia melanjutkan kuliah di Universitas Pamulang yang dianggap universitas murah. Meski kuliah sambil menyambi sebagai pemulung, Ming-Ming tidak malu, gengsi atau rendah diri. Sebaliknya dia tetap bisa bersikap supel, ramah, dan tidak menarik diri dari pergaulan. Dalam himpitan ekonomi orang tua, semua adik Ming-Ming barsekolah dari level dasar hingga sekolah menengah atas.

“Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.”

Ming-Ming tak memungkiri, jika selama jadi pemulung ia sering menerima ejekan dan pandanagan sebelah mata dari orang-ornag yang melihatnya. Bayangkan saja, masih dengan baju kuliah dan tas dipunggung, ia penuh percaya diri memanggul karung berisi barang-barang bekas. Diejek, dihina, dicurigai atau dibilang orang gila sudah sering ia terima. Namun Ming-Ming menyikapi dengan berpikir positif dan mendoakan agar orang yang mengejek, menghina atau malah menganggap dirinya gila mendapat hidayah dari Allah. Karena kemiskinan, ia dan adik-adiknya sudah terbiasa dengan persoalan tunggakan uang sekolah. Saking biasanya, Pujiyati, ibunya pun sudah terbiasa membuatkan surat permohonan surat dispensasi kelonggaran pembayaran uang sekolah untuk masing-masing anaknya.

Kondisi ini tidak jauh berbeda ketika Ming-ming sudah memasuki bangku kuliah. Bahkan ia sempat terancam tidak bisa mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester karena ia belum bisa melunasi uang semester serta uang ujian yang seharusnya ia bayar. Seperti saat UTS pertama, Ming-Ming tidak boleh mengikuti ujian karena masih menunggak Rp 450 ribu karena belum membayar uang semester 3 bulan dan uang UTS Rp 150 ribu.

"Saya sampai minta dispensasi ke Purek dan bagian akademik. Saya diberikan waktu satu minggu untuk melunasi, baru diperbolehkan mengikuti ujian susulan. Akhirnya saya dapat pinjaman dari teman-teman. Cuma untuk denda sebesar Rp 25 ribu per mata kuliah, saya tetap ga bisa bayar. Alhamdulillah pihak kampus mau mengerti." ungkapnya.


Ming-Ming berharap dirinya bisa mendapatkan beasiswa, sehingga bisa meringankan biaya. Kesempatan itu terbuka lebar karena nilai Ming-Ming tidak megecewakan. Di balik kesempatan rezeki, Ming-Ming tetap bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan untuk diri dan keluarganya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Gadis Pemulung Yang Sukses Menjadi Dokter Penyakit Kanker .::

Pemulung (Ilustrasi)

Delapan belas tahun lalu adalah hari terberat yang pernah ada dalam hidup Anjali. Seorang anak gadis yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di bantaran kali dengan rumah terbuat dari kardus harus rela melepaskan kepergian sang Ibu tercinta. Ia sangat mencintai Ibunya lebih dari apa pun, tak pernah sepatah kata pun ia membantah perintah Ibunya, baginya Ibu adalah jantung kehidupannya.

Ibunya pun sangat mencintai nya lebih dari apa pun, terbukti dengan bagaimana Ibu Anjali berusaha, bekerja siang malam mengelilingi kota memulung sampah, botol, dan kardus-kardus bekas yang akan di jual demi sesuap nasi dan menyekolahkan Anjali. Anjali merasa sangat berdosa besar jika harus melawan orang tua apalagi menyakiti hati Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala keterbatasan.

Karena itu Ia berjanji pada dirinya tidak akan pernah sedikit pun berani melawan dan menyakiti Ibunya yang sudah tua dan bungkuk. Anjali tidak pernah malu jika sang Ibu mengantarnya ke sekolah dengan pakaian lusuh, kusut dan penuh tambalan, bahkan dengan penuh kebanggaan terlihat dari wajahnya karena ia masih memiliki seorang Ibu yang sangat mencintainya sejak ia menghirup udara dunia, walau Ayahnya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih berumur dua tahun akibat kecelakaan.

Demi membahagiakan Ibunya ia belajar sungguh-sungguh, ia pun selalu menjadi juara kelas bahkan sesekali juara umum. Baginya mungkin hanya dengan prestasi sekolah yang bisa membahagiakan Ibunya, hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang Ibu, karena dengan itu juga ia sedikit mendapat keringanan dalam biaya sekolah. Kadang jika Ibunya sakit ia pergi keliling kota, memulung mencari botol dan kardus bekas di tempat pembuangan sampah, bahkan tak jarang ia terjerembab ke dalam tumpukan sampah karena tubuhnya SD nya yang masih kecil.

Sehabis sekolah menjaga sebuah toko sebagai uang tambahan membeli buku sekolah atau buku yang sangat ia inginkan. Baginya dengan berusaha dan bekerja keraslah keinginannya akan terwujud.

Ia sangat beruntung memiliki orang tua yang peduli akan pendidikan anaknya, ia kadang sering menangis sendiri dalam malam gelap gulita sebelum azan subuh, ia selalu terpikirkan dengan anak-anak yang senasib dengannya yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan namun hanya ia yang mampu sekolah.

Ia pun kadang menyempatkan waktu mengajarkan kawan-kawan sekitar rumahnya pelajaran matematika tanpa dibayar sesen pun, dengan begitu ilmunya semakin melekat, berkah dan bermanfaat. Semua pernak-pernik hidupnya berjalan seperti biasa hingga suatu yang paling ia takutkan menimpanya.

Ya, sesuatu yang sangat ia takutkan adalah kehilangan satu-satunya orang tua yang sangat ia cintai, yang sangat ia sayangi. Baginya musibah terbesar dalam hidupnya adalah harus kehilangan Ibu di usianya yang masih muda, di saat ia akan menamatkan SD. Ia ingin sekali ibunya melihat ia menjadi siswa terbaik se-provinsi dengan nilai yang tinggi dan masuk sekolah menengah pertama favorit di Jakarta, karena pemda Jakarta memberikan bea siswa penuh bagi 10 orang yang mampu mendapat nilai penuh dalam UN, yaitu semua nilai 10. Dan itu tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah pengumuman kelulusan Sekolah Dasar.

Namun takdir berkata lain, seakan-akan menantang harapan serta keinginannya itu, yang bahkan berusaha menyurutkan dan menghancurkan semangat gadis kecil itu untuk sekolah dan melanjutkan ke SMP favorit. Karena satu-satunya alasan semala ini ia belajar sungguh-sungguh hanyalah untuk menyenangkan hati Ibunya sebagai balasan atas jasa-jasa Ibunya yang membanting tulang, berpeluh keringat, terbakar terik siang dan bungkuk akibat memulung dan membawa barang berat.

Ibunya meninggal bukanlah karena kecelakaan, serangan jantung atau kelaparan. Ibunya ternyata selama ini menyimpan rahasia pada Anjali. Ibunya selama ini menderita penyakit kanker serviks (kanker rahim) yang harapan untuk dapat disembuhkan sangat kecil bahkan bisa dikatakan mustahil karena 98% penderita penyakit ini berakhir dengan kematian. Ia mengetahui itu dari pembicaraan rahasia Ibu-ibu tetangganya bahwa Ibunya terkena penyakit kanker ketika ada tes kesehatan pos kesehatan keliling dari pemda Jakarta. 

Ia terpukul karena rumah sakit di daerahnya belum memiliki pengobatan yang canggih untuk mengobati penyakit yang mamatikan ini, walau pun sebenarnya bisa dikirim ke rumah sakit yang lebih besar jika ada uang. Dan lebih terpukul lagi karena ia sadar, ia bukanlah orang kaya yang bisa membayar segala macam pengobatan, ia juga sadar apalah arti nyawa seorang pemulung di mata para dokter dan pemerintah, hanya menghabiskan tenaga dan waktu serta uang pemerintah.

Gadis kecil ini menangis sejadi-jadinya di tengah malam setelah Ibunya dikuburkan di pemakaman orang-orang miskin yang sekedarnya. Ia limpahkan semua isi hati dan pikirannya pada Ilahi. Ia yang dulunya belajar dan sekolah semata untuk membahagiakan Ibunya, kini berubah akan belajar dan bekerja mati-matian demi meraih cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter oncologi, dokter ahli special kanker. Apa pun yang terjadi dia akan berusaha mati-matian demi menjadi dokter spesialis kanker yang akan menyembuhkan seluruh macam penyakit kanker dengan segala kemungkinan yang ada. Dan tidak hanya itu, ia pun berjanji akan menolong sukarela siapa pun orang yang terkena penyakit kanker, apakah mereka orang kaya atau miskin.

Janji-janji yang ia buat, yang ia sampaikan di tengah malam pada Tuhan pada umur 12 tahun kini terpenuhi. Anjali dulu gadis kecil yang miskin dan kumuh kini sudah menjadi gadis dewasa yang cantik, baik dan kaya raya namun sederhana. Ia telah mewujudkan cita-citanya atas izin Tuhan melewati ujian-ujian besar dalam hidupnya. Baginya pendidikan tidak hanya diperuntukkan orang kaya, siapa pun boleh bercita-cita. Di umurnya yang masih muda (27) Ia menjadi dokter spesialis kanker ternama di rumah sakit terbesar di Jakarta dan menjadi dosen tetap di Universitas terkenal di jakarta.

Ia membangun yayasan sosial untuk anak-anak miskin dann terlantar. Dengan kerendahan hati, ia bersama teman-teman dan bawahannya melakukan pos kesehatan keliling gratis ke daerah-daerah yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Ia mampu menyelesaikan sarjana kedokterannya di Universitas terkenal dan ternama di Jerman, bahkan menjadi wisudawan terbaik dan banyak rumah sakit besar di Jerman dan menawarkan dirinya. Tapi ia lebih memilih tanah air yang telah membesarkannya, tempat ia dibesarkan bersama Ibunda tercinta, tempat dimana banyak nyawa orang miskin yang terancam kematian tanpa pengobatan.


Sumber Dari : http://informid.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Abu Utsman An Naisaburi yang Menjaga Perasaan Istrinya .::

Sudah bukan rahasia bahwa para istri ingin perasaannya dijaga oleh sang suami. Sudah pernahkah Anda mendengar kisah Abu Utsman An Naisaburi yang menjaga perasaan istrinya? Dengan penuh kasih sayang, beliau memberi teladan kepada para suami untuk tak menyakiti istrinya. Simak kisahnya lebih lanjut dalam artikel berikut ini.




Terkadang, apa yang kita dapat dari sang istri tak sesuai dengan harapan. Jangan jadikan hal tersebut untuk alasan kita meninggalkannya, sebaliknya gunakanlah kesempatan tersebut untuk menjaga perasaan sang istri dengan lebih baik lagi. Selain itu pula, jangan salahkan takdir yang membuat kita bersatu dengan sang istri. Contoh rumah tangga yang baik menurut Islam adalah hubungan rumah tangga Abu Utsman An Naisaburi dengan sang istri. Beliau sempat ditanyai amalan apa yang telah dilakukan untuk menghadap Allah SWT. Dengan santai dan lembut, beliau menjawab dengan kisahnya saat masih tinggal di Ar Rai.

Di Ar Rai tersebut, keluarga serta penduduk Abu Utsman memaksa beliau untuk segera menikah dengan seorang perempuan. Tentu saja respon yang diberikan beliau adalah penolakan. Suatu hari, datang seorang perempuan yang menyatakan rasa cintanya kepada Abu Utsman. Perempuan tersebut berkata bahwa ia tak bisa tidur karena memikirkan Abu Utsman. Perempuan itu pun segera memohon pada Allah SWT untuk bisa bersatu dengan beliau, caranya adalah menikahi beliau.

Mendengar pernyataan tersebut, Abu Utsman bertanya apakah wanita tersebut masih punya ayah. Sang wanita mengiyakannya lalu menjelaskan bahwa ayahnya seorang penjahit. Setelah hal tersebut, Abu Utsman bergegas ke rumah sang wanita. Sesampainya di sana, Abu Utsman tahu bahwa sang wanita merupakan orang yang berkekurangan hidupnya.

Akan tetapi, hal tersebut tak mengubah pendirian beliau sejak awal untuk meminang sang wanita. Dengan mantap, Abu Utsman tetap meminang wanita tersebut untuk menjadi istrinya. Saat melakukan hal tersebut, beliau melihat kebahagiaan membuncah di wajah kedua orang tua sang wanita. Tentu saja penyebabnya adalah karena Abu Utsman merupakan sosok yang saleh, tampan, tulus, setia, jujur, cerdas, dan terhormat. 

Wanita mana pun yang melihat dia pertama kali juga bisa langsung luluh. Setelah pernikahan dilakukan, wanita yang baru saja menikah dengan Abu Utsman ini datang kembali ke beliau. Betapa terkejutnya Abu Utsman, pasalnya yang ia lihat adalah perempuan yang buruk rupanya, kakinya pincang, bahkan matanya sudah juling.

Melihat hal ini, Abu Utsman tidak langsung kabur atau menceraikannya, melainkan bersyukur kepada Allah Yang Maha Pengasih. Bisa kita lihat bahwa Abu Utsman sedang membahagiakan istri menurut Islam. Tambahan lagi, Abu Utsman justru mendekati sang istri dengan tetap mencintainya. Luar biasa, bukan? Beliau menyatakan bahwa beliau sudah menjalani hal tersebut 15 tahun lamanya. Tak ada lagi amalan yang ia harapkan pahalanya lebih besar dibanding menjaga perasaan istrinya dalam waktu sangat lama. Hal inilah yang sudah cukup sulit ditemukan dalam masyarakat modern.

Di zaman sekarang, fisik sudah menempati peringkat atas yang mempengaruhi keputusan dalam menikahi seseorang. Ketulusan hati sudah sangat jarang dilihat, oleh karena itu saat fisik seorang istri berubah, lelaki cenderung menghinanya bahkan meninggalkannya. Tentu saja sangat berbeda dengan kisah Abu Utsman An Naisaburi yang menjaga perasaan istrinya ini. Bagaimana dengan Anda? Jagalah selalu perasaan sang istri, meskipun sikapnya kadang tak berkenan di hati. Bagaimanapun, Allah SWT telah memberikan wanita tersebut bagi kita.


Sumber Dari : http://log.viva.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Enam Tanda Kekuasaan Allah SWT kepada para Ashabul Kahfi .::



Kisah Ashabul Kahfi tentu tidak asing bagi umat muslim. Kisah ini bermula dari tujuh orang pemuda yang bersembunyi di dalam gua untuk menghindari Raja Dikyanus yang kejam. Dengan kuasa Allah SWT para pemuda ini mengalami tidur panjang hingga 309 tahun sehingga tidak ditemukan oleh pasukan.

Saat terbangun, mereka bingung karena kondisi zaman yang sudah berubah. Bahkan uang yang mereka miliki, saat itu sudah menjadi uang langka yang bernilai jual tinggi. Namun ajaibnya, tidak ada yang berubah dari fisik ketujuh pemuda ini.


Di siniah Allah SWT memberikan tanda-tanda kekuasaannya. Tanda-tanda yang tersembunyi tersebut hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang yang ditugaskan untuk melindungi mereka. Lalu, apa sajakah tanda-tanda kekuasaan Allah kepada para Ashabul Kahfi? Berikut informasi yang terangkum dari surat Al Kahfi dalam Al-qur'an.


Letak Gua Memudahkan Kehidupan Mereka

Tanda kekuasaan Allah SWT kepada Ashabul Kahfi yang pertama adalah letak gua yang memudahkan kehidupan mereka. Di dalam gua tersebut mereka terlindungi dari sengatan matahari di waktu pagi dan sore hari.

Ada Anjing yang Menemani dan Mendampingi Mereka

Ternyata Allah SWT juga memberikan anjing untuk menemani dan mendampingi mereka selama berada di gua tersebut. Ketika para Ashabul Kahfi masuk ke dalam gua, anjing tersebut berhenti di ambang pintu sambil menjaga mereka. Kemudian ini merengganggkan kedua lengannya, lalu tidak seperti mereka.

Teriknya Matahari Tidak Menimpa Mereka

Hal ketiga yang menjadi tanda kekuasaan Allah SWT kepada Ashabul Kahfi adalah teriknya sinar matahari tidak menimpa mereka. Allah SWT menjadikan matahari seolah-olah ia adalah makhluk yang berakal, sadar dan bijaksana.

Ketika terbit ia menjauhkan sinarnya dari para ashabul kahfi dengan condong ke arah kanan. Sebaliknya, ketika terbenam maka ia akan menjauhi mereka dengan bergerak ke kiri sedang para Ashabul Kahfi tersebut berada dalam tempat yang luas dari teriknya matahari di sekitar gua.

Tubuh Mereka Tidak Usang Walau Tidur dengan Waktu yang Lama

Seperti yang diketahui bahwa Allah SWT membuat tidur para Ashabul Kahfi selama 309 tahun. Namun, meskipun dalam jangka waktu tidur yang lama tersebut tidak membuat tubuh mereka menjadi usang. Bahkan bumi tidak memakan mereka, sesungguhnya Allah Ta’ala telah membalikkan mereka ke kiri dan ke kanan.

Apabila dibalikkan ke kanan, bagian kiri tubuh mereka dipakai untuk perputaran udara, demikian sebaliknya, sehingga tubuh mereka tetap selamat dan baik.

Tidak Ada Orang yang Menggoda Mereka

Karena tertidur terlalu lama tersebut, membuat tidak ada orang yang menggoda mereka. Allah SWT menjadikan pandangan mereka terhadap yang lain menakutkan, sehingga mereka akan melarikan diri dari pemuda gua itu, sehingga seolah-olah mereka terjaga dan bisa melihat, padahal mereka tidur nyenyak.

Allah Membangunkan Mereka dari Tidur yang Sangat Lama

Tanda kekuasaan Allah SWT yang terakhir kepada para Ashabul Kahfi adalah Allah membangunkan mereka dari tidur yang mencapai tiga ratus sembilan tahun.


Demikianlah informasi mengenai enam tanda kekuasaan Allah SWT terhadap para Ashabul Kahfi. Tidak ada hal yang tidak mungkin bila Allah sudah berkehendak.


Sumber Dari : http://log.viva.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS