RSS
Container Icon

::. Disaat Aku Gagal Menikah .::

Dengan hati yang tulus dan tenang, kubagikan kisahku ini. Sebut saja namaku Ridang. Semoga kisah tentang kegagalan pernikahanku ini bisa menjadi cahaya lilin bagi hati yang meredup karena kehilangan cinta seorang kekasih.


Aku adalah seorang karyawati di rumah sakit swasta di kota “S”. Di antara segala kesibukan bekerja di rumah sakit dan rutinitas di asrama, aku masih menyempatkan diri untuk bergabung dalam kelompok paduan suara. Aku menyanyi untuk acara-acara pernikahan di gereja. Aku bersyukur dikaruniai bakat untuk menyanyi ini. Banyak pengalaman positif yang kudapatkan dengan bergabung dalam kelompok paduan suara .

Sebagai seorang wanita berusia 25 tahun, aku mempunyai seorang kekasih. Dia bekerja di bidang pelayaran. Sekian lama kami menjaga hubungan cinta dan bersikap saling percaya meski jarak sering memisahkan. Selama beberapa tahun pula kami berusaha untuk saling mengenal dan menjalin kasih sayang hingga suatu ketika kami memutuskan untuk menikah. Semua persiapan pernikahan mulai dari pernak-pernik kecil kecil hingga rencana pertemuan keluarga sudah kami bicarakan bersama.

Selain bekerja, aku juga mengikuti kursus rias pengantin. Tentu wajar jika aku ingin membuat acara pernikahanku terasa sangat istimewa. Aku ingin menikah dengan mengenakan gaun pengantin nuansa Eropa yang berwarna putih dan panjang. Aku ingin mendesain sendiri gaun pengantinku. Tetapi ternyata calon suamiku meminta kami memakai pakaian adat Jawa tengah. Apa boleh buat, aku mengalah dan tidak ingin berdebat hanya karena masalah gaun pengantin.

Aku mendatangi salah satu penjahit dan butik langgananku. Sebuah busana pengantin jawa telah siap dan tinggal menunggu waktu untuk segera dikenakan. Sambil mempersiapkan banyak hal yang berkaitan dengan rencana pernikahan kami, kami berdua sebagai calon pengantin harus mendaftarkan diri untuk ikut kursus persiapan perkawinan di gereja. Aku mendaftarkan nama kami untuk mengikuti kelas kursus calon pengantin. Dalam kursus itu, kami akan diberi banyak bekal persiapan tentang hidup berkeluarga, bagaimana mengenal pasangan lebih jauh, dan penyelidikan dari gereja tentang kelayakan untuk sah atau tidaknya perkawinan kami.

Pada awalnya, kami berdua begitu bahagia dan tak sabar ingin segera mengikuti kursus persiapan perkawinan itu. Tapi entah mengapa sebabnya, secara perlahan calon suamiku semakin sulit dihubungi. Aku mulai putus asa tapi tetap berusaha berpikir positif. Hingga akhirnya aku mengunjungi adik calon suamiku yang kebetulan satu kota denganku. Dari adiknya aku tahu bahwa kekasihku berpaling pada wanita lain. Rasanya aku tidak perlu menceritakan detailnya. Namun, yang pasti hati dan perasaanku hancur berkeping-keping. Tanpa kabar berita dia hilang begitu saja.

Setelah mendapat beberapa informasi yang cukup dapat kupercaya, aku sudah tidak berharap banyak tentang rencana pernikahanku dengannya. Bahkan aku tidak mampu untuk menangis karena rasanya hatiku telah mati rasa. Rasanya dada ini sesak dan bebanku terasa berat. Aku ingin menangis tetapi tidak setitik pun airmata keluar. Aku mengunjungi seorang biarawati di biara dan berharap dengan bercerita padanya, aku bisa menangis dan merasa lega. Kenyataannya, justru biarawati itu yang menangis terharu padaku.

Cukup lama aku tidak bisa menangis. Pada suatu hari seorang teman paduan suaraku sedang menyanyi lagu ”Hadapilah dengan Senyum” dan tanpa aku sadari, tangisku tiba-tiba meledak. Aku tidak mampu menahannya lagi. Aku dipeluk oleh sahabatku. Sepotong syairnya berbunyi seperti ini ”bila bebanmu terlalu berat, hadapilah dengan senyum. Bila dunia mengecewakan, hadapilah dengan senyum. Tuhanlah bentengmu, janganlah kau bimbang akan semuanya hadapilah dengan senyum" dan seterusnya.

Aku harus berjuang dengan segala cara untuk tetap dapat tersenyum walau hati ingin menjerit dan menangis. Terlebih lagi, tak lama kemudian aku mendengar kekasihku menikah dengan wanita lain. Adiknya datang menemuiku untuk menyampaikan permintaan maaf. Bahkan dia juga tidak ingin menghadiri pernikahan kakaknya. Satu-satunya hal yang mampu membuatku bertahan adalah doa. Ketika aku merasa dunia sudah runtuh, rasa malu pada teman - teman, dan bingung akan pertanyaan dari orang tuaku mengapa aku batal menikah, aku hanya bisa berdoa. Beruntung salah satu kakakku sangat mengerti keadaanku dan dia yang menjelaskan semua pada orang tuaku.

Pada waktu peristiwa itu terjadi, aku sedang aktif dalam kelompok paduan suara di gereja, terutama untuk mengisi suara sebagai solis atau penyanyi tunggal. Profesionalisme sebagai penyanyi harus bisa membuatku tegar. Dengan hati berkeping-keping kususun nada demi nada false dalam irama hidupku. Aku harus bangkit. Aku harus kuat. Aku ingin bangkit menjadi sepotong hati yang tegar walau batal menikah.

Semua sahabat paduan suara sangat mengerti tentang peristiwa batalnya rencana pernikahanku. Aku bahkan diijinkan untuk tidak usah menyanyi dulu hingga hatiku tenang lagi. Namun aku menolak. Aku harus tetap menyanyi. Jadwal acara menyanyi tak akan kuubah.

Pada saat pertama kali aku menyanyi lagu The Wedding dalam pernikahan salah satu temanku pada masa sulitku itu, sahabat-sahabatku menangis. Mereka menitikkan airmata haru melihatku begitu syahdu mengalunkan lagu pengiring pengantin masuk ke gereja menuju altar suci untuk diberkati. Sungguh ini sebuah keajaiban Tuhan. Aku begitu tegar menyaksikan pasangan pengantin masuk ke gereja menuju altar dengan gaun pengantin nuansa Eropa yang cantik itu. Hingga bait terakhir lagu berhasil kunyanyikan dengan sempurna dan penuh perasaan.

Tanpa terasa aku telah melewati masa sulit ini. Siapakah yang dapat bertahan jika bukan karena kebesaran Tuhan? Tuhan telah mengajakku bercanda rupanya. Ketika aku sedang meratapi kepergian kekasih yang membatalkan pernikahan kami, malah aku diberi semangat untuk terus bernyanyi bagi banyak pasangan pengantin. Ya, ini berarti aku harus mampu miliki hati yang tegar.

Suatu hari, aku mendapat telepon dari mantan kekasihku, dia mengatakan minta maaf karena telah meninggalkan aku. Aku tidak menaruh dendam sedikitpun dan memaafkan keadaannya. Bahkan aku mendoakan kebahagiaannya. Ketika ia menghubungi aku, mantan kekasihku ini mengalami kecelakaan dan tidak bisa berjalan. Pada saat yang sama istrinya meninggalkan dia.

Aku hanya bisa berdoa agar dia dapat segera pulih dan sembuh seperti sediakala. Tetapi maafkan aku Tuhan karena aku tak mungkin kembali padanya. Dia sudah sembuh dari kecelakaan tersebut, namun dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tak menemukan kebahagiaan.

Aku berdoa agar semua dosa dan kesalahannya diampuni Tuhan. Dia tetap sahabat yang terbaik dalam hidupku. Kini aku boleh mengucap syukur dan membagikan kebahagiaan. Tanpa kuduga cinta sejatiku akhirnya datang. Betapa indahnya rencana Tuhan. Semua diatur indah pada waktunya. Waktu yang tepat sesuai rencana-Nya. Aku telah menemukan seorang kekasih yang mencintaiku dengan luar biasa dan yang membangun kembali reruntuhan puing-puing harapan tentang istana cintaku. Tuhan, terimakasih untuk semua ini. Kubagikan kisahku ini agar menjadi pelita hati, percayalah dunia belum berakhir hanya karena engkau tidak jadi menikah..


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Surat Tanpa Alamat : Dari Anak Untuk Ibunya Yang Telah Meninggal .::


5 tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.

Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ketempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras.

Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!

Aku membuka selimut dan…disanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Ya Allah..! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat.

“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya … Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya … Saya minta maaf Ayah … “

Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur.

Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun… belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal…. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira.

Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.

Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Ayah”. Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin,dan hari raya idul fitri pun telah tiba. tapi astagfirulloh, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bias menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Ayah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya? Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”

Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ….

Aku bilang pada anakku, “Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada ibu. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur…

Ibu Sayang,
Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara “pertunjukan bakat” disekolah, dan mengundang semua Ibu untuk hadir dipertunjukkan tersebut. Tapi Ibu tidak ada,,, Jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu Ayah tentang hal ini karena aku takut Ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk didepan computer dan mulai main game disalah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku, Ayah marah. Dan aku hanya bisa diam. Ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Ibu,,, setiap hari saya melihat Ayah merindukanmu. Setiap kali dia teringat padamu, Ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis dikamarnya.
Saya piker kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi ibu,,, Aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah Ibu muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan mengingat Ibu? Temanku bilang, jika kau tertidur dengan photo orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul? 

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa terhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh isteri saya...


Sumber Dari : http://i-am-proud-to-be-a-moslem.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Princess : Kisah Tragis Puteri Kerajaan Arab Saudi .::

Bagaimanakah rasanya menjadi seorang putri di lingkungan kerajaan yang hartanya melimpah ?, bagaimanakah rasanya menjadi salah seorang anak perempuan keluarga kerajaan yang salah satu kotanya menjadi tujuan untuk beribadah? senang, bangga, bahagia atau...merana..? ikutilah ceritanya karena Sultana sang putri menceritakan kisah hidupnya kepada Jean sahabatnya, penulis buku ini.

Orangtua Sultana adalah anggota kerabat kerajaan  Saudi  Arabia, sebuah negeri yang dikendalikan oleh kaum laki-laki karena di negeri ini perempuan tidak mempunyai suara sama sekali. Putri Sultana (ini adalah nama samaran  karena takut membahayakan diri dan  keluarganya) adalah anak paling kecil dari 10 bersaudara dari istri pertama ayahnya,  ibunya adalah istri pertama dari empat orang istri ayahnya. Saking kayanya sang suami membuatkan 4 istrinya masing-masing 4 istana, yang berada di : Riyadh, Jeddah, Thaif dan Spanyol, semua istana itu persis sama bentuk, warna maupun  isinya, semua sesuai selera sang suami.

Walaupun dilimpahi harta, seumur hidupnya Sultana mendambakan kasih sayang sang ayah yang tak kunjung didapatkan hanya karena dia seorang perempuan. Sejak kecil Sultana merasakan perbedaan perlakuan ayahnya  kepada diri dan sesama saudara perempuan dengan  Faruq  kakak laki-laki yang diperlakukan sangat berlebihan  oleh seluruh keluarga terutama oleh ayahnya. Sultana tumbuh menjadi anak berjiwa pemberontak dan selalu ingin memperdaya Faruq yang sering bertindak sewenang-wenang.

Perlakuan kepada anak-laki-laki  sangat istimewa  apalagi mereka adalah keluarga kaya raya, apapun yang diinginkan pasti akan diperoleh  hal ini mengakibatkan  si anak  besar  kepala , selalu merasa benar dan  sejak dini sudah  merasa lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan.

Ketika Faruq berusia 14 tahun dia sudah dibelikan 4 (empat) mobil porche oleh ayahnya.  Segalanya dapat diperolah dengan mudah. Banyak diantara pemuda-pemuda  negri  ini  berpenampilan alim  tapi ternyata  mereka adalah kolektor buku-buku ‘dewasa’, dan ketika bepergian ke luar negri ( hampir setiap saat dengan mudah mereka bisa pergi ke luar negri ) mereka akan berpesta alkohol  dan sex, yang lebih ‘ajaib’  tempat / nama perempuan yang bisa ‘dipakai’ itu direkomendasikan  oleh AYAHNYA ! Dan walaupun para lelaki ini sudah sering 'bermain' dengan perempuan-perempuan yang sering mereka maki dan cemooh sebagai pelacur tapi untuk  istri  haruslah seorang  perawan tulen.

Sebaliknya perlakuan terhadap anak-anak perempuan sangat berbeda, mereka harus selalu mengalah kepada saudara laki-laki bahkan yang menyakitkan sang ayah pun hampir tak pernah menyapa mereka. Ketika masih anak-anak mereka masih leluasa bermain walaupun jika ada mainan atau barang yang diminati oleh saudata lelaki mereka harus mengalah, namun ketika mulai masa haid pertama mulailah  diterapkan berbagai aturan yang ketat,  cara berpakainpun berubah yakni harus mengenakan abaya (baju longgar hitam yang menutupi seluruh tubuh) dan muka ditutupi cadar,untuk bersekolah dipersulit, tidak boleh bepergian sendiri apalagi menyetir mobil sendiri..hukumnya haram. 


Sejak saat itu pula mereka dipersiapkan untuk segera menikah, tinggal menunggu perintah ayahnya yang segera mencarikan jodoh diantara para kerabat, terkadang dengan pertimbangan keuntungan  bisnis, tidak jarang gadis yang masih belasan tahun ini mendapat jodoh sebagai istri kesekian dari seorang laki-laki yang sudah seumur ayah atau kakeknya.

Begitupun para istri tidak bisa bebas bergerak, sumber berita hanya diperoleh dari para suami. Beruntung bagi keluarga kaya seperti  mereka yang  dikelilingi oleh para pembantu maka tidak ada pekerjaan  atau kegiatan yang bisa mereka lakukan selain berbelanja, berpesta dengan baju-baju  dan perhiasan mewah  ( dipakai dalam abaya dan abaya itu dilepas ketika sesama perempuan berkumpul ) dan tentunya bergosip  tiada henti.

Bagi perempuan yang dilimpahi kekayaan tapi tanpa aktifitas maka rasa kejenuhan sudah menjadi persoalan nasional.

Sultana  menikah sekitar thn 1973 ketika dia berumur 16 tahun dengan Karim salah seorang kerabat kerajaan yang kaya. Nasib Sultana lebih beruntung dibandingkan dengan perempuan-perempuan disekitar nya , bahkan dibandingkan dengan  Sara kakak perempuan terdekatnya yang menikah sebagai istri kesekian dengan seorang yang pantas jadi kakeknya dan berakhir dengan perceraian karena mengalami KDRT.  Berbeda dengan Karim yang umurnya tidak  terpaut jauh dengan Sultana dan sepertinya kelakuan dan jalan pikirannya berbeda dengan  kebanyakan laki-laki.

Meskipun harus mengahadapi kesulitan dari lingkungannya kehidupan perkawinan Sultana dan Karim  yang dikarunia 3 anak pada awalnya cukup berbahagia. Namun  akhirnya apa yang dialami Sultana tidak jauh berbeda dengan perempuan lain, ketika menderita kanker pada usia 24 thn dan  demi keselamatannya dia  tidak dapat melahirkkan lagi, suaminya berniat kawin lagi dengan alasan ingin menambah keturunan. 

Jean Sasson (Pengarang)
Sultanapun memberontak dengan caranya ..walaupun tidak jadi dimadu tapi semua sudah berubah , ‘rasa’ yang dulu ada sudah berbeda. Kemudian penderitaan bertambah ketika dia divonis menderita  penyakit kelamin , penyebabnya adalah ..suaminya sendiri yang ternyata sering ‘bermain’ dengan wanita lain… Pada akhirnya wanita  jualah  yang menanggung derita.

Sungguh miris membaca penderitaan kaum wanita yang berada di negara/wilayah yang didominasi oleh kekuasaan laki-laki  apalagi bila kekuasaan tersebut mengatasnamakan adat dan agama yang sangat sulit duraikan karena pada kenyataannya  sebagian besar dari mereka baik pelaku maupun korban , beranggapan bahwa memang begitulah seharusnya..,


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Sintren : Sang Penari Dari Alam Gaib .::

Tentunya kita pernah mendengar istilah Sintren, sebuah seni tradisional di daerah pantura. Pada zaman dahulu, Kalisabak dipimpin oleh seorang penguasa wilayah yang bernama Raden Bahureksa. Ia tinggal bersama istrinya yang bernama Roro Rantamsari dan putra semata wayangnya, Raden Sulandono. Raden Sulandono tumbuh menjadi seorang pangeran yang tampan dan baik budi pekertinya. Perilakunya yang sopan dan tidak membeda-bedakan teman pergaulan, menjadikannya memiliki banyak teman. Ia suka bergaul dengan rakyat biasa, dan berkunjung sampai ke desa-desa.

Sementara itu, di sebuah dusun yang menjadi wilayah Kalisabak, tersebutlah gadis bernama Sulasih. Sulasih, gadis cantik berbudi itu menjadi kembang desa kebanggan para pemuda.

Suatu hari saat berkunjung ke desa itu, bertemulah Raden Sulandono dengan Sulasih. Raden Sulandono langsung jatuh cinta pada Sulasih. Cinta mereka pun bertaut, tanpa mempermasalahkan status mereka yang berbeda. Namun rupaya Raden Bahureksa menghalangi cinta putranya. Ia beranggapan Sulasih tidak cocok untuk putranya. Walaupun terus dihalang-halangi ayahnya, hubungan cinta Raden Sulandono dan Sulasih terus berlanjut. Tak lama berselang, Raden Bahureksa meninggal dunia, disusul Rara Rantamsari.

Sebenarnya, banyak pemuda yang terpikat pada kecantikan Sulasih. Suatu waktu, Sulasih disembunyikan oleh para pemuda itu agar tidak dapat bertemu lagi dengan Raden Sulandono. Mengetahui kekasihnya disembunyikan, maka terjadi pertarungan antara Raden Sulandono dengan para pemuda desa tersebut. Dan karena dikeroyok, Raden Sulandono kalah. Namun sebelum celaka, Raden Sulandono diselamatkan oleh roh Roro Rantamsari yang kemudian memerintahkan Raden Sulandono untuk bertapa dan memberinya sehelai saputangan. Dia disarankan untuk menjadi penari pada upacara bersih desa yang akan datang.

Pada malan bulan purnama pada saat upacara bersih desa dimulai, melalui perantara Roro Rantamsari, roh bidadari didatangkan agar menyatu ke dalam tubuh Sulasih sehingga ia mampu menari di acara bersih desa. Roh Rantamsari kemudian mendatangi Raden Sulandono yang sedang bertapa agar segera bangun dan cepat-cepat mendatangi upacara bersih desa tersebut. Dalam kesempatan itu Raden Sulandono melemparkan saputangan pemberian ibundanya, maka pingsanlah Sulasih yang sedang menari. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Raden Sulandono yang segera membawa lari Sulasih.

Sejak saat itu, bila suatu desa menyelenggarakan upacara bersih desa, maka akan disajikan tarian yang pernah ditarikan Sulasih, yaitu tarian para bidadari. Saat menari, seringkali penari seperti tak sadarkan diri karena dimasuki roh.

Tari ini untuk selanjutnya disebut Sintren, yang berasal dari kata si-putri-an atau si-putren, kemudian menjadi sintren, yaitu putri yang menari menirukan tarian para bidadari.

Sekarang ini, umumnya Sintren tidak lagi sebagai tari yang disajikan dalam upacara bersih desa, tetapi telah menjadi tontonan yang bersifat hiburan. 


Sumber Dari : http://kelirnews.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Ustman ibn Talha R.A : Pemegang Kunci Ka'bah Pertama .::

Allah S.W.T. berfirman tentang sebuah kejadian yang sangat mengharukan. Ketika Rasulullah S.A.W. dan pasukan Muslim menaklukkan kota Makkah, mereka masuk ke dalam kota Makkah Mukarramah. Kemudian Rasulullah S.A.W. dan pasukan Muslim menuju Ka’bah. Ternyata pintunya terkunci dan kunci itu dipegang oleh Ustman ibn Talha R.A.,

Ustman ibn Talha bukan seorang muslim pada waktu itu. Dia mengunci pintu Ka’bah dan bersembunyi. Jadi ketika Rasulullah S.A.W. memasuki Makkah, mayoritas penduduk Mekkah langsung memeluk Islam seiring beliau memasukinya. Ketika Rasulullah S.A.W. meminta kunci Ka’bah, orang-orang memberitahu bahwa kuncinya dipegang Ustman ibn Talha R.A. dan ternyata dia bersembunyi di atas atap Ka’bah.

Ali R.A. berkata padanya “Ya Ustman berikan kami kuncinya, Muhammad S.A.W. yang meminta kuncinya.”

Dia berkata “Ya Muhammad, jika aku percaya bahwa kau memang seorang rasul maka aku akan membuka pintunya dari dulu, sedangkan aku tidak percaya kau seorang rasul, jadi aku tidak akan membukakannya.” 

Kemudian Ali R.A. merebut kuncinya dari Utsman ibn Talha R.A. dan membuka pintu Ka’bah. Kemudian Rasulullah S.A.W. memasukinya dan mengerjakan shalat 2 raka’at di dalamnya.

Abbas ibn Abd Al-Muttalib R.A. (paman Nabi Muhammad S.A.W.) ada di sana, dan dia memberitahu Rasulullah S.A.W. “Ya Rasulullah, kau tahu bahwa keluarga kita yang punya wewenang dalam mempersiapkan air dan memuaskan dahaga para jamaah haji. Jadi jika kau memberikan kuncinya pada kami, maka kami punya 2 kehormatan, yang pertama adalah mempersiapkan air dan yang kedua adalah membuka dan mengunci pintu Ka’bah ketika diperlukan.”

Tiba-tiba Jibril A.S. datang membawa wahyu di dalam Ka’bah. Subhanallah! Ayat ini diwahyukan di dalam Ka’bah.
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. An-Nisaa’:58)
Ayat ini menandakan bahwa Rasulullah S.A.W. harus mengembalikan kuncinya kepada Ustman ibn Talha R.A. Jadi Rasulullah S.A.W. langsung berdiri dan memberikan kuncinya kepada Ali ibn Abi Thalib R.A. seraya bersabda “Pergilah kepada Ustman ibn Talha dan kembalikan kuncinya, dan minta maaflah kepadanya karena kau telah merebut kuncinya.”

Kemudian Ali R.A. kembali kepada Ustman ibn Talha R.A. dan berkata “Ya Ustman, ini kuncinya dan kami mohon maaf karena telah merebut kuncinya darimu.” 

Ustman ibn Talha R.A. terkejut mendengarnya “Ya Ali, beberapa saat yang lalu kau begitu kasar padaku, sekarang kau begitu rendah hati, ada apa?”

Dia berkata “Wallahi, Ya Ustman! Allah telah mewahyukan ayat yang berkaitan denganmu. Allah berfirman ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’Karena itulah kunci ini dikembalikan padamu.’ 

Ustman ibn Talha R.A. langsung mengucapkan: “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Allah itu satu dan Muhammad S.A.W. adalah Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kalian tahu apa yang terjadi? Jibril A.S. datang membawa wahyu lagi, kali ini tidak dalam bentuk ayat tapi dalam bentuk instruksi kepada Muhammad S.A.W.,

“Ya Muhammad, katakan kepada Ustman ibn Talha R.A. bahwa kunci Ka’bah akan selalu berada dalam genggaman keluarga dan keturunannya hingga hari kiamat.”

Wallahi, para pembaca! Sampai saat ini kunci Ka’bah masih dalam genggaman keluarga Ustman ibn Talha R.A., dan dia menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang terkenal.

Sheikh Abdul Qadir Taha Al-Sheibi - Pemegang Kunci Ka'bah (Salah satu keturunan Ustman ibn Talha)

Kalau kalian mengunjungi Arab Saudi sekarang, kalian akan melihat bahwa keluarganya dijaga ketat oleh para polisi dan pemerintah Arab Saudi, inilah KEKUATAN WAHYU dari Al-Qur’an! Inilah kisah Ustman ibn Talha R.A., inilah bukti kebenaran Islam, apakah ada sesuatu yang dapat menandinginya?

Maha Suci Allah, Yang Maha Tinggi. Sebuah mukjizat yang bertahan sampai sekarang. Semoga Allah S.W.T. meridhoi kita dan membuat kita dapat menunaikan ibadah haji dan melihat Ka’bah. Semoga Allah S.W.T. meridhoi kita. Aamiin.


Sumber Dari : http://lampuislam.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Cinta Seorang TNI Kepada Kekasihnya Yang Buta .::

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dengan tangannya yg lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan kedalam bus mencari-cari bangku yg kosong. Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, diapun duduk. Meletakkan tasnya diatas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Perempuan Buta (Ilustrasi)
Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun dilinkungannya. Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya.

“Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis.

Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdoa dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali. Di antara frustrasi,depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan.

Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta. Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit.

Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dengan terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa.

Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yang sedang frustasi dengan sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile. Dengan sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dengan susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dg seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yg dialaminya.

Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan.
”Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Yasmin.
“Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.”

Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yang mandiri.

Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dengan tenang Burhan pergi ke tempat dinas.

Tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta,tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yang tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.

Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata,
“Saya sungguh iri padamu”. Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya.
“Anda bicara pada saya?”
” Ya”, jawab sopir bus.
“Saya benar-benar iri padamu”. Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yang berjalan terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri?
“Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu.
“Kamu tahu,” jawab sopir bus

“Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan.

***
Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.


Sumber Dari : http://duniakisahnyata.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Menggenggam Cinta Sejati .::

Nana adalah seorang gadis perantau di kota besar. Ia berasal dari keluarga sederhana di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari tempatnya bekerja. Ia merantau untuk mendapatkan penghasilan yang layak dan membantu keluarganya. 

Selingkuh (Ilustrasi)
Nana sudah memiliki kekasih di kampung yang bernama Agus. Pria tersebut juga merantau, namun di kota yang berbeda. Setiap hari mereka berhubungan via SMS untuk menghemat uang. Kadang mereka saling telepon seminggu sekali. Nana dan Agus sudah sejak SMA menjalin cinta dan dengan meniti karir ini, mereka sudah memiliki gambaran untuk menikah.

Namun dalam seminggu ini, ada yang membuat Nana sedikit berubah. Gadis cantik itu bertemu dengan seseorang di kantornya yang benar-benar bak pria metropolis. Dani namanya. Tubuhnya selalu wangi, saat membantu Nana yang tengah mengalami kesulitan kadang Dani begitu dekat di samping Nana, suaranya juga enak didengar. Keberadaan Dani sedikitnya menggoyahkan hati Nana. Gadis itu mulai jarang menghubungi Agus dengan alasan sibuk. Agus pun tak berpikiran negatif karena berpikir bahwa tak mudah bagi wanita bekerja di kota besar.

"Yang penting jangan lupa makan ya, Dik. Jangan sampai sakit juga," pesan Agus pada Nana.

Seiring waktu berlalu, Nana dan Dani mulai dekat. Seringkali pria itu mengajaknya makan siang bersama. Diam-diam Nana sangat senang dengan semua yang dialaminya. Dani terlihat tampan dan modern. Ia juga tak pernah nampak bersama wanita lain, jadi Nana merasa jadi putri bagi Dani. Tapi, bagaimana dengan Agus? Seringkali pertanyaan itu muncul, namun Nana segera menepisnya. Ia sedang menikmati masa-masa indah ini. Agus mulai merasa tidak enak. Kekasihnya mulai ogah-ogahan saat diajak SMS atau telepon. Nana juga sering membatalkan kepulangannya ke kampung. Hingga yang paling mencengangkan, di bulan keenam mereka sama-sama merantau, Nana minta putus.

"Aku nggak tahan hubungan jarak jauh begini, Mas," ujarnya.
"Nggak tahan atau ada orang lain, Dik?" tanya Agus di ujung telepon. Nana terdiam.

Sejak saat itu hubungan mereka menggantung. Nana tak bisa menjelaskan alasannya minta putus, sehingga Agus masih sering menghubunginya untuk mempertahankan kisah cinta mereka. Tak berapa lama, Nana mulai merasakan perubahan dari Dani. Tumben dia jarang menghampiri Nana ke ruangannya lagi. Ketika berpapasan pun reaksinya tak seantusias dulu. Meski Nana mencoba untuk lebih atraktif, namun Dani seolah sudah menggelar jarak yang jauh di antara mereka. Suatu siang ketika sedang makan siang dengan senior, Nana melihat Dani nampak akrab dengan seorang wanita di kantin.

Setengah cemburu, ia bertanya pada teman makan siangnya, "Yang sedang bersama Mas Dani siapa ya, Mbak?"

"Oh itu pacarnya. Anak kantor sebelah. Awet lho mereka sudah lima tahun ini," jawab sang senior polos.

Petir bagai menyambar hati Nana. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar, "Pacar? Kok jarang kelihatan bareng-bareng, Mbak?" Nana bertanya lagi sambil pura-pura tenang. 

"Kalau nggak salah, pacarnya itu barusan kembali dari kantor cabang di kota lain. Beberapa tahun lalu sempat kerja di kantor sebelah kok. Sejak itu mereka jadian. Nggak tahan LDR mungkin, makanya balik lagi. Hihihihi..." celetuk senior Nana.

Nana makin terpekur dalam kekecewaan. Celetukan seniornya seolah menjadi petir kedua. Ia ingat alasannya minta putus dari Agus adalah karena tidak tahan dengan hubungan jarak jauh. Padahal dia sedang kasmaran dengan orang yang... yang bahkan sudah lima tahun punya pacar. Di satu sisi Nana kecewa dan marah. 
Ia seperti dipermainkan, namun juga malu karena yang mempermainkannya sama-sama punya hubungan jarak jauh dan masih bisa kembali kepada pacarnya. Sementara Nana? Ia telah menelantarkan perasaan Agus yang setiap hari tak pernah menyerah menghubunginya dan berusaha mempertahankan kisah cinta mereka. Malam harinya, ketika Agus kembali menghubunginya, Nana merasa sangat senang. Ia seperti sudah menanti telepon itu sejak bertahun-tahun lamanya. Agus sedikit heran dengan Nana yang menahannya menutup telepon.

"Kamu nggak apa- apa, Dik? Kok kayanya betah banget mas ajak telepon." tanya Agus.

Nana terdiam sejenak. Tak lama ia menjawab, "Maafkan aku ya, Mas. Aku menyesal sudah menelantarkan hubungan kita. Aku terlena dengan kota besar, tapi Mas masih mau menghubungiku." Agus

mengerti makna di balik jawaban Nana. Ia terdengar tersenyum dan menukas, "Aku mungkin nggak sempurna, Dik. Tapi aku punya cinta yang sempurna buat kamu. Aku selalu ingat pada cita-cita kita untuk menikah. Sambil berjuang menuju ke sana, aku juga harus memperjuangkanmu, to?" Agus bertanya dengan logat Jawa yang kental.

Air mata Nana menetes di pipi. Ia bahkan hampir lupa dengan tekad mereka untuk menikah. Ia hampir menukar pria yang baik dengan pria yang hanya menggunakan dirinya sebagai pengisi kekosongan semata.

***

Cinta adalah perjalanan penuh liku dan godaan. Kadang kita menemukan sosok yang nampak lebih sempurna, namun bukan berarti perasaan kagum kita padanya adalah cinta sejati. Cinta yang sejati, tak akan lekang pada jarak dan waktu.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS