RSS
Container Icon

::. Beberapa Surat Rasulullah SAW Yang Menjadi Saksi Dakwahnya Mengajak Pemimpin Dunia Memeluk Islam .::

Setelah diangkat menjadi sebagai Rasul, Nabi Muhammad SAW lantas membangun komunikasi dengan para pemimpin dunia agar mengikuti ajaran tauhid. Beragam cara dilakukan termasuk dengan cara korespondensi melalui surat. Beberapa raja seperti raja Persia, Mesir, Ethiopia dikirimi surat melalu para utusannya. Sepanjang hidupnya, Rasulullah menulis langsung sebanyak 43 surat untuk pemimpin dunia seperti para raja, tokoh agama dan kepala suku. Berikut ini beberapa koleksi surat Rasulullah SAW.


Surat untuk Raja Najasyi, Negus – Habsyah (Ethiopia)

Rasulullah SAW mengirim surat kepada Raja Najasyi- Habsyah yang bernama Ashhamah bin Al-Abjar. Isi suratnya adalah menyerukan sang raja agar memeluk agama Islam. Saat surat tersebut sampai di Istana, sang raja  An-Najasyi mengambil surat itu,  lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliau pun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Thalib r.a.


Setelah masuk Islam, sang raja kemudian membalas surat kepada Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam untuk mengabarkan keislamannya. Raja Najasyi akhirnya meninggal pada bulan rajab tahun ke-9 Hijriyyah. Saat mendengar raja ini meningggal, Rasulullah SAW pun melakukan shalat ghaib untuk sebagai penghormatan terakhir. Nabi juga mengabarkan bahwa Raja Najasyi kelak akan masuk syurga.

Adapun isi surat Rasulullah kepada Raja Najasyi adalah sebagai berikut:

“Bismillahirrahmannirrahim. Dari Muhammad Rasulullah, salam kepada Najasyi, pembesar Habasyah. Salam kepada siapa yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

Sesungguhnya aku bertauhid kepada yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maharaja yang Maha Suci, Yang Maha Pemberi Keselamatan, Yang Maha Pemberi Keamanan, Yang Maha Pelindung. Dan aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam (tiupan) roh dari Allah (yang terjadi) dengan kalimat-Nya (yang disampaikannya) kepada Maryam yang perawan, yang baik dan menjaga diri (suci) lalu mengandung (bayi) Isa dari wahyu dan tiupan-Nya sebagaimana menciptakan Adam dengan tangan-Nya.

Aku mengajak engkau kepada Allah yang Esa, tidak mempersekutukan sesuatu bagi-Nya dan taat patuh kepada-Nya dan mengikuti aku dan meyakini (ajaran) yang datang kepadaku.

Sesungguhnya aku utusan Allah. Dan aku mengajak engkau dan tentaramu kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Aku telah menyampaikan dan telah aku nasihatkan; maka terimalah nasihatku. Salam bagi yang mengikuti petunjuk ini.”. [Zaadul Ma'ad 3/61].


Surat kepada Raja Al-Muqawqis  – Mesir (Egypt)
 

Nabi Muhammad SAW juga mengirimkan surat kepada pemimpin Mesir Raja Al-Muqawqis melalui perantara salah seorang sahabatnya, Hatsib bin Abu Balta’ah. Pada kesempatan tersebut Nabi SAW pun mengutus seorang budak yang telah dimerdekakan dan menjadi anak angkat sahabat Abu Raha Al-Ghifari, yang bernama Jira untuk menemani Hatsib. Keduanya lalu  menemui Muqauqis di balai istana di Iskandaria


Setelah al-Muqawqis membaca surat Nabi SAW, dia membalas surat baginda dan memberi kepada baginda dua hadiah. Hadiah pertama berupa dua budak belia bernama Mariah binti Syamu’n al-Qibthiyyah yang dimerdekakan Nabi S.A.W dan menjadi isteri beliau, darinya Rasulullah S.A.W mendapat seorang anak yang diberi nama Ibrahim (wafat semasih kecil), nama ini diambil dari nama moyang beliau Nabi Ibrahim a.s. Dan hamba kedua adiknya sendiri yaitu Sirin binti Syamu’n Al-Qibthiyyah. Hadiah kedua pula berupa kuda untuk tunggangan baginda.

Berikut ini isi surat Nabi Muhammad untuk Raja Al-Muqawqis:

“Bismillahirrahmannirrahim. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasulullah. Kepada Muqawqis Peguasa Qibthi. Salam sejahtera kepada yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

Aku mengajak Anda dengan dakwah Islam. Anutlah agama Islam dan Anda selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Tetapi apabila Anda berpaling, Anda akan memikul dosa kaum Qibthi. Wahai Ahli kitab, marilah menuju ke suatu kalimat ketetapan yang tidak terdapat suatu perselisihan di antara kita, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (muslimin) kepada Allah SWT.”


Surat kepada Raja Khosrau II, Chosroes – Parsi (Persia)
 

Rasulullah SAW juga mengirim surat kepada  Raja Khosrau II, Abrawaiz dari kerajaan Persia. Ia mengutus sahabatnya Abdullah bin Hudzaifah As-Sahmi yang isinya menyerunya kepada Islam. Namun setelah membaca surat tersebut, sang raja melah mereobek surat dan Rasulullah SAW dan berkata ”Hamba rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku.”


Kabar disobeknya surat tersebut sampai kepada Rasulullah. Beliau pun berkata ”Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”. Allah SWT pun mengabulkan doa tersebut. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian dia pun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Dia dibunuh dan dirampas kekuasaannya. Seterusnya kerajaan itu kian terobek-robek dan hancur sampai akhirnya ditakluki oleh pasukan Islam pada zaman Khalifah Umar bin Al-Khaththab r.a hingga tidak dapat lagi berdiri.

Isi suratnya:

“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Kisra penguasa rakyat Persia. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Aku bersaksi behawa tiada Tuhan kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku mengajak dengan seruan Allah.

Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia supaya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup hatinya dan supaya ketetapan azab kepada orang-orang kafir itu pasti. Masuklah Anda ke dalam Islam, niscaya akan selamat. Jika kamu menolak, sesungguhnya kamu memikul dosa kaum Majusi.”


Surat kepada Raja Heraklius, Hercules – Romawi (Byzantines / Rome)

Rasulullah SAW juga mengirim Surat kepada Heraclius (Raja Romawi) yang dibawa oleh Dihyah al-Kalbi. Ketika Rasulullah Saw mengirim surat kepada Kaisar Heraclius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan kemenangannya atas Negeri Persia.


Begitu menerima surat dari Rasulullah SAW, Sang Kaisar pun berkeinginan untuk melakukan penelitian guna memeriksa kebenaran kenabian Muhammad SAW. Lalu Kaisar memerintahkan untuk mendatangkan seseorang dari Bangsa Arab ke hadapannya. Abu Sufyan ra, waktu itu masih kafir, dan rombongannya segera dihadirkan di hadapan Kaisar.

Abu Sufyan pun diminta berdiri paling depan sebagai juru bicara karena memiliki nasab yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Rombongan yang lain berdiri di belakangnya sebagai saksi. Itulah strategi Kaisar untuk mendapatkan keterangan yang valid.

Maka berlangsunglah dialog yang panjang antara Kaisar dengan Abu Sufyan ra. Kaisar Heraclius adalah seorang yang cerdas dengan pengetahuan yang luas. Beliau bertanya dengan taktis dan mengarahkannya kepada ciri seorang nabi. Abu Sufyan ra juga seorang yang cerdas dan bisa membaca arah pertanyaan Sang Kaisar. Namun beliau dipaksa berkata benar walaupun berusaha memberi sedikit bias.

Di akhir dialog Sang Kaisar mengutarakan pendapatnya. Inilah ciri-ciri seorang nabi menurut pandangannya dan sebagaimana telah dia baca di dalam Injil. Ternyata semua ciri yang tersebut ada pada diri Rasulullah SAW.

Kaisar Heraclius telah mengetahui tentang Rasulullah SAW dan membenarkan kenabian beliau dengan pengetahuan yang lengkap. Akan tetapi ia dikalahkan rasa cintanya atas tahta kerajaan, sehingga ia tidak menyatakan keislamannya. Ia mengetahui dosa dirinya dan dosa dari rakyatnya sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

Dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya Kaisar bisa mengetahui kebenaran kenabian Rasulullah SAW. Bahkan Kaisar menyatakan : “Dia (maksudnya Rasulullah SAW) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini.” Saat itu Kaisar sedang dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.

Abu Sufyan ra menceritakan dialog ini setelah masuk Islam dengan keislaman yang sangat baik, sehingga hadits ini diterima. Kaisar lalu memuliakan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby dengan menghadiahkan sejumlah harta dan pakaian. Kaisar pun memuliakan surat dari Rasulullah SAW, namun ia lebih mencintai tahtanya. Akibatnya, di dunia, Allah SWT memanjangkan kekuasaannya. Namun dia harus mempertanggungjawabkan kekafirannya di akhirat kelak.

Setelah membaca surat itu, Heraklius menyampaikan bahwa dirinya telah masuk Islam. Namun, perkataannya itu hanya dusta belaka.Sebenarnya, Heraklius tidak memiliki alasan untuk tidak masuk Islam setelah meyakini ajaran Nabi. Namun, dirinya teramat sayang dengan kedudukannya sebagai raja.

Isi suratnya:

“Bismillahirrahmannirrahhim. Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah kepada Heraklius penguasa Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

Dengan ini, aku menyerumu untuk memeluk Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan mengganjarmu dengan pahala dua kali lipat. Akan tetapi, jika engkau menolak, engkau harus menanggung dosa orang-orang Arisi. Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.

Sebagian kita tidak pula menjadikan tuhan selain Dia. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.  (Surah Aali-Imran : 64)  [Sahih Al-Bukhari 1/4,5]


Kepada Uskup Dhughathir - Romawi
 


Selain mengirimkan surat kepada Heraklius, Nabi juga menulis surat yang ditujukan kepada uskup terpandang di Romawi, yaitu uskup Dhughatir. Surat yang diantarkan juga oleh Dihyah tersebut berisi :

“Salam bagi yang beriman. Atas dasar itu sesungguhnya Isa bin Maryam adalah tiupan roh Allah, terjadi dengan kalimat-Nya yang benar (haq), disampaikan kepada Maryam yang suci. Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya serta apa yang diberikan kepada para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepadanya. Salam yang mengikuti petunjuk.”

Setelah membaca surat tersebut, sang uskup berkata kepada Dihyah, “Demi Allah, kawannya adalah seorang Nabi yang diutus. Kami mengenali sifat-sifat dan namanya semuanya tercantum dalam kitab-kitab kami.”

Uskup tersebut kemudian menanggalkan keuskupannya yang berwarna hitam dan digantinya dengan jubah berwarna putih. Dia mengambil tongkatnya, lalu beranjak menuju ke gereja. Di sana, banyak orang sedang berkumpul. Di hadapan mereka, uskup berkata, “Wahai segenap orang Romawi, aku telah menerima surat dari Ahmad yang mengajak kita kepada Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang pun serempak menyerang dan memukulinya bertubi-tubi hingga tewas.

Setelah kejadian itu, Dihyah kembali kepada Heraklius. Kemudian Heraklius berujar, “Aku sudah memberitahukan kepadamu bahwa kami mencemaskan diri sendiri dan tindakan kekerasan mereka. Demi Allah, uskup Dhughatir lebih mulia daripada aku.


Surat kepada Gubernur Al-Mundzir bin Sawa – Bahrain
 

Nabi Muhammad Sallallahu A’laihi Wasallam mengutus risalah kepada al-Munzir bin Sawa pemerintah Bahrain, menyeru beliau kepada Islam. Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam memilih al-’Ala’ bin al-Hadhrami untuk menyampaikan risalahnya itu, sebagai jawaban al-Munzir telah menulis kepada Rasulullah seperti berikut ;

“Ada pun setelah itu wahai Rasulullah, sebenarnya telah pun ku baca bingkisan tuan hamba itu kepada penduduk Bahrain, di antara mereka gemarkan Islam dan kagum dengannya dan sebahagian yang lain membencinya, di bumi ku ini terdapat penganut Majusi dan Yahudi, maka berlaku sesuatu hal di sini mengenai seruan tuan hamba itu.”


Rasulullah SAW membalas semula kepadanya:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ” Dari Muhammad Utusan Allah kepada al-Munzir bin Sawi salam ke atas kamu. Maka sesungguhnya kepada Engkau Allah, aku memuji yang tiada Tuhan selainNya dan aku mengaku bahawa Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya, adapun selepas itu aku mengingatkan kau dengan Allah Azzawajala, maka sesungguhnya sesiapa yang menasihat sebenarnya beliau menasihati dirinya, dan sesiapa yang mentaati ku dan sesiapa yang menasihatkan mereka bererti telah menasihatiku.

Sebenarnya para utusan ku telah pun memuji kau dengan baik, sesungguhnya melalui kamu aku memberi syafaat ku kepada kaum kamu, oleh itu biarlah kaum muslimin dengan kebebasan mereka dan pengampunan kamu terhadap pesalah-pesalah, maka terimalah mereka. Sekiranya kamu terus soleh dan baik maka kami tidak akan memecatkan kamu dari tugas dan sesiapa yang masih dengan pegangan Yahudi atau Majusinya ianya wajib membayar jizyah.


Sumber Dari : http://www.infoyunik.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Maria Al-Qibtiyah : Wanita Mesir Yang Berparas Cantik Nan Lemah Lembut Yang Menjadi Salah Satu Isteri Rasulullah SAW .::


Berita tentang kedatangan seorang nabi di Jazirah Arab, pembawa ajaran agama dari langit yang baru telah tersebar sampai di kalangan rakyat Mesir. Berita itu diperkuat oleh kedatangan utusan Rasulullah SAW, Hathib bin Abi Balta’ah yang menyampaikan surat kepada Muqawqis.

Surat Rasulullah Muhammad SAW kepada Muqawqis
Setelah membaca surat dari Rasulullah SAW itu, dengan hati-hati dan penuh hormat Muqawqis menyimpan surat tersebut dalam sebuah kotak yang terbuat dari gading. Lalu ia minta agar Hathib bin Abi Balta’ah menjelaskan pribadi dan sifat-sifat Rasulullah SAW, apa saja yang diperbuat dan bagaimana keadaan para pengikutnya. Ia mendengarkan penjelasan Hathib bin Abi Balta’ah dengan penuh perhatian.

Setelah berpikir beberapa saat, Muqawqis berkata: 
“Aku telah mengetahui bahwa seorang nabi akan datang. Menurut perkiraanku, dia akan muncul di Palestina sebab di sana banyak nabi bermunculan. Namun kenyataannya nabi terakhir itu muncul di negeri Arab. Jika aku memeluk agama Muhammad, orang-orang Qibti tidak akan menyetujuinya.”

Tak lama kemudian ia memanggil sekretarisnya untuk menjawab surat Rasulullah SAW. Bunyi surat itu: 
“Surat Tuan telah saya baca, dan saya memahami dan mengerti apa yang Tuan maksudkan. Sejak lama saya telah mengetahui akan datangnya seorang nabi yang saya perkirakan akan muncul di negeri Syam. Utusan Tuan kami hormati sebagaimana layaknya. Dan bersama ini saya kirimkan dua wanita yang punya kedudukan tinggi di Qibti. Selain itu juga saya kirimkan sejumlah pakaian dan ternak. Selamat Sejahtera bagi Tuan.”


Maria Al-Qibtiyah ( Ù…ارية القبطية ) lahir di desa Hifn, dekat kota kuno Anshina di sebelah timur sungai Nil. Di belakang namanya ada gelar Al-Qibtiyah, karena ia berasal dari suku Qibti, Mesir, yang beragama Kristen ortodoks. Ayahnya bernama Syam’un, asli Qibti, sedangkan ibunya berdarah Romawi beragama Nasrani. Ketika menginjak remaja, ia dan saudaranya Sirin, diambil oleh Muqawqis sebagai dayang-dayang.

Berbeda dengan para istri Rasullah SAW yang lain, Maria Al-Qibtiyah adalah seorang sariyyah, yaitu istri yang sah menurut syariat tapi tidak berstatus resmi sebagai istri sepenuhnya. Oleh karenanya ia adalah “Hadiah” dari Gubernur Mesir, Muqawqis. Jadi status sosialnya hamba sahaya, tapi secara syariat sah sebagai istri. Di masa silam, masyarakat Arab menyebut istri seperti itu sebagai Ummul Walad (Ibu si anak).


Kehadiran Maria Al-Qibtiyah ternyata membuat para isteri Nabi tidak senang. Menurut mereka, Maria Al-Qibtiyah tidak patut menjadi istri Nabi, karena ia keturunan budak (hamba sahaya). Namun hal itu langsung dijawab oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah At-Tahrim ayat 1 yang berbunyi :


Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS At-Tahrim, Ayat 1)"

Ayat itu juga merupakan ajaran kesetaraan, bahwa Islam tidak membedakan status sosial, etnis dan jenis kelamin. 

Pernah suatu hari Maria Al-Qibtiyah yang berada jauh dari masjid menemui Nabi Muhammad SAW, lalu disuruh masuk ke rumah Hafshah, salah seorang istri Nabi yang sedang pergi ke rumah ayahnya Umar bin Khatthab.

Ketika pulang Hafshah melihat tabir kamar tidurnya tertutup, dan di dalamnya Rasulullah sedang bersama Maria Al-Qibtiyah. Melihat itu, Hafshah marah lalu menangis. Rasulullah SAW membujuk Hafshah, dan minta agar Maria Al-Qibtiyah meminta maaf kepada Hafshah, yang juga diminta untuk merahasiakan kejadian tersebut.

Namun, kejadian itu segera terdengar oleh istri-istri Nabi yang lain. Tentu saja Rasulullah marah dan bermaksud menceraikan Hafshah. Tapi Jibril menyarankan agar tetap mempertahankan Hafshah, karena dia adalah wanita yang teguh beriman. Maka Rasulullah SAW pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terutama karena dia menyesali perbuatannya telah memberitahukan kejadian tersebut kepada para istri Nabi yang lain.

Sebagai pendamping Rasulullah SAW, Maria Al-Qibtiyah adalah wanita yang tabah dan sabar. Betapa tidak, Maria Al-Qibtiyah yang berparas cantik jelita dan berperangai lemah lembut, harus menghadapi kehidupan yang keras di negeri asing tanpa seorangpun yang melindunginya, kecuali Allah SWT dan Rasulullah SAW.


Pada tahun kedua bersama Rasulullah SAW, Maria Al-Qibtiyah mengandung (hamil). Dan untuk menghindari kecemburuan istri-istri yang lain, Rasulullah SAW memindahkan Maria Al-Qibtiyah ke sebuah rumah di dataran tinggi Madinah yang udaranya cukup segar. Dia ditemani oleh saudaranya Sirin hingga saat melahirkan, yaitu pada bulan Dzulhijjah Tahun ke 8 Hijriyah. Dan di bidani oleh istri Abu Rafi’.

Ketika Maria Al-Qibtiyah melahirkan, Rasulullah SAW menunggu di ruang lain sambil shalat dan berdoa. Dan ketika istri Abu Rafi’ keluar dari kamar sambil memperlihatkan bayi itu kepada Rasulullah SAW. Beliau gembira dan berterima kasih serta menyampaikan rasa hormatnya kepada bidan yang baik budi itu. Rasulullah SAW lalu mengangkat bayi lelaki tersebut dan memberinya nama Ibrahim (Nama datuk tertua bangsa Arab).

Makam Maria Al-Qibtiyah Di Baqi' Madinah

Pada tahun ke 16 Hijriyah, Maria Al-Qibtiyah wafat, ketika itu Rasulullah SAW, juga sudah lebih dahulu wafat. Yang menjadi khalifah pada waktu itu adalah Umar bin Khatthab. Istri Rasulullah SAW ini Maria Al-Qibtiyah di makamkan di Baqi, Makkah.


Maria Al-Qibtiyah sebagai Ummul mu’minin (ibu orang-orang mukmin) telah memberikan keberuntungan dan karunia istimewa dari Allah SWT (subhanahu wa ta’ala) dengan melahirkan putra Rasulullah SAW, yaitu Ibrahim.

Makam Ibrahim Bin Muhammad di Baqi' Madinah

Sumber Dari : https://www.islampos.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Maria : Wanita Filipina Yang Berprofesi Sebagai Pembunuh Bayaran Untuk Gembong Narkoba .::

Anda pernah meyaksikan film aksi Colombiana yang dibintangi aktris Zoe Saldana?


Film ini bercerita tentang seorang perempuan yatim piatu yang tumbuh menjadi seorang pembunuh bayaran yang lihai dan kejam. Semua sasaran Cataleya, nama karakter yang diperankan Saldana, adalah para penjahat, khususnya pengedar narkotika, termasuk mereka yang membunuh kedua orangtuanya.

Nah, kisah Cataleya ini tentunya hanya sebuah rekaan untuk kepentingan hiburan semata. Siapa nyana, kisah semacam ini dijalani seorang perempuan Filipina. Sosok Cataleya di dalam film terlihat sangat glamor dan bisa menikmati hidup dari penghasilannya sebagai pembunuh bayaran. Tetapi tak ada keglamoran dalam kehidupan sang pembunuh bayaran asal Filipina, sebut saja bernama Maria.

Dia terpaksa pindah dari satu rumah ke rumah lainnya karena khawatir akan keselamatannya. Dia juga cemas karena tak bisa meninggalkan pekerjaan dengan bayaran Rp 5,7 juta per pembunuhan. Dia kini terjebak di dalam perang brutal melawan narkoba yang dikobarkan pemerintah Filipina, sejak Presiden Rodrigo Duterte berkuasa sekitar dua bulan lalu.

Maria, bukan nama sebenarnya, kini terikat kontrak dengan pemerintah Filipina, untuk menghabisi para pengedar narkoba, terutama di level-level rendah. Awalnya, Maria menawarkan jasanya lewat suaminya yang adalah anggota kepolisian Filipina. Kini Maria sudah membunuh lima orang.

"Pekerjaan pertama saya dua tahun lalu. Saat itu saya merasa sangat takut dan gugup karena itu adalah pekerjaan pertama saya," kata Maria kepada BBC.

Maria adalah anggota dari sebuah tim yang terdiri atas tiga orang perempuan. Maria, yang berasal dari kawasan miskin di Manila, mengatakan dia disewa karena perempuan dinilai tak akan menimbulkan kecurigaan para korbannya.


Lalu siapa yang memberikan perintah pembunuhan itu? "Bos kami, perwira polisi," kata Maria.

Di satu siang, saat BBC bertemu dengan Maria, dia mengatakan, rumah aman yang ditinggali bersama sang suami sudah diketahui. Sehingga mereka harus pindah sesegera mungkin. Maria mengenang, awal dari profesi barunya ini dimulai ketika suaminya diperintahkan untuk membunuh seorang pengutang sekaligus pengedar narkoba.

"Suami saya diperintahkan membunuh orang-orang yang tidak bisa membayar utang mereka," kata Maria.

Pekerjaan ini memberi penghasilan tambahan bagi suaminya hingga sebuah situasi yang lebih menantang muncul.

"Suatu hari, mereka membutuhkan seorang perempuan. Suami saya menawari saya pekerjaan itu. Saat saya melihat pria sasaran, saya mendekati dia dan menembaknya," tambah Maria. Bagi warga miskin seperti Maria, pendapatan tambahan dari membunuh seseorang cukup berarti. Hasil bayaran membunuh itu kemudian akan dibagi tiga atau empat sesuai jumlah orang di dalam tim itu.

Namun, Maria menanggung beban sangat berat dan merasa sangat berdosa. Sayangnya dia tak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan beban hidupnya itu.

"Saya merasa bersalah dan itu mempengaruhi hidup saya. Saya takut keluarga orang yang saya bunuh datang mengejar saya," tambah dia.

"Saya tak ingin anak-anak kami suatu hari datang kepada kami dan mengatakan mereka harus meninggalkan kami karena kami mendapat uang dari membunuh orang lain," kata dia. 

Sejak dua bulan Rodrigo Duterte berkuasa, hampir 3.000 orang yang diduga pengedar narkoba tewas. Separuhnya tewas dibunuh orang tak dikenal.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Ibu Yang Rela Menjadi Pembantu Demi Tidak Mengusik Rumah Tangga Anaknya .::

Mama, yaitu sesosok yang bernilai buatku. Beliau memeliharaku seorang diri sejak dari saya kecil. Tahun ini, rumah kami yang kecil bakal diruntuhkan untuk di bangun kembali oleh pihak yang berwajib. Hukum di negara kami menyampaikan kalau yang memiliki rumah bisa pilih untuk memperoleh ganti rugi berupa uang atau satu rumah yang ukurannya lebih kecil dari rumah terlebih dulu.

Mama pilih untuk mengambil uang ganti rugi lantaran beliau berkata bila rumah barunya sangat kecil, rumah itu tidak akan dapat ditempati sesudah aku menikah. Karenanya ibu mengambil uang ganti ruginya serta mengambil keputusan untuk mengeluarkan uang tersebut sebagai sedikit modal waktu aku serta suamiku nanti membeli satu rumah.

Pada akhirnya saya berkenalan dengan seseorang pria yang cukup kaya. Disaat awal kami berpacaran, orang-tua dari pacarku ini menganggapku rendah.

Mereka selalu menganggap rendah keluarga kami serta mempersulit pernikahan aku dan suamiku hingga satu hari mama berkata kalau beliau dapat sediakan gaun pesta yang bernilai ratusan juta. Waktu itu aku terasa ibu cukup cerdas untuk mengambil uang ganti rugi waktu rumah lama kami dibongkar.

Tetapi suamiku kurang setuju mama hidup tinggal dengan kami. Saya lalu menjelaskan pada suamiku bila mama nanti dapat membantu keluarga kami melindungi anak, memelihara rumah, serta yang lain waktu kami pergi bekerja. Suamiku juga pada akhirnya menyetujuinya dengan berat hati.

Namun aku tidak pernah mengira bila suamiku akhirnya memperlakukan mama seperti pembantu. Seringkali dia berlaku kurang ajar pada mama. Melihat hal ini, saya geram besar. Berulang-kali aku menegur suamiku untuk bersikap sedikit lebih baik pada mama, namun ia tidak ingin mendengar. Akhirnya sikap suamiku padaku juga mulai berubah. Cara bicaranya jadi lebih kasar. Sekarang ini, aku telah mengandung lebih dari 1 bulan…

Aku tidak mau anakku sejak dari kecil hidup di keluarga single parent, karenanya aku tetaplah bertahan akan kekejaman suamiku. Namun suamiku tetap saja tidak sadar bila aku telah bertahan demikian lama serta tetap berlaku jahat pada mama. Pada akhirnya aku berkata, “Biarkan mama lakukan apa yang dia mau! Kalau tidak aku serta mama dapat keluar dari rumah ini! ”

Untuk aku dan anakku, aku pada akhirnya menerangkan kondisiku pada mama. Waktu itu mama tak berkata apa pun, mengambil beberapa lembar pakaian sambil menangis serta meninggalkan rumah kami. Sesudah mama pergi, aku terasa begitu sedih serta pada akhirnya disuatu hari, aku membuntuti mama dari belakang serta mendapati kalau selama ini mama bekerja sebagai pembantu dirumah orang lain. 

Merasakan fakta ini, aku merasa mungkin saja kehidupan mama bakal sedikit lebih baik dibanding bila mama ada di rumah. Aku menghibur diriku sendiri, namun tetap tidak berani menghubungi beliau…


Pernikahanku ini akhirnya tak melindungi mama serta cuma bikin beliau menanggung derita. Di umur putriku yang ke-2, Aku menemukan suamiku membawa wanita lain masuk kedalam rumah dan mengusirku keluar. Hanya satu yang dapat kubawa cuma putriku… Aku membawa putriku jalan di atas jalan yang sepi tanpa ada tahu apa yang perlu kulakukan… Pada akhirnya aku teringat mama. Namun aku tak berani berjumpa dengan beliau. 

Aku juga mencari satu hotel untuk berteduh. Satu hari ketika aku menggendong putriku keluar dari hotel tersebut, mendadak aku melihat mama sedang berdiskusi serius dengan seseorang. Melihatku, mama lari mendapatiku sambil menangis, “Akhirnya aku menemukanmu! ”

Aku bertanya pada mama, bagaimana beliau bisa tahu aku bercerai dengan mantan suamiku serta mama menjawab, “Kamu ini… Anda fikir sesudah aku keluar dari rumahmu, aku tidak perduli dengan kehidupanmu? Setiap beberapa hari aku mengambil kesempatan untuk pergi ke dekat rumahmu untuk melihat kondisimu, bertanya-tanya pada tetangga akan kondisimu, cemas kamu kenapa-kenapa.

Sudah janganlah nangis lagi! Aku akan membantumu melindungi cucuku ini. ” Aku menangis tanpa mampu berbicara, memeluk mama serta putri kecilku. Kelak dalam kondisi apa pun, kami tidak akan pernah terpisahkan lagi!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Karomah Mbah Wali Biru ( Sayyidina Robbibinur ), Cucu Ke-26 dari Rasulullah Muhammad SAW .::


Tak banyak orang yang mengenal nama Sayyidina Robbibinur namun bagi sebagian warga Sukerejo, Kendal namanya sudah tak asing lagi. Sayyidina Robbibinur diyakini memiliki banyak karomah sehingga dikenal sebagai Wali Biru. Salah satu karomahnya yaitu bisa menandingi kesaktian Syekh Siti Jenar.

Sayyidina Robbibinur merupakan seorang ulama yang berasal dari Yaman tepatnya dari Hadra Maut. Sayyidina Robbibinur adalah cucu ke 26 dari Rosulullah Muhammad SAW.

Sekitar tahun 1417 M, Sayyidina Robbibinur bersama saudara – saudaranya sesama Habaib, seperti: Sayyidina Shonhaji (Mbah Bolong - Ampel), Sayyidina Ahmad Faqih (Mbah Kaliagung – Tirem – Gresik), Sayyidina Silbani (Wales – Blado), Sayyidina Laduni (Kebagusan – Jeporo) berangkat dari Yaman ke tanah Jawa.

Keberangkatan mereka  atas petunjuk Sayyidina Abdul Majid yang mendapat petunjuk dari Allah SWT, agar berguru kepada Sayyidina Ali Rohmatullah atau Sunan Ampel di Ampel Delta Surabaya.

Sesampainya di Ampel, rombongan yang dipimpin Sayyidina Robbibinur diterima Sunan Ampel dengan senang hati. Bahkan semua fasilitas sudah disiapkan. Mereka sangat terkejut ketika Sunan Ampel memberitahukan kepada rombongan bahwa dia sering kontak dengan Sayyidina Abdul Majid.

Kemudian Sayyidina Robbibinur beserta saudaranya belajar dengan rajin, tekun dan penuh kesabaran. Sesama santri dia tidak mau dibedakan atau membeda bedakan, tidak melihat keturunan, golongan, bangsa, yang penting seiman. Karena kemampuanya yang sangat tinggi dan semangat belajar yang besar serta dilandasi sikap sopan santun itulah yang membuat Sayyidina Robbibinur sangat menonjol diantara sesama santri.

Selain menguasai ilmu agama lahir batin juga menguasai ilmu kanuragan, tata negara dan tataperang, perdagangan juga pertanian.

Karena itulah Syekh Nurhadi (Sunan Bungkul – Surabaya) ingin menjadikanya menantu. Dengan seizin Sunan Ampel akhirnya menjadi menantu Sunan Bungkul dan dikaruniai putra yang bernama Sayyidina Soleh atau Mbah Soleh. Mbah Soleh oleh ayahnya disuruh mengabdi kepada Sunan Ampel sampai wafat.

Mbah Soleh diyakini pernah hidup mati sampai sembilan kali dan dimakamkan didepan Masjid Ampel – Surabaya. Lalu Sayyidina Robbibinur mendapat tugas dari Sunan Ampel untuk berdakwah keliling Jawa Timur. Dengan penuh semangat, tekun dan sopan santun membuat dakwahnya berhasil dimana – mana, sehingga hal ini didengar oleh para wali dan ulama, bahkan Sultan Demak Raden Fattah juga mendengarnya.

Ketika itu Kasultanan Demak sedang terusik oleh kegiatan penyebaran faham Syeh Siti Jenar dan Kiageng Kebo Kenongo yang dirasa menyimpang dari Syariat Islam. Setelah para wali mendapat petunjuk dari Allah SWT, kemudian mengadakan musyawarah yang dipimpin oleh Sunan Giri.

Hasil musyawarah, yang bisa mengatasi kegiatan Syeh Siti Jenar adalah Sayyidina Robbibinur. Kemudian Sayyidina Robbibinur dipanggil dan datang ke Kasultanan Demak untuk mendapat tugas membendung ajaran Syeh Siti Jenar.

Sayyidina Robbibinur berangkat ke daerah Rawa Pening/Banyu Biru dan membikin pesantren sebagai sarana untuk memperlancar tugas dan sarana dakwah. Namun Syekh Siti Jenar juga mendirikan Padepokan di sebelah timur Banyu Biru. Dengan kemampuan lahir batin yang mumpuni dari Sayyidina Robbibinur, membuat Syeh Siti Jenar kesulitan mengembangkan ajarannya bahkan muridnya semakin berkurang.

Karena bertempat di Banyu Biru itulah maka Sayyidina Robbibinur dijuluki Wali Biru atau Kiai Biru atau Wali Biru. Ketika itu Mbah Wali Biru juga mempunyai dua orang murid istimewa yaitu Sunan Bonang dan Patih Wonosalam (Patih Kasultanan Demak).

Setelah Syeh Siti Jenar diadili para wali, Mbah Wali Biru diminta Raden Fattah dan persetujuan Wali Sembilan untuk menjadi penasihat Kasultanan Demak.

Kemudian Mbah Wali Biru ditunjuk untuk berdakwah di Kadipaten Kaliwungu. Setelah pindah di Kaliwungu Mbah Wali Biru mendirikan Pesantren di daerah Geseng – Kendal.

Karena kemampuan yang tinggi dari Mbah Wali Biru akhirnya Kaliwungu menjadi pusat terbesar pendidikan Agama Islam se Negara Kesultanan Demak Bintoro. Santrinya tidak hanya dari wilayah Kasultanan Demak bahkan ada yang dari luar negeri.

Mbah Wali Biru berdakwah di Kaliwungu selama 9 tahun dan menghasilkan ulama’ – ulama’ besar yang menyebar di wilayah Kasultanan Demak.

Pada zaman Kesultanan Demak nama Selokaton adalah Selotlangu yang merupakan wilayah Kepatihan atau Kawedanan. Setelah zaman Kasultanan Surakarta nama Selotlangu dirubah menjadi Selokaton. Mbah Wali Biru sudah merasa sangat tua dan berkeinginan untuk hidup didaerah yang sepi.

Kebetulan waktu itu Patih Selotlangu mohon bantuan ulama kepada Adipati Kaliwungu agar berdakwah di wilayahnya. Sebab masyarakat Selotlangu kurang mengenal Agama Islam, bahkan sebagian besar rakyatnya masih berkepercayaan Animisme dan Dinamisme.

Akhirnya Mbah Wali Biru bersama beberapa santrinya yang dibawa dari Banyu Biru dan Kaliwungu berangkat ke Selotlangu setelah mendapat izin dari Adipati Kaliwungu.

Patih Selotlangu memberi daerah perdikan untuk didirikan padepokan kepada Mbah Wali Biru yang berupa hutan.

Para santri kemudian membabat alas yang dipimpin oleh Mbah Wali Biru, yang kemudian diberi nama Padukuan Biron. Setelah Padepokan berdiri Mbah Wali Biru mulai menyusun strategi berdakwah dengan cara mengajarkan ilmu kesaktian. Karena dengan cara itu menarik minat masyarakat Selotlangu.

Awalnya Mbah Wali Biru memperagakan ilmu silat yang ditonton oleh rakyat Selotlangu di padepokan, akhirnya mereka berminat dan banyak yang mendaftarkan diri untuk belajar silat.

Bila ikut silat saratnya hanya dengan berwudhu, dan bila mereka sudah menguasai ilmu dasar silat maka dikukuhkan dengan membaca syahadat.

Kalau ingin bertambah sakti para murid disuruh membaca mantra dan bergerak menirukan gerakannya Sebenarnya yang dikerjakan oleh Mbah Wali Biru adalah memberikan contoh tatacara mengerjakan Salat.

Setelah mereka bisa baru dijelaskan bahwa yang mereka kerjakan itu adalah salat yang wajib dikerjakan bagi setiap orang Islam. Dalam waktu singkat padepokan berkembang dengan pesat dan santrinya dari mana – mana.


Atas seizin Sultan Demak, Para Wali, Mbah Wali Biru menetap di Selokaton sampai wafat. Adapun istri dan anaknya jauh sebelumnya sudah wafat dan dimakamkan di Surabaya. Karena Mbah Wali Biru wafat dalam usia 155 tahun dan dimakamkan di sekitar Padepokan  Pesantren Biron – Selokaton.

Salah satu ulama di tanah Jawa KH Siroj – Payaman – Magelang pada 1954 mengatakan ketika sedang ngaji dia kedatangan sosok Mbah Wali Biru. Kemudian KH Siroj menceritakan jika Mbah Wali Biru berpesan kepadanya, "Apabila suatu saat nanti Tanah Biru keluar asapnya, Banyu Biru keluar candinya, maka saat itulah makam dia (Wali Biru) dirawat oleh anak cucu,”. Lalu pada 1987 apa yang dipesankan oleh Wali Biru itu terjadi dan nyata, yaitu Tanah Biru (Dieng – Wonosobo) berhari hari keluar asapnya, Banyu Biru (Rawa Pening – Ambarawa) keluar candinya, dan di tahun itu juga ditemukan makam Wali Biru di Biron, Selokaton, Sukorejo, Kendal.



Sejak itulah makam dibangun dan dirawat bersama – sama oleh Jamaah Alkaromah dan warga masyarakat Selokaton sampai sekarang.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS