RSS
Container Icon

::. Kisah Nyata : Surat Untuk Allah .::

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Pagi ini kubangun dengan cepat sebagaimana kebiasaanku.. walaupun ini hari libur, begitupula anakku Reem, terbiasa dengan bangun lebih pagi. Lalu Saya duduk di ruang kerjaku dan mulai menyibukkan diri dengan buku-buku dan lembaran-lembaran kertasku..

“Mama, apa yang kau tulis?”
“Saya menulis surat untuk Rabb, nak”
“Apakah kau mengizinkaku untuk membacanya mama?”
“Tidak anakku sayang, ini surat yang sangat special dan tidak kuizinkan siapa pun membacanya”

Kukeluarkan Reem dari ruang kerjaku, dan dia sangat sedih, namun kuyakin ia telah terbiasa dengan perlakuan ku itu, karena penolakanku bukan sekali ini saja tapi telah berulang kali. Berlalu beberapa pekan kejadian itu, hingga suatu hari Saya masuk ke kamar Reem dan dia sangat terkejut gugup dengan kedatanganku … Ada apa? mengapa ia seperti itu?

“Reem … apa yang sedang kau tulis?”
Kuliahat ia makin gugup dan menjawab “ Tidak mama … ini sesuatu yang spesial”

Apa gerangan yang telah dituliskan seorang anak sembilan tahun, dan ia khawatir untuk kuketahui??!!
“ Saya menulis surat untuk Rabb, sepertimu ….”

Ucapannya terputus tiba-tiba, lalu ia meneruskan “ tapi … apakah yang kita tulis ini akan sampai pada-Nya mama?
“Tentu anakku … sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu…”

Ia tetap tak mengizinkan ku membaca apa yang telah ditulisnya, Saya pun keluar dari kamarnya dan menemui suamiku Rasyid yang sedang sakit untuk membacakannya koran pagi sebagaimana biasanya, lisanku membaca baris demi baris isi koran namun fikiranku tak lepas dari anakku … ternyata Rasyid memperhatikan ekspresiku … dan menduga bahwa dirinya sebab kesedihanku … ia mencoba meyakinkanku untuk menghadirkan perawat untuknya … agar bebanku sedikit berkurang…

Ya Ilahi, sungguh Saya tak pernah berfikir demikian.. Kudekap dan kukecup kepalanya yang dipenuhi beban dan peluh karena memikirkan diri ini dan anaknya Reem .. dan membuatku turut bersedih hari ini.. lalu kusampaikan padanya sebab resah dan sedih ku …

Hari ini Reem kesekolah, dan ketika ia kembali kerumah, dokter sedang terburu-buru memeriksa Ayahnya yang sakit, ia pun duduk disamping ayahnya memberi semangat dengan penuh cinta. Sebelum Dokter beranjak pergi, ia menjelaskan kepadaku bahwa keadaan Rasyid semakin memburuk. dan seolah Saya lupa kalau Reem masihlah sangat kecil, hingga tanpa kasihan padanya Saya berterus terang bahwa hati ayahnya yang dipenuhi cinta untuk Reem kini telah melemah, dan ia hanya mampu bertahan hidup tidak lebih dari 3 pekan lagi. Hancur hati Reem, ia mulai menangis dan berkata :
“Mengapa semua ini menimpa Ayah? mengapa?”

“Doakanlah kesembuhan untuk Ayah Reem, kita harus melewati semua ini dengan tegar, dan tidak melupakan rahmat Allah, sungguh Dia Maha Kuasa atas segala yang terjadi .. dan kau sudah besar..”

Reem menyimak semua apa yang diucapkan Ibunya, berusaha menghilangkan kesedihannya, menepis jauh rasa sakitnya dan berusaha untuk tampak tegar, kemudian berkata : “ Ayah ku tak akan mati “

Setiap pagi Reem mencium pipi ayahnya yang hangat, namun pagi ini ia menciumnya dengan tatapan kasih penuh harap, dan berkata : “ Semoga suatu hari nanti kau bisa mengantarku seperti teman-temanku yang lain …” .

Ayahnya seketika diserbu keharuan dan kesedihan namun berusaha ia tutupi, ia berkata : “ InsyaAllah, akan datang hari dimana Saya akan mengantarmu Reem ..” dan ia yakin ucapannya barusan tak akan pernah mampu menyempurnakan kebahagiaan putri kecilnya.

Kuantar Reem kesekolahnya, dan setiba di rumah tiba-tiba rasa ingin tahu akan surat yang ditulis Reem untuk Allah muncul, maka kumencari dikamarnya, namun setelah pencarian yang panjang ku tak menemukannya. Dimana surat itu???! Apakah ia merobek setelah menulisnya??!

Hah… mungkin di kardus ini, kardus yang ia minta dariku berulang kali, maka kukosongkan dan kuberikan padanya.. Ya Ilahiy…kardus ini berisi surat yang sangat banyak… dan semuanya untuk Allah!

**Ya Rabb … Ya Rabb .. matikanlah anjing Sa’id tetangga kami …karena ia telah membuatku takut!!
**Ya Rabb … Biarkanlah kucing kami melahirkan anak yang banyak..menggantikan anak-anaknya yang banyak mati!!!
**Ya Rabb … Luluskanlah sepupuku … karena Saya mencintainya!!
**Ya Rabb … Jadikanlah bunga-bunga di kebun kami tumbuh dengan cepat … untuk Saya petik dan berikan ke guruku tiap harinya!!

Dan banyak lagi surat-surat yang lain, yang begitu lugu ia tuliskan dan surat terakhir yang kubaca berbunyi : ..
**Ya Rabb .. kuatkanlah akal pembantu kami .. agar tidak membebani ibuku ..

Ya Ilahi, semua suratnya telah terjawab, anjing tetangga kami telah mati lebih dari sepekan yang lalu, kucing kami pun telah melahirkan anak yang banyak, Ahmad telah lulus dengan nilai yang tinggi, bunga-bunga bermekaran dengan cepat, dan Reem memetiknya tiap hari untuk gurunya …

Ya Ilahi, mengapa Reem tak menuliskan surat dan memohon untuk kesembuhan Ayahnya dari sakit?? …!! Sedih bercampur bingung meliputi hatiku … belum juga reda sampai Saya dikagetkan deringan telpon, pembantu kami mengangkatnya lalu memanggilku, 
“ Nyonya … dari guru Reem ..”
“Iya, ada apa bu?ada apa dengan Reem?apa dia melakukan sesuatu?”

Ia menyampaikan bahwa Reem jatuh dari lantai 4 ketika ia membawakan bunga gurunya yang tidak hadir di sekolah hari ini.. ia menjulurkan kepalanya dari balkon.. bunganya terjatuh … dan ia pun terjatuh .. Pukulan yang sangat keras bagiku tak mampu kuberbuat apapun begitu pula Rasyid .. dan keterkejutan ini membuatnya tak mampu menggerakkan lisannya sejak hari itu.

“Mengapa Reem harus meninggal … Saya sungguh tak mampu memikirkan kematian putriku tercinta ..”

Dan kini seolah Saya menipu diriku sendiri dengan kesekolah Reem tiap pagi seperti mengantarnya, kukerjakan semua apa yang ia senangi untuk kulakukan, semua sudut rumah mengingatkanku padanya, senantiasa kuteringat suara tawa nya yang menghidupkan suasana di rumah ini .. beberapa tahun berlalu… namun terasa hanya beberapa hari saja … berjalan begitu lambat.

Pagi hari jum’at … tiba-tiba pembantu kami datang dan ia ketakutan berkata..bahwa ia mendengar suara berasal dari kamar Reem … Ya Ilahi, apakah masuk akal kalau Reem kembali?? ini gila ..

“Kamu mengkhayal ..” Saya belum pernah menginjakkan kaki di kamar ini sejak kematian Reem ..
Rasyid bersikeras agar Saya ke kamar Reem dan melihat ada apa disana ..

Kumasukkan kunci di pintu dengan hati was-was … kubuka pintu dan tak sanggup mengendalikan diri..Saya duduk dan terus menangis … kuhempaskan badanku di tempat tidurnya .. ahh … kenangan!!

Reem pernah menyampaikan berulang kali padaku kalau tempat tidurnya bergeser jika ia bergerak, dan mengeluarkan suara … dan Saya selalu lupa untuk memanggil tukang kayu untuk memperbaikinya … tak ada guna lagi sekarang …

Tapi, dari mana asal suara tadi … ya, itu suara dari jatuhnya lukisan ayat kursi yang ia hias karena sangat semangat membacanya tiap hari sampai ia menghafalkannya. .

Ketika Saya mengangkatnya untuk memasang kembali, Saya menemukan secarik kertas yang ia taruh dibelakang lukisan … Ya Ilahi, ini salah satu suratnya … Apa gerangan isi surat ini??!! dan mengapa Reem meletakkannya di belakang tulisan ayat mulia??!! surat ini salah satu dari surat-surat yang dituliskannya untuk Allah… dan di dalamnya tertulis :

**Ya Rabb … Ya Rabb .. Matikanlah Saya … dan hidupkanlah Ayahku…!!

======================

Kisah diatas pernah dikomentari oleh Syaikh Ayman as Samiy yang dituliskannya dengan tinta emas : 

Assalamu ‘alaikum .. Kisah ini Saya baca sekitar dua tahun yang lalu, dan Saya bersumpah demi Allah tak akan meneteskan air mata ketika membacanya. Tapi, Demi Allah Saya menuliskan komentar ini dengan air mata yang bercucuran.

Sungguh mereka adalah orang-orang yang berhati besar. Bersedia mati untuk menghidupkan orang lain. Apakah dunia ini menghargai mereka? Apakah seluruh manusia tahu bahwa ada orang yang bersedia terbakar untuk orang lain? dan ada orang yang bersedia mati untuk umat ini?



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Cobaan Untuk Suami yang di-Uji Isteri .::

(Ilustrasi)
John dan Jessica telah berumah tangga selama 7 tahun. Mereka saling mencintai, namun Jessica sejak awal menutupi semua perasaan cintanya terhadap John.. Ia begitu takut apabila John mengetahui betapa ia mencintai pria itu, John lantas meninggalkannya sebagaimana kekasih kekasihnya selama ini. Tapi tidak bagi John.. Ia selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Jessica dengan tulus dan begitu terbuka. Setiap saat ketika bersama Jessica, John selalu menunjukkan cintanya yang besar, seolah-olah itulah saat akhir John bersama Jessica.

Jessica selalu bersikap tidak menyenangkan terhadap John. Setiap saat dia selalu mencoba menguji seberapa besar cinta John terhadapnya. Jessica selalu mencoba melakukan hal-hal yang keterlaluan dan diluar batas kepada John. Meski Jessica tahu betapa hal itu sungguh salah, namun melihat sikap John yang tetap berlaku baik padanya, membuat Jessica tetap bertahan untuk melihat seberapa besar kesungguhan cinta pria yg dinikahinya itu.

Hari pertama pernikahan mereka. Jessica bangun siang. Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk John ketika John hendak berangkat kerja. Namun John tetap tersenyum dan mengatakan, “ Tidak apa-apa.. Nanti aku bisa sarapan di kantor..”

Saat John pulang dari kantor, Jessica tidak sengaja memasak makanan yang tidak disukai John. Meski menyadari hal itu, Jessica tetap memaksakan agar suaminya mau makan makanan itu. John tetap tersenyum dan berkata, ” Wah.. sepertinya sudah saatnya aku belajar menghadapi tantangan, Masakanmu sepertinya tantangan yang hebat, sayang.. Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya. ” Jessica terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam malam saat Jessica terlelap John memanjatkan doa, “Tuhan…. Di pagi pertama pernikahan kami Jessica tidak membuatkanku sarapan. Padahal aku begitu ingin bercakap-cakap di meja makan bersamanya sambil membicarakan betapa indah hari ini, di hari pertama kami menjalani kehidupan baru sebagai suami istri.. Tapi tidak apa-apa, Tuhan.. Karena sepertinya Jessica kelelahan setelah resepsi pernikahan kami tadi malam, Bantulah kekasih hatiku ini, Tuhan agar dia bisa punya tenaga yang cukup untuk menghadapi hari baru bersamaku besok.. Tuhan, Engkau tau betapa aku tidak bisa makan spaghetti karena pencernaanku yang tidak begitu baik.. Tapi sepertinya Jessica sudah bekerja keras untuk masak makanan itu.. Mampukan aku untuk menghargai setiap apa yang dilakukan istriku kepadaku, Tuhan.. Jangan biarkan aku menyakiti perasaannya meski itu tidak mengenakkan bagiku..”

Tahun kedua pernikahan mereka, John membangunkan Jessica pagi-pagi untuk berdoa bersama.. Namun Jessica menolak dan lebih memilih melanjutkan tidurnya. John tersenyum dan akhirnya berdoa seorang diri. Sore hari sepulang kantor, John mengajak Jessica berjalan-jalan ke taman.. Meski terpaksa, Jessica akhirnya mau juga ke tempat dimana dulu perasaannya begitu berbunga-bunga saat bersama John.. Tetapi Jessica menolak rangkulan John, dan berkata, “Jangan, John.. Aku malu.. ”John tersenyum dan berkata, “Ya, aku mengerti..” Jessica melihat kekecewaan dimata John, namun tidak melakukan apapun untuk menghilangkan kekecewaan itu..

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.. ” Tuhan.. Ampuni aku yang tidak bisa membawa istriku untuk lebih dekat padaMU pagi hari ini.. Mungkin tidurnya kurang karena pikirannya yang sedang berat.. Tapi aku yakin, Tuhan besok Jessica mau bersama-sama denganku bercakap-cakap kepadaMu.. Tuhan, Engkau juga tahu kesedihanku saat Jessica meolak kurangkul ketika ke taman hari ini. Tapi tidak apa-apa Dia sedang datang bulan, mungkin karena itu perasaannya juga jadi lebih sensitive. Mampukan aku untuk melihat suasana hati istriku, Tuhan. ”

Tahun ketiga pernikahan mereka. Mereka kini mempunyai seorang putera bernama Mark. Jessica menjadi tidak pernah lagi meneruskan kebiasaannya membaca bersama John sebelum tidur. Jessica semakin sering menolak ciuman John. Jessica memarahi John habis-habisan sore itu ketika John lupa mencuci tangan saat akan menggendong Mark ketika John pulang kerja.. Jessica tahu betapa hal itu membuat John terpukul.. Namun idealismenya terhadap mendidik Mark membuat Jessica mengabaikan perasaan John.. Dan John tetap tersenyum..

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.. “Tuhan, Engkau tahu betapa sedih hatiku saat ini.. Semenjak kelahiran Mark, aku kehilangan begitu banyak waktu bersama Jessica.. Aku merindukan saat-saat kami membaca bersama sebelum tidur dan menciuminya sebelum ia tertidur.. Tapi tidak apa-apa.. Dia begitu capek mengurusi Mark seharian saat aku bekerja di kantor.. Hanya saja, biarkanlah dia tetap terus tertidur dalam pelukanku, Tuhan …. Karena aku begitu mencintainya. Sore tadi Jessica memarahiku karena aku lupa mencuci tangan saat menggendong Mark, Tuhan.. Aku begitu kangen pada anakku sehingga teledor melakukan sebagaimana yang diminta istriku.. Engkau tahu betapa aku terluka akan kata-kata Jessica, Tuhan..Tapi tidak apa-apa.. Jessica mungkin hanya kuatir terhadap kesehatan anak kami Mark apabila aku langsung menggendongnya.. Kesehatan Mark lebih penting daripada harga diriku. ”

Tahun keempat pernikahan mereka. Jessica tidak ingat memasak makanan kesukaan John di hari ulang tahunnya.. Jessica terlalu sibuk belanja sehingga lupa bahwa John selalu minta dibuatkan Blackforest dengan taburan coklat dan ceri diatasnya setiap ulang tahunnya tiba. Jessica juga lupa menyetrika kemeja John yang menyebabkan John terlambat ke kantor pagi itu karena John terpaksa menyetrika sendiri kemejanya.. Jessica tau kesalahannya, namun tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hal yang penting.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.. “Tuhan, Untuk kali pertama Jessica lupa membuatkan Blackforest kesukaanku di hari ulang tahunku ini.. Padahal aku sangat menyukai kue buatannya itu. Menikmati kue Blackforest buatannya membuatku bersyukur mempunyai istri yang pandai memasak sepertinya, dan merasakan cintanya padaku.. Namun tahun ini aku tidak mendapatinya. Tapi tidak apa-apa.. Mungkin lebih banyak hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar Blackforest itu. Paling tidak, aku masih mendapatkan senyuman dan ciuman darinya hari ini. Ampuni aku, Tuhan apabila tadi pagi aku lupa tersenyum kepada Jessica.. Aku terlalu sibuk menyetrika bajuku dan memikirkan pekerjaanku di kantor.. Jessica sepertinya lupa untuk melakukan hal itu, meski aku sudah meminta tolong padanya tadi malam. Jangan biarkan aku melampiaskan emosiku karena dampratan atasanku
akibat keterlambatanku hari ini kepada Jessica, Tuhan.. Jessica mungkin keliru menyetrika kemeja mana yang seharusnya kupakai hari ini.. Lagipula, sepatuku begitu mengkilap.. Aku yakin Jessica sudah berusaha keras agar aku kelihatan menarik saat presentasiku tadi.. Terima kasih untuk kebaikan istriku, Tuhan. ”

Tahun kelima pernikahan mereka. Jessica menampar dan menyalahkan John karena Mark sakit sepulang mereka berenang.. John terlalu asyik bermain-main dengan Mark sehingga tidak menyadari betapa Mark sangat sensitive terhadap dinginnya air kolam renang, yang mengakibatkan Mark terpaksa dirawat dirumah sakit …. Jessica mengancam akan meninggalkan John apabila terjadi apa-apa dengan Mark.. Jessica melihat genangan air mata di mata John,namun kekerasan hatinya lebih menguasainya ketimbang perasaan John.

Tetapi Malaikat tahu betapa saat itu John lantas menuju ke Kapel rumah sakit dan memanjatkan doanya sambil menangis.. ”Tuhan.. Tadi Jessica menamparku karena kelalaianku menjaga Mark sehingga dia sakit.. Belum pernah Jessica bersikap dan berkata sekasar itu padaku, Tuhan.. Tapi tidak apa-apa.. Jessica benar-benar kuatir terhadap anak kami sehingga ia bersikap demikian.. Tapi Tuhan, aku begitu terluka saat ia mengatakan akan meninggalkanku. Engkau tahu betapa ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan hal itu terjadi, Tuhan.. Mungkin dia begitu dikuasai kekuatiran sehingga melampiaskannya padaku.. Tidak apa-apa,Tuhan.. Tidak apa-apa. Asal dia mendapat ketenangan, aku akan merasa bersyukur sekali.. Dan sembuhkanlah putera kami, Mark agar dia boleh kembali dapat ceria dan bermain-main bersama kami lagi, Tuhan.. ”

Tahun keenam pernikahan mereka. Jessica semakin menjaga jarak dengan John setelah kehadiran Rebecca, puteri mereka.. Jessica tidak pernah lagi menemani John makan malam karena menjaga puteri mereka yang baru berusia 5 bulan.. Jessica juga menjual kalung berlian pemberian John dan menggantinya dengan perhiasan lain yang lebih baru. Ketika John mengetahui hal itu, Jessica tau John menahan amarahnya, namun Jessica berdalih, “John, itu hanya kalung berlian biasa. Lagipula, aku bukan menjualnya, melainkan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru.. ”

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.. “Tuhan, Aku begitu kesepian melewatkan makan malam sendirian tanpa Jessica bersamaku.. Aku begitu ingin terus bercerita dan tertawa bersamanya di meja makan.. Engkau tau, itulah penghiburanku untuk melepas kepenatanku setelah seharian bekerja di kantor.. Tapi tidak apa-apa.. Rebecca tentu lebih membutuhkan perhatiannya daripadaku. Lagipula, Mark kadang-kadang mau menemaniku.. Hanya saja, jangan biarkan aku memendam sakit hati kepada Jessica karena menjual kalung pemberianku.. Engkau tau begitu lama aku menabung dan bekerja ekstra demi menghadiahinya kalung itu, hanya untuk membuktikan terima kasihku padanya atas kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Ampuni aku apabila tadi aku sempat berpikir untuk marah padanya.. ”

Tahun ketujuh pernikahan mereka.. Jessica sama sekali tidak mengindahkan kebiasaannya membelai kepala John dan mencium kening suaminya sebelum John berangkat kantor.. Padahal Jessica tau, selama ini apabila dia lupa melakukannya, John selalu kembali kerumah siang hari demi mendapatkan belaian dan ciuman Jessica untuknya.. Karena John tidak akan pernah tenang bekerja apabila hal itu belum dilakukan Jessica padanya.. Jessica tidak mengucapkan I LOVE YOU untuk kali pertama dalam 7 tahun pernikahan mereka..

Dan ditahun ketujuh itu pula, John mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke kantor.. Ia mengalami pendarahan yang hebat yang membuatnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.. Jessica begitu terguncang dan terpukul.. Ia begitu takut kehilangan John, suami yang dicintainya.. Yang selalu ada kapan saja dia butuhkan.. Yang selalu dengan tersenyum menampung semua emosi dan kemarahannya. Yang tak pernah berhenti mengatakan betapa John mencintainya. . Tak sedikitpun Jessica beranjak dari sisi tempat tidur John.. Tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri.. Bibirnya terus mengucapkan I LOVE YOU, karena ia ingat kalau ia belum mengatakan kalimat itu hari ini..

Karena begitu sedih dan lelah menunggui John, Jessica tertidur..Dalam tidurnya, malaikat yang selama ini mendengar doa-doa John pada Tuhan membawa Jessica melihat setiap malam yg John lewatkan untuk mendoakan Jessica.. Ia menangis sedih melihat ketulusan dan rasa cinta yg besar dari John padanya.. Tak sedikitpun John menyalahkannya atas semua sikapnya yang tidak mempedulikan perasaan dan harga diri John selama ini.. Alih-alih demikian, John malahan menyalahkan dirinya sendiri.. Jessica menangis menahan perasaannya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Jessica berdoa, “Tuhan, ampuni aku yang selama ini menyia-nyiakan rasa cinta suamiku terhadapku. Ampuni aku yang tidak memahami perasaan dan harga dirinya selama ini.. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada suamiku, Tuhan.. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan melayaninya sebagai suami yang kucintai.. ” 

Dan ketika Jessica terbangun, Ia melihat pancaran kasih suaminya menatapnya.. ”Kamu keliatan begitu lelah, sayang.. Maafkan aku yang tidak berhati-hati menyetir sehingga keadaannya mesti jadi begini dan membuatmu kuatir.. Aku tidak konsentrasi saat menyetir karena memikirkan bahwa kau lupa mengatakan I LOVE YOU padaku. Belum selesai John berbicara, Jessica lantas menangis keras dan menghambur ke pelukan suaminya.. 

“Maafkan aku, John..Maafkan aku.. I LOVE YOU.. I really Love you.. Kaulah matahariku, John.. Aku tidak bisa bertahan tanpamu.. Aku berjanji tidak akan pernah lupa lagi mengatakan betapa aku mencintaimu.. Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan perasaan dan harga dirimu lagi.. I LOVE YOU, John.. I LOVE YOU. ”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Taubatnya Seorang Ibu di Tangan Anaknya .::

Empat tahun yang silam salah seorang ahli ilmu yang bernama Syaikh Ali al-Hindi meriwayatkan kisah nyata berikut ini kepada Syaikh Abdurrahman al-Makki, seraya mengatakan:
Taubat (Ilustrasi)
Ada seorang ibu yang merasa geram terhadap putrinya kerena ia tidak lagi seperti dulu dalam menghormati para tamu. Pekan ini, ia tidak menghormati tamu-tamu ibunya. Sang ibu merasa terheran-heran karena putrinya adalah seorang gadis yang multazimah, kuat beragama.
Di hari terakhir dari pekan ini sang gadis duduk ketika ibunya menyambut tetangganya yang datang berkunjung. Hampir saja sang ibu pingsan ketika melihat anaknya tetap terpaku duduk tidak bergerak dari tempat duduknya; tidak berdiri untuk menyambut tetangganya yang baik hati lagi mulia. Lebih-lebih ketika tetangga itu mendekati si putri sambil mengulurkan tangannya. Akan tetapi sang putri Fatimah namanya, pura-pura tidak tahu dan tidak menyambut uluran tangan tetangganya. Ia membiarkan saja sang tetangga berdiri beberapa saat sambil mengulurkan tangannya didepan ibunya yang geram dan kebingungan. Hingga ibunya berteriak: “Berdiri! Dan jabat tangannya!” Sang putri hanya membalas dengan pandangan ketidak pedulian tanpa bergeser sedikitpun dari tempat duduknya seolah-olah ia tuli tidak mendengar kata-kata ibunya.
Sang tetangga merasa sangat tidak enak terhadap kelakukan sang putri dan ia menganggap bahwa kehormatannya telah diinjak-injak dan dihina. Maka segera ia menarik tangannya kembali dan berbalik ingin segera pulang kerumahnya sambil mengatakan: “Sepertinya, saya mengunjungi kalian pada waktu yang tidak tepat.”
Disini sang putri tiba-tiba meloncat dari tempat duduknya dan memegangi tangan tetangganya lalu mencium kepalanya sambil mengatakan: “Maafkan saya, demi Allah saya tidak bermaksud berbuat buruk kepadamu.” Sang putri menuntun tangannya dengan lembut penuh dengan rasa sayang dan penghormatan dan mengajaknya duduk seraya mengatakan: “Tahukah engkau wahai bibi, betapa saya mencintaimu dan menghormatimu.”
Sang putri berhasil menenangkan perasaan tetangganya dan menghapus goresan yang telah melukai hatinya karena sikapnya yang aneh dan tidak terfahami. Sementara sang ibu menahan amarahnya jangan sampai termuntahkan dihadapan putrinya.
Sang tetanggapun berpamitan untuk pulang dan sang putri segera bangkit mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinnya memegangi tangan kanan tetangganya agar tidak mengulurkannya kepadanya. Dia mengatakan: “Seyogyanya tangan kanan saya harus tetap terulur tanpa engkau mengulurkan tanganmu kepadaku agar saya dapat melunasi keburukan apa yang telah aku perbuat terhadapmu.” Akan tetapi sang tetangga langsung mendekap sang putri kedadanya dan menciumi kepalanya seraya mengatakan: “Tidak apa-apa anakku, karena kamu telah bersumpah bahwa kamu tidak bermaksud buruk kepadaku.”
Begitu sang tetangga meninggalkan rumah, sang ibu langsung menegur putrinya dalam kemarahan yang tertahan: “Mengapa kamu bertindak seperti ini?” Fathimah menjawab: “Saya tahu kalau saya menyebabkan ibu merasa tidak enak seperti ini, maafkan saya ibu.” Ibunya bertanya: “Ia mengulurkan tangannya kepadamu, tetapi kamu tetap duduk tidak berdiri, dan tidak menjabat tangannya?!” Putri menjawab: “Engkau wahai ibu, juga melakukan yang demikian!” Ibu berteriak dengan penuh rasa heran: “Apa? Aku melakukannya?!” Ia menjawab: “Ibu melakukannya siang dan malam.” Ibunya semakin marah terheran-heran: “Apa? Aku melakukannya siang dan malam?” Ia menjawab: “Betul bu, Dia menjulurkan tangannya kepada ibu, tapi ibu tidak pernah menjabat tangan-Nya.” Ibunya semakin marah tidak faham: “Siapa yang mengulurkan tangan-Nya kepadaku dan aku tidak menyambutnya?!” Fathimah menjawab: “Allah bu, Allah yang Maha Suci mengulurkan tangan-Nya kepada ibu di siang hari agar ibu bertaubat, dan Dia mengulurkan tangan-Nya kepada Ibu di malam hari agar ibu bertaubat, akan tetapi ibu tidak mau bertaubat. Ibu tidak mengulurkan tangan kepada-Nya.” Ibu terdiam. 
Ucapan putrinya membuatnya terperanjat dan tertegun. Sang putri melanjutkan perkataannya: “Bukankah ibu merasa bersedih, ketika saya tidak mengulurkan tangan untuk menjabat tetangga kita? Dan ibu khawatir jika dia berpresepsi buruk kepadaku? Saya wahai ibu, merasa bersedih setiap hari ketika mendapati ibu tidak mengulurkan tangan untuk bertaubat kepada Allah yang Maha Suci yang mengulurkan tangan-Nya kepada ibu di siang hari dan di malam hari. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih:
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتىَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya dimalam hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan di malam hari hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.” (HR. Muslim)
Apakah engkau mengetahui wahai ibu, Tuhan kita membentangkan tangan-Nya kepada ibu dua kali dalam setiap hari sementara ibu tetap menggenggam tangan tidak menyambut tangan-Nya dengan taubat.” Maka berlinanglah kedua mata sang ibu. Sang putri melanjutkan ucapannya, semakin menajamkan nasihatnya: “Saya sangat mengkhawatirkan ibu, ketika ibu tidak shalat, karena pertama kali yang akan ditanyakan kepada ibu di hari kiamat adalah shalat. Saya sangat bersedih ketika melihat ibu keluar dari rumah tanpa menutup aurat yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah ibu merasa tidak enak ketika melihat tindakanku terhadap tetangga kita? Saya wahai ibu sangat merasa tidak enak dihadapan teman-temanku ketika mereka mempertanyakan kepadaku tentang keluarnya ibu tanpa hijab dan tanpa memperhatikan aturan-aturan agama sementara saya adalah gadis yang berhijab.” Maka air mata taubat semakin deras mengalir membasahi kedua pipi sang ibu dan putripun ikut menangis karena tidak bisa menahan rasa harunya melihat ibunya memperhatikan nasihat dan menerima kebenaran. Maka iapun bangkit dan memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang yang amat dalam. Sementara ibunya dengan isak tangisnya mengatakan: “Aku bertaubat kepada-Mu ya Rabb… Aku bertaubat kepadamu ya Rabb…” 

Oleh karena itu wahai para ibu, wahai para bapak, wahai para gadis, wahai para pemuda bertaubatlah kepada Allah. Allah mengetahui keadaan kalian. Allah mengetahui apa yang tersirat dalam hati kalian. Dan Allah menunggu taubat kalian. Dan Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat. Maka, apakah kita bertaubat kepada-Nya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ
“Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain daripada Allah?” (QS. Ali Imran: 135)

Sumber Dari : http://enkripsi.wordpress.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Tewasnya Musuh Islam - Umayyah bin Khalaf .::

Pada Perang Badar, Allah SWT telah memuliakan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang yang dianiaya olehnya. Dia menjadi tuan, Maha benar Allah tatkala berfirman,
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5)
Perang Badar (Ilustrasi)
Adapun Umayyah bin Khalaf, kesudahannya adalah akhir kehidupan paling buruk dan paling mengerikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melemparkan bangkai kaum musyrikin ke dalam sumur Badr, hanya saja Umayyah adalah orang yang gemuk, dia membengkak seketika itu juga. Tatkala akan diceburkan ke sumur dagingnya mengelupas, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Biarkanlah dia.” Lantas mereka membiarkannya di tempatnya dan menimbuninya dengan tanah, hingga terpendam. 
Rasulullah SAW melaknat mereka saat beridiri, sambil menyebut nama-nama mereka seraya berkata, “Apakah kalian telah mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian?!”

Sungguh indah, apa yang diungkapkan penyair Rasulullah SAW yaitu Hassan bin Tsabit dalam menggambarkan orang-orang yang dimasukkan ke sumur, dia berkata dari sebuah syair yang panjang. Kami pilih darinya bait-bait berikut ini:
Rasulullah memanggil mereka ketika kami melempar bangkai mereka secara bersama-sama ke dalam sumur. Bukankah kalian mendapati perkataanku benar dan siksa Allah menyentuh sampai ke hati. Mereka bisu, seandainya mereka berucap niscaya akan mengatakan. Engkau benar dan engkau pemilik ide yang jitu.

Orang kuffar Quraisy kembali ke Mekah dalam keadaan murung penuh dengan kesusahan serta kekalahan yang telak. Yang pertama kali tiba dengan membawa kekalahan kaum musyrikin dan bencana mereka, adalah al-Husaiman bin Abdillah al-Khuza’i, dialah yang menyesali terbunuhnya orang-orang terhormat Quraisy seraya berkata, “Utbah telah terbunuh, demikian pula Syaibah, Abu Jahal, dan Umayyah. Kemudian dia menyebut-nyebut para petinggi itu.”

Shafwan bin Umayyah bin Khalaf berkata, sedang dia duduk dalam kamar bersama sekelompok orang dari Quraisy, “Demi Allah orang ini tidak berakal, hatinya telah terbang. Tanyakanlah kepadanya tentang aku, sesungguhnya aku mengira dia akan menyebutku.”

Sebagian mereka berkata kepada al-Husaiman, “Apakah engkau mengetahui berita tentang Shafwan bin Umayyah dan apa yang dilakukannya?”
Dia menjawab, “Ya, dia sedang duduk di kamar. Sungguh aku telah melihat bagaimana ayahnya Umayyah bin Khalaf dan saudaranya saat keduanya dibunuh.”
Demikianlah Allah SWT telah menghinakan Umayyah, kabar kematiannya telah sampai kepada keluarganya. Dia adalah orang yang hina saat hidup dan ketika mati.

Al-Halabi rahimahullah menyebutkan dalam buku sejarahnya, “Telah sampai penghinaan ucapan laknat kepada Umayyah bin Khalaf melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah hijrah ke Madinah, karena Umayyah merupakan penyebab gangguan Rasul tercinta dan para sahabatnya yang mulia, yaitu orang-orang yang tertimpa sakit dan demam di awal hijrah mereka. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabi’ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengeluarkan kami dari tempat tinggal kami, ke tempat yang berwabah.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Umayyah bin Khalaf dan sekelompok kaum musyrikin tatkala mereka menyiksa Beliau di Mekah. Mereka semua terbunuh di Badr, karena itu di hari Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas sumur seraya mengajak mereka berbicara dengan menyebut nama-nama mereka, “Wahai ‘Utbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, wahai Umayyah bin Khalaf, wahai Abu Jahal bin Hisyam.” Beliau menghitung mereka seraya bersabda, “Apakah kalian mendapati apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Rabbku benar terjadi (kemenangan).”

Ya, Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, janji Allah Subhanahu wa Ta’ala benar adanya. Umayyah bin Khalaf memperoleh kehinaan sebagai imbalan atas apa yang diperbuat oleh kedua tangannya, Dia menjadi salah satu penghuni Neraka.

Gembong kekufuran, Umayyah bin Khalaf, salah seorang pemilik hati yang keras dari kalangan musyrikin Quraisy, termasuk  salah seorang yang berbuat keonaran dan kerusakan di muka bumi dan merusak hubungan antar sesama manusia. Jelas bagi kita perjalanan hidupnya, tidak tersisa celah dari kesempatan untuk mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan Umayyah adalah salah seorang yang paling berperan di kalangan orang-orang yang berbuat kejam baik dengan perkataan maupun perbuatan. Maka dia layak menerima siksa paling berat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia. Dan di akhirat lebih pedih dan kekal serta lebih dahsyat.

Bagi orang yang menelusuri pemikiran Umayyah dan kejiwaannya, dia akan melihat Umayyah meliuk-liuk dalam hal harta yang hina sebagai bahan pertumbuhannya, dan berkembang pemikirannya. Dia mengira bahwa harta dan kedudukan, merupakan tonggak kehidupan dan tambatan kemuliaan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Umayyah bin Khalaf al-Jumahi mengajak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada perkara yang dibencinya, menjauhkan diri dari orang-orang miskin dan mendekati para pembesar Mekah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami.” (QS. Al-Kahfi: 28), maksudnya kami tutup hatinya dari menerima tauhid.
“Serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi: 28), maksudnya syirik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan sejumlah ayat yang mulia berkenaan dengan Umayyah, memperingatkan sifatnya yang tercela, mengancamnya dengan neraka. Alangkah buruknya neraka sebagai tempat kembali. Kemudian menyebut sebagian sifat yang menjadikannya termasuk penghuni neraka.

Di dalam surat Al-Lail firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 14-16)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati Umayyah, bahwa dia orang yang plaing melarat, karena dia mendustakan Alquran dan berpaling dari ketaatan terhadapnya. Sebagaimana dia mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpaling dari keimanan kepadanya, bahkan menghalanginya dan mengganggu orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifatinya (orang yang paling celaka), mengkhususkan baginya siksa yang menyala-nyala dan api neraka paling panas. 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata tatkala menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Tidak ada yang masuk ke dalamnya, kecuali orang yang paling celaka.”
“Orang yang paling celaka adalah Umayyah bin Khalaf dan yang semisalnya dari orang-orang yang mendustakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelumnya.”
Di tempat lain dalam Alquran al-Karim, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan sifat tercela lainnya yang ada pada Umayyah, semuanya menunjukkan keburukannya dan sifat pengecut serta kesewenang-wenanganannya. Dia tukang mengumpat, memfitnah, dan mencela. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surat al-Humazah yang menjanjikan baginya api neraka yang menyala-nyala. 
 “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (QS. Al-Humazah: 1-9)
Sekumpulan ulama tafsir dan para penulis sejarah menyebutkan, surat ini turun berkenaan dengan Umayyah bin Khalaf.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Utsman dan Ibnu Umar, keduanya berkata: (Mengenai ayat ini)
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
“Kami senantiasa mendengar bahwa (ayat inI) turun karena Umayyah Khalaf.”

Ibnu Ishaq rahimahullah berkata, “Umayyah bin Khalaf, apabila dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia mengumpat dan mencelanya.”
Mengenai makna Al-Humazah dan Al-Lumazah terdapat banyak pendapat:

Al-Humazah adalah orang yang suka mencari aib, orang yang suka mencari cela manusia dan menghina di depan yang bersangkutan. Al-Lumazah adalah orang yang suka mencela, menjelakkan nasab manusia dan menghina di belakang yang bersangkutan.

Sebagian besar para tabi’in serta fuqaha di kalangan mereka, seperti al-Hasan al-Bashri, Mujahid bin Jubair –atau Jabr- dan Atha bin Abi Rabah rahimahullah berkata, “Al-Humazah adalah yang mencela, menuduh seseorang di depan orangnya. Al-Lumazah adalah yang mencela seseorang saat dia tidak ada (menggunjing).”

Inilah sifat tercela yang ada pada diri Umayyah bin Khalaf, selain mencela dan mengumpat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pun mencerca manusia dan mencari aib mereka, saat berhadapan maupun tatkala berjauhan, ialah akhlak terendah, karenanya dia dibalas –selain dengan kekufurannya- Neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyala-nyala yang disediakan untuknya dan orang-orang sepertinya, yakni mereka yang melukan pelanggaran, melampui batas dan durhak terhadap perintah Rabb mereka, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menzhalimi seorang pun.


Sumber Dari : http://kisahmuslim.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS