RSS
Container Icon

::. Gadis Pemulung Yang Sukses Menjadi Dokter Penyakit Kanker .::

Pemulung (Ilustrasi)

Delapan belas tahun lalu adalah hari terberat yang pernah ada dalam hidup Anjali. Seorang anak gadis yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di bantaran kali dengan rumah terbuat dari kardus harus rela melepaskan kepergian sang Ibu tercinta. Ia sangat mencintai Ibunya lebih dari apa pun, tak pernah sepatah kata pun ia membantah perintah Ibunya, baginya Ibu adalah jantung kehidupannya.

Ibunya pun sangat mencintai nya lebih dari apa pun, terbukti dengan bagaimana Ibu Anjali berusaha, bekerja siang malam mengelilingi kota memulung sampah, botol, dan kardus-kardus bekas yang akan di jual demi sesuap nasi dan menyekolahkan Anjali. Anjali merasa sangat berdosa besar jika harus melawan orang tua apalagi menyakiti hati Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala keterbatasan.

Karena itu Ia berjanji pada dirinya tidak akan pernah sedikit pun berani melawan dan menyakiti Ibunya yang sudah tua dan bungkuk. Anjali tidak pernah malu jika sang Ibu mengantarnya ke sekolah dengan pakaian lusuh, kusut dan penuh tambalan, bahkan dengan penuh kebanggaan terlihat dari wajahnya karena ia masih memiliki seorang Ibu yang sangat mencintainya sejak ia menghirup udara dunia, walau Ayahnya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih berumur dua tahun akibat kecelakaan.

Demi membahagiakan Ibunya ia belajar sungguh-sungguh, ia pun selalu menjadi juara kelas bahkan sesekali juara umum. Baginya mungkin hanya dengan prestasi sekolah yang bisa membahagiakan Ibunya, hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang Ibu, karena dengan itu juga ia sedikit mendapat keringanan dalam biaya sekolah. Kadang jika Ibunya sakit ia pergi keliling kota, memulung mencari botol dan kardus bekas di tempat pembuangan sampah, bahkan tak jarang ia terjerembab ke dalam tumpukan sampah karena tubuhnya SD nya yang masih kecil.

Sehabis sekolah menjaga sebuah toko sebagai uang tambahan membeli buku sekolah atau buku yang sangat ia inginkan. Baginya dengan berusaha dan bekerja keraslah keinginannya akan terwujud.

Ia sangat beruntung memiliki orang tua yang peduli akan pendidikan anaknya, ia kadang sering menangis sendiri dalam malam gelap gulita sebelum azan subuh, ia selalu terpikirkan dengan anak-anak yang senasib dengannya yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan namun hanya ia yang mampu sekolah.

Ia pun kadang menyempatkan waktu mengajarkan kawan-kawan sekitar rumahnya pelajaran matematika tanpa dibayar sesen pun, dengan begitu ilmunya semakin melekat, berkah dan bermanfaat. Semua pernak-pernik hidupnya berjalan seperti biasa hingga suatu yang paling ia takutkan menimpanya.

Ya, sesuatu yang sangat ia takutkan adalah kehilangan satu-satunya orang tua yang sangat ia cintai, yang sangat ia sayangi. Baginya musibah terbesar dalam hidupnya adalah harus kehilangan Ibu di usianya yang masih muda, di saat ia akan menamatkan SD. Ia ingin sekali ibunya melihat ia menjadi siswa terbaik se-provinsi dengan nilai yang tinggi dan masuk sekolah menengah pertama favorit di Jakarta, karena pemda Jakarta memberikan bea siswa penuh bagi 10 orang yang mampu mendapat nilai penuh dalam UN, yaitu semua nilai 10. Dan itu tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah pengumuman kelulusan Sekolah Dasar.

Namun takdir berkata lain, seakan-akan menantang harapan serta keinginannya itu, yang bahkan berusaha menyurutkan dan menghancurkan semangat gadis kecil itu untuk sekolah dan melanjutkan ke SMP favorit. Karena satu-satunya alasan semala ini ia belajar sungguh-sungguh hanyalah untuk menyenangkan hati Ibunya sebagai balasan atas jasa-jasa Ibunya yang membanting tulang, berpeluh keringat, terbakar terik siang dan bungkuk akibat memulung dan membawa barang berat.

Ibunya meninggal bukanlah karena kecelakaan, serangan jantung atau kelaparan. Ibunya ternyata selama ini menyimpan rahasia pada Anjali. Ibunya selama ini menderita penyakit kanker serviks (kanker rahim) yang harapan untuk dapat disembuhkan sangat kecil bahkan bisa dikatakan mustahil karena 98% penderita penyakit ini berakhir dengan kematian. Ia mengetahui itu dari pembicaraan rahasia Ibu-ibu tetangganya bahwa Ibunya terkena penyakit kanker ketika ada tes kesehatan pos kesehatan keliling dari pemda Jakarta. 

Ia terpukul karena rumah sakit di daerahnya belum memiliki pengobatan yang canggih untuk mengobati penyakit yang mamatikan ini, walau pun sebenarnya bisa dikirim ke rumah sakit yang lebih besar jika ada uang. Dan lebih terpukul lagi karena ia sadar, ia bukanlah orang kaya yang bisa membayar segala macam pengobatan, ia juga sadar apalah arti nyawa seorang pemulung di mata para dokter dan pemerintah, hanya menghabiskan tenaga dan waktu serta uang pemerintah.

Gadis kecil ini menangis sejadi-jadinya di tengah malam setelah Ibunya dikuburkan di pemakaman orang-orang miskin yang sekedarnya. Ia limpahkan semua isi hati dan pikirannya pada Ilahi. Ia yang dulunya belajar dan sekolah semata untuk membahagiakan Ibunya, kini berubah akan belajar dan bekerja mati-matian demi meraih cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter oncologi, dokter ahli special kanker. Apa pun yang terjadi dia akan berusaha mati-matian demi menjadi dokter spesialis kanker yang akan menyembuhkan seluruh macam penyakit kanker dengan segala kemungkinan yang ada. Dan tidak hanya itu, ia pun berjanji akan menolong sukarela siapa pun orang yang terkena penyakit kanker, apakah mereka orang kaya atau miskin.

Janji-janji yang ia buat, yang ia sampaikan di tengah malam pada Tuhan pada umur 12 tahun kini terpenuhi. Anjali dulu gadis kecil yang miskin dan kumuh kini sudah menjadi gadis dewasa yang cantik, baik dan kaya raya namun sederhana. Ia telah mewujudkan cita-citanya atas izin Tuhan melewati ujian-ujian besar dalam hidupnya. Baginya pendidikan tidak hanya diperuntukkan orang kaya, siapa pun boleh bercita-cita. Di umurnya yang masih muda (27) Ia menjadi dokter spesialis kanker ternama di rumah sakit terbesar di Jakarta dan menjadi dosen tetap di Universitas terkenal di jakarta.

Ia membangun yayasan sosial untuk anak-anak miskin dann terlantar. Dengan kerendahan hati, ia bersama teman-teman dan bawahannya melakukan pos kesehatan keliling gratis ke daerah-daerah yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Ia mampu menyelesaikan sarjana kedokterannya di Universitas terkenal dan ternama di Jerman, bahkan menjadi wisudawan terbaik dan banyak rumah sakit besar di Jerman dan menawarkan dirinya. Tapi ia lebih memilih tanah air yang telah membesarkannya, tempat ia dibesarkan bersama Ibunda tercinta, tempat dimana banyak nyawa orang miskin yang terancam kematian tanpa pengobatan.


Sumber Dari : http://informid.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Abu Utsman An Naisaburi yang Menjaga Perasaan Istrinya .::

Sudah bukan rahasia bahwa para istri ingin perasaannya dijaga oleh sang suami. Sudah pernahkah Anda mendengar kisah Abu Utsman An Naisaburi yang menjaga perasaan istrinya? Dengan penuh kasih sayang, beliau memberi teladan kepada para suami untuk tak menyakiti istrinya. Simak kisahnya lebih lanjut dalam artikel berikut ini.




Terkadang, apa yang kita dapat dari sang istri tak sesuai dengan harapan. Jangan jadikan hal tersebut untuk alasan kita meninggalkannya, sebaliknya gunakanlah kesempatan tersebut untuk menjaga perasaan sang istri dengan lebih baik lagi. Selain itu pula, jangan salahkan takdir yang membuat kita bersatu dengan sang istri. Contoh rumah tangga yang baik menurut Islam adalah hubungan rumah tangga Abu Utsman An Naisaburi dengan sang istri. Beliau sempat ditanyai amalan apa yang telah dilakukan untuk menghadap Allah SWT. Dengan santai dan lembut, beliau menjawab dengan kisahnya saat masih tinggal di Ar Rai.

Di Ar Rai tersebut, keluarga serta penduduk Abu Utsman memaksa beliau untuk segera menikah dengan seorang perempuan. Tentu saja respon yang diberikan beliau adalah penolakan. Suatu hari, datang seorang perempuan yang menyatakan rasa cintanya kepada Abu Utsman. Perempuan tersebut berkata bahwa ia tak bisa tidur karena memikirkan Abu Utsman. Perempuan itu pun segera memohon pada Allah SWT untuk bisa bersatu dengan beliau, caranya adalah menikahi beliau.

Mendengar pernyataan tersebut, Abu Utsman bertanya apakah wanita tersebut masih punya ayah. Sang wanita mengiyakannya lalu menjelaskan bahwa ayahnya seorang penjahit. Setelah hal tersebut, Abu Utsman bergegas ke rumah sang wanita. Sesampainya di sana, Abu Utsman tahu bahwa sang wanita merupakan orang yang berkekurangan hidupnya.

Akan tetapi, hal tersebut tak mengubah pendirian beliau sejak awal untuk meminang sang wanita. Dengan mantap, Abu Utsman tetap meminang wanita tersebut untuk menjadi istrinya. Saat melakukan hal tersebut, beliau melihat kebahagiaan membuncah di wajah kedua orang tua sang wanita. Tentu saja penyebabnya adalah karena Abu Utsman merupakan sosok yang saleh, tampan, tulus, setia, jujur, cerdas, dan terhormat. 

Wanita mana pun yang melihat dia pertama kali juga bisa langsung luluh. Setelah pernikahan dilakukan, wanita yang baru saja menikah dengan Abu Utsman ini datang kembali ke beliau. Betapa terkejutnya Abu Utsman, pasalnya yang ia lihat adalah perempuan yang buruk rupanya, kakinya pincang, bahkan matanya sudah juling.

Melihat hal ini, Abu Utsman tidak langsung kabur atau menceraikannya, melainkan bersyukur kepada Allah Yang Maha Pengasih. Bisa kita lihat bahwa Abu Utsman sedang membahagiakan istri menurut Islam. Tambahan lagi, Abu Utsman justru mendekati sang istri dengan tetap mencintainya. Luar biasa, bukan? Beliau menyatakan bahwa beliau sudah menjalani hal tersebut 15 tahun lamanya. Tak ada lagi amalan yang ia harapkan pahalanya lebih besar dibanding menjaga perasaan istrinya dalam waktu sangat lama. Hal inilah yang sudah cukup sulit ditemukan dalam masyarakat modern.

Di zaman sekarang, fisik sudah menempati peringkat atas yang mempengaruhi keputusan dalam menikahi seseorang. Ketulusan hati sudah sangat jarang dilihat, oleh karena itu saat fisik seorang istri berubah, lelaki cenderung menghinanya bahkan meninggalkannya. Tentu saja sangat berbeda dengan kisah Abu Utsman An Naisaburi yang menjaga perasaan istrinya ini. Bagaimana dengan Anda? Jagalah selalu perasaan sang istri, meskipun sikapnya kadang tak berkenan di hati. Bagaimanapun, Allah SWT telah memberikan wanita tersebut bagi kita.


Sumber Dari : http://log.viva.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Enam Tanda Kekuasaan Allah SWT kepada para Ashabul Kahfi .::



Kisah Ashabul Kahfi tentu tidak asing bagi umat muslim. Kisah ini bermula dari tujuh orang pemuda yang bersembunyi di dalam gua untuk menghindari Raja Dikyanus yang kejam. Dengan kuasa Allah SWT para pemuda ini mengalami tidur panjang hingga 309 tahun sehingga tidak ditemukan oleh pasukan.

Saat terbangun, mereka bingung karena kondisi zaman yang sudah berubah. Bahkan uang yang mereka miliki, saat itu sudah menjadi uang langka yang bernilai jual tinggi. Namun ajaibnya, tidak ada yang berubah dari fisik ketujuh pemuda ini.


Di siniah Allah SWT memberikan tanda-tanda kekuasaannya. Tanda-tanda yang tersembunyi tersebut hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang yang ditugaskan untuk melindungi mereka. Lalu, apa sajakah tanda-tanda kekuasaan Allah kepada para Ashabul Kahfi? Berikut informasi yang terangkum dari surat Al Kahfi dalam Al-qur'an.


Letak Gua Memudahkan Kehidupan Mereka

Tanda kekuasaan Allah SWT kepada Ashabul Kahfi yang pertama adalah letak gua yang memudahkan kehidupan mereka. Di dalam gua tersebut mereka terlindungi dari sengatan matahari di waktu pagi dan sore hari.

Ada Anjing yang Menemani dan Mendampingi Mereka

Ternyata Allah SWT juga memberikan anjing untuk menemani dan mendampingi mereka selama berada di gua tersebut. Ketika para Ashabul Kahfi masuk ke dalam gua, anjing tersebut berhenti di ambang pintu sambil menjaga mereka. Kemudian ini merengganggkan kedua lengannya, lalu tidak seperti mereka.

Teriknya Matahari Tidak Menimpa Mereka

Hal ketiga yang menjadi tanda kekuasaan Allah SWT kepada Ashabul Kahfi adalah teriknya sinar matahari tidak menimpa mereka. Allah SWT menjadikan matahari seolah-olah ia adalah makhluk yang berakal, sadar dan bijaksana.

Ketika terbit ia menjauhkan sinarnya dari para ashabul kahfi dengan condong ke arah kanan. Sebaliknya, ketika terbenam maka ia akan menjauhi mereka dengan bergerak ke kiri sedang para Ashabul Kahfi tersebut berada dalam tempat yang luas dari teriknya matahari di sekitar gua.

Tubuh Mereka Tidak Usang Walau Tidur dengan Waktu yang Lama

Seperti yang diketahui bahwa Allah SWT membuat tidur para Ashabul Kahfi selama 309 tahun. Namun, meskipun dalam jangka waktu tidur yang lama tersebut tidak membuat tubuh mereka menjadi usang. Bahkan bumi tidak memakan mereka, sesungguhnya Allah Ta’ala telah membalikkan mereka ke kiri dan ke kanan.

Apabila dibalikkan ke kanan, bagian kiri tubuh mereka dipakai untuk perputaran udara, demikian sebaliknya, sehingga tubuh mereka tetap selamat dan baik.

Tidak Ada Orang yang Menggoda Mereka

Karena tertidur terlalu lama tersebut, membuat tidak ada orang yang menggoda mereka. Allah SWT menjadikan pandangan mereka terhadap yang lain menakutkan, sehingga mereka akan melarikan diri dari pemuda gua itu, sehingga seolah-olah mereka terjaga dan bisa melihat, padahal mereka tidur nyenyak.

Allah Membangunkan Mereka dari Tidur yang Sangat Lama

Tanda kekuasaan Allah SWT yang terakhir kepada para Ashabul Kahfi adalah Allah membangunkan mereka dari tidur yang mencapai tiga ratus sembilan tahun.


Demikianlah informasi mengenai enam tanda kekuasaan Allah SWT terhadap para Ashabul Kahfi. Tidak ada hal yang tidak mungkin bila Allah sudah berkehendak.


Sumber Dari : http://log.viva.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. 3 Bulan Tak Ada Kabar, Wanita Ini Pergoki Suaminya Sedang Gelar Pernikahan Mewah .::

Sebuah pernikahan bertujuan menyatukan dua orang yang saling mencintai untuk mendapat kebahagiaan. Namun dalam realitanya terkadang dalam perjalanan membina rumah tangga tidak seindah yang kita bayangkan.

Ibarat rumah semegah apapun, lama kelamaan tentu akan mengalami rusak dan bocor. Mobil semewah apapun, tentu akan mengalami lecet atau baret bila tidak dikemudikan dengan baik. Air setenang apapun, tentu akan ada riak dan gelombangnya. Demikian pula menjaga komitmen pernikahan. Bila tidak dijaga dengan baik, akan berujung pada kehancuran.

Seperti yang dialami wanita **** binti Zulkifly (nama sengaja di samarkan) yang harus merasakan kesedihan mendalam karena tanpa sepengetahuannya sang suami pergi dan menikah dengan perempuan lain. Kisah yang dikutip dari fanspage 'My Media Hub' ini sengaja kami tuangkan sebagai pembelajaran dengan maraknya peluang dan kejadian perselingkuhan yang banyak terjadi di kota-kota besar.

Semoga kisah ini tidak menjadi terulang dan menjadi pelajaran yang sangat berharga betapa selingkuh itu sangat menghancurkan kehidupan berkeluarga. Mohon bantu sebarkan agar bisa menjadi manfaat bagi keluarga-keluarga yang lainnya..



Saat diri dihiasi dengan baju pernikahan, muka dirias dengan berbagai warna. Debaran jantung juga semakin terasa, dalam beberapa menit lagi saya akan menjadi menyandang title seorang istri. Berkumpul sanak saudara, adik beradik dan keluarga bakal mertua di rumah. Saat Pak Penghulu mengatakan, "Sudah siap semua?" Jantung berdegup kencang entah ke mana perginya. Saat tangan Calon suami bersalaman dengan Pak Penghulu, air mata saya mulai menggenang.
"Aku nikahkan kau dengan ********** binti Zulkifly dengan maskawin  **** tunai. Sah !!"
Alhamdulillah, dengan sekali lafaz, saya telah sah menjadi istrinya. Allahu Akbar, air mata tanpa saya sadari mengalir tanpa henti. Kegembiraan tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Saat suami memandang wajah saya dengan linangan air mata, dalam hati saya bertanya "Apa benar dia suami saya yang kami akan sehidup-semati setelah ini?"

Dimulailah episode kehidupan kami sebagai suami istri, susah senang hidup bersama, melalui berbagai cobaan setelah menikah. Jatuh bangun bersama-sama, saat susah menangis bersama-sama, senang bersama-sama di saat bahagia (termasuk saat menantikan si buah hati).

Saat hampir setahun pernikahan, ada yang mulai bertanya sudah ada 'isi' atau belum? Di saat itu juga mulailah hati ini semakin 'down'. Bila diberitahu pada suami, dia kata "biarkanlah mereka, itu semua kan rezeki Allah SWT". Hilang rasa sedih bila mendengar semua itu dari mulut suami.

Tahun kedua pernikahan, rasa bahagia itu tinggi menggunung. Rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Namun, kebahagiaan kami diuji dengan kehadiran orang ketiga yang datang menganggu.

15 Oktober 2015, suami mengatakan dia memiliki agenda kerja di Melaka, untuk mencari rezeki halal, katanya. Lalu saya pun berkata, "Pergilah sayang" meskipun naluri saya mengatakan itu dia pergi ke Melaka bukan untuk tugas pekerjaan. Sampai satu saat, Allah SWT memberi petunjuk siapa suami saya yang sebenarnya. Allahu Akbar, hancurnya hati saya ya Allah. Orang yang saya percaya, orang yang saya sayangi sanggup mengkhianat saya.

Apa salah dan dosa saya? Saya belajar untuk bersabar, pada pandangan orang, saya nampak kuat. Dari tutur kata, saya nampak gigih untuk terus senyum. Padahal semua itu hanya akting saja untuk menunjukkan pada orang kalau saya ini kuat, tapi hati saya sebenarnya sudah hancur, menangis setiap hari tanpa diketahui orang.

Pura-pura berkata dengan keluarga mertua saya keadaan baik-baik saja dan tidak diceritakan tentang apa yang dia perbuat suaminya. Padahal hati saya, ya Allah. Takkanlah keluarga mertua tidak sadar kalau saya sedang bersedih dengan sikap anak mereka?

24 Desember 2015, tanggal yang saya tidak akan lupa sampai ke akhir hayat. Saya masih lagi istrinya yang sah, tetapi mengapa ini balasan yang mereka berikan pada saya? Betapa hancurnya hati, bagaikan mau mati harus menerima kenyataan ini.

Tiga bulan suami pergi tanpa berita dan akhirnya mendapat kabar bahwa dia sedang bahagia bersama insan lain yang memiliki ikatan sah.

6 Februari 2016, saya datang sendiri melihat dengan mata saya sendiri betapa hebatnya suami duduk di pelaminan bersama wanita lain. Begitu megah sekali pesta pernikahannya. 10.000 tamu dia bisa beri makan, tetapi saya seorang diabaikan selama tiga bulan tanpa sebutir nasi ditinggalkan? Saya diabaikan dari 15 Oktober 2015 hingga ke hari ini. Mana sifat perikemanusiaan? Tatkala baik mengambil anak orang, kenapa ini kesudahan yang dia berikan pada kami semua?

Begitu perih untuk saya menerima semua ini. Lepaskanlah saya dengan cara baik. Pulangkanlah saya dengan cara baik kepada keluargaku. Sebagaimana mereka merasa hari ini, begitu jugalah kami merasa ketika dikhianati sebelumnya. 

Saya ridha saat dihina, dicaci oleh orang yang dekat dan saya sayang. Hari ini, hinalah lagi, kecamlah lagi, cacilah lagi. Saya terima semuanya. Banyak lagi yang masih menyayangi saya dan mendukung saya.

Dulu, saya kalah karena banyak yang percaya dia dengan sikap pembohongnya. Saya pejamkan mata, pekakkan telinga dan seolah tidak tahu sebab saya tahu Allah Ta'ala selalu ada bersama saya. Tidak ada seorang perempuan pun saat dia dinikahkan meminta diabaikan, disakiti, dikhianati.

Tidak ada seorang perempun pun yang sedang menghormatinya dipijak suami, kehormatannya tidak dilindungi atau harga dirinya tidak ada arti lagi. Tidak ada seorang pun perempuan yang ingin mengharap simpati suami sendiri, mengemis kasih untuk menumpang. Suami mungkin terlepas di dunia. Pura-pura seperti raja, tapi istri diperlakukan seperti budak.

Nanti di pengadilan agung Allah, kamu akan ditanya tanpa mampu mengelak. Setiap kewajiban yang kamu tinggalkan, semua akan diadili meskipun sebesar kuman. 

***

Postingan ini pun menuai beragam komentar yang sebagian besar menaruh simpati kepada si wanita. Seperti yang diungkapkan akun Azra Sagitarius, "Kalau memang salah sekali pun dia  tidak boleh abaikan isteri ... kalau tidak suka, naik ruang sidang, lepaskan dengan cara baik, seperti saat kau nikah begitpula lah saat bercerai ...."

Akun Nordiana Muhammad pun mengatakan, "Pernah dengar tidak, pepatah mengatakan bengkoknya istri karena bengkoknya si suami. Kalau isteri ada kesalahan pun patut kah berbuat macam itu. Kalau sudah tidak mau sekali pun lepaskanlah dengan cara yg betul, bukan dibiarkan seperti itu...." (*)




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Bilal Bin Rabah : Muadzin Yang Mendahului Rasulullah SAW Berjalan Masuk Surga .::



Bilal bin Rabah adalah salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia



Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah SAW berdakwah.

Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah SAW yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab. Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal disiksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah uang tebusan.

Boleh dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang amat tegas dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampakkan keislamannya adalah Rasulullah SAW. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.

Selain Allah SWT tentunya, Rasulullah SAW dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan wali-nya, itu lebih cukup dari segalanya.

Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan.

Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, "Ahad, ahad," puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.

Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah SWT. Ada satu riwayat yang membukti-kan betapa Allah SWT memberikan kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Suatu hari Rasulullah SAW memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah SAW ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah SAW .

"Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu."

Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat." "Ya, dengan itu kamu mendahului aku," kata Rasulullah SAW membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah SWT.

Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.

Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya.

Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.

Semua sahabat Rasulullah SAW, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah SAW, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah SAW. "Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu," demikian Rasulullah SAW berkata dalam mimpi Bilal. "Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu" kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.

Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan Nabi junjungannya.

Hari itu, Madinah benar-benar diselubungi rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah SAW masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah SAW tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.

Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah SAW tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal.

Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senja pun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah menitiskan air mata. "Marhaban ya Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.

Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah SAW wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah SWT, Muhammad SAW, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah SAW, belum dimakamkan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadarrasulullah."

Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

Kemudian setelah Rasulullah SAW telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membebaskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku." "Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar. "Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal. "Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal. "Kalau demikian, terserah apa kehendakmu," jawab Abu Bakar.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Tsa'labah bin Abdurrahman : Masuk Surga Karena Mengintip Wanita Mandi .::


Tsa'labah bin Abdurrahman adalah salah satu sahabat yang juga merupakan pembantu Rasulullah SAW. Suatu hari, Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Di tengah perjalanan, ia menengok ke salah satu pintu rumah sahabat Anshor dan dilihatnya seorang wanita yang sedang mandi. Iapun lalu mengintip berulang-ulang.

Syahdan, tidak berselang lama, Tsalabah menyesal dan takut setengah mati. Dalam hatinya, bagaimana nanti apabila ada wahyu yang turun menceritakan kelakuannya itu ? Betapa malunya diriku!!

Iapun memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali ke Madinah, Ia melarikan diri ke lembah gunung diantara Makkah dan Madinah , meninggalkan Rasulullah SAW.Selama empat puluh hari Nabi kehilangan Tsalabah.

Kemudian datanglah Malaikat Jibril kepada beliau dan berkata:Wahai Nabi, Allah SWT telah berkirim kepadamu salam, dan Allah SWT bersabda: Sesungguhnya salah satu umatmu telah melarikan diri, dan sekarang berada diantara gunung ini dan itu. Dia selalu memohon perlindungan padaKu dari neraka,.

Nabi kemudian mengutus Umar bin al-Khatthab dan Salman Al Farisi (radliyallahu anhuma) menyusuri bukit dan gunung-gunung Madinah. Keduanya bertemu pengembala yang bernama Dzufafah, dan bertanya:Apakah kamu melihat seorang pemuda diantara gunung ini dan itu ?

Zufafah menjawab: Oooo, orang yang berlari dari neraka Jahannam itukah?Umarpun gantian bertanya:Bagaimana engkau tahu kalau dia lari dari Neraka Jahannam?

Jawab Zufafah: Apabila dia keluar dari gunung itu, selalu memegang kepalanya seraya berkata:Wahai Tuhanku, Cabutlah nyawaku, dan leburkan jasadku, dan jangan Engkau telanjangi aku di hari kiamat kelak !Oh, betul. Itulah orang yang aku maksud tukas Sayyidina Umar ra.

Ketiga sahabat itu lalu mengendus ke sebuah gunung. Pada tengah malam ketiganya melihat Tsalabah keluar dari gunung seraya berkata sebagaimana yang diceritakan oleh Zufafah.

Umar ra. kemudian berlali mengejar Tsa'labah dan mendekapnya. Beliau berkata: Aman, aman......... Dan Selamat dari Neraka. Aku Umar.

Tsalabah kemudian bertanya: Wahai Umar, Tahukah Rasulullah akan dosaku?.Aku tidak mengerti. Namun Nabi kemarin menyebut-nyebut mu, kemudian beliau menangis dan mengutus aku dan Salman untuk mencarimu Jawab Umar.

Wahai Umar !, jangan pertemukan aku dengan Rasulullah SAW, kecuali beliau sedang sholat , atau Bilal sedang Iqomah Kata Tsalabah.

Mereka lalu menuju ke Madinah, dan sampai disana sedangkan Rasulullah SAW sedang sholat. Ketiganya menempatkan barisan shaf berjamaah. Namun ketika Rasulullah SAW membaca al-Quran dalam sholat tersebut, Tsalabah tak sadarkan diri karena saking takutnya dengan Allah dan nerakaNya.

Usai sholat, Nabi bertanya pada Umar dan Salman:Wahai Umar dan Salman, bagaimana keadaan Tsalabah ?Keduanya menjawab dengan serentak: Itu, Tsalabah wahai Rasul.

Nabi mendatangi Tsalabah dan memanggilnya:Wahai Tsalabah.! Tsa'labahpun menatap Rasul dan menjawab:Labbaika Ya Rasulallah..

Mengapa engkau meninggalkan aku Tsalabah ? tanya Rasulullah SAW.

Karena dosaku wahai rasul jawab Tsalabah.


Bukankah aku telah mengajarkan kepadamu ayat yang menghapus dosa ? kata Rasulullah SAW.


Sumber Dari : http://m.inilah.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Hanzhalah bin Rahib : Sahabat Rasulullah SAW Yang Mendapat Gelar Ghasilul Malaikat (Orang Yang Dimandikan Oleh Malaikat)

Setiap manusia di dunia ini pada akhirnya akan menghadapi yang namanya kematian. Bagi umat muslim terdapat kewajiban yang harus dilakukan terhadap saudara seiman yang telah meninggal. Salah satunya adalah memandikan jenazah. Lalu apa jadinya jika ternyata yang memandikan jenazah adalah malaikat? Kisah ini benar-benar terjadi dan orang yang beruntung ini adalah sahabat Rasulullah, bagaimanakah kisahnya?

***


Kisah seorang muslim yang dimandikan malaikat berasal dari zaman Rosulullah SAW, dia merupakan sahabat Nabi yang bernama Hanzhalah bin Rahib. 

Hanzhalah merupakan sahabat Nabi yang dimandikan malaikat dan berasal dari suku Aus serta telah memeluk agama Islam sejak Rasulullah SAW menyebarkan agama Islam di Madinah. Keputusannya untuk memeluk Islam mendapat larangan dari ayahnya yang bernama Abd Amr bin Shaify yang merupakan seorang tokoh suku Aus dan secara terang-terangan memusuhi agama Islam.

Saat kaum muslim memenangkan perang badar, ayah Hanzhalah tetap bersikeras memusuhi dan menentang Islam bahkan dia pindah ke Makkah untuk terus mengobarkan kebencian dan menghasut kaum Quraisy agar membalas kekalahannya di perang Badar. Atas hasutan ini akhirnya terjadilah perang uhud. Dalam perang ini kaum quraisy dipimpin oleh Khalid bin Walid dan didukung penuh oleh ayah Hanzhalah.

Hanzhalah mengetahui akan hal ini bahwa ayahnya masih berpihak kepada kaum Quraisy sehingga dalam perang uhud ini Hanzhalah berusaha untuk menghindar dari ayahnya karena dia tidak ingin bentrok langsung dengan ayahnya sendiri. Meskipun Abd Amr bin Shaify telah bersekongkol dengan kaum Quraisy dan menentang Islam tetapi dia tetaplah ayah Hanzalah sehingga dalam hati dan pikiran Hanzalah masih terdapat rasa hormat kepadanya.

Dalam peperangan ini akhirnya Hanzhalah berhasil berhadapan langsung dengan pimpinan utama pasukan Quraisy, yaitu Abu Sufyan bin Harb. Jika Hanzhalah mampu mengalahkan pimpinan utama pasukan Quraisy ini maka dapat melemahkan kekuatan musuh. Akhirnya dengan semangat Hanzhalah mencoba untuk menyerang Abu Sufyan bin Harb tetapi gagal, kegagalan Hanzhalah disebabkan oleh dirinya telah ditikam oleh Syaddad bin Aus dan akhirnya dirinya meninggal sebagai syuhada.

Setelah peperangan berakhir, akhirnya semua jenazah para syuhada akan dimakamkan lengkap dengan pakaian tempur mereka tanpa dimandikan terlebih dahulu. Ketika para sahabat Nabi SAW hendak memakamkan jenazah Hanzhalah, mereka tidak menemukan jenazahnya dan akhirnya jenazah Hanzhalah ditemukan ditempat lebih tinggi dan dalam keadaan basah. Melihat hal ini semua sahabat Nabi yang melihatnya merasa heran. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda bahwa jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat, inilah satu-satunya orang yang dimandikan malaikat. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Para sahabat Nabi akhirnya bertanya kepada keluarga Hanzhalah seputar keadaannya sebelum pertempuran berlangsung. Untuk mengetahui hal ini maka sahabat Nabi mendatangi Jamilah binti Ubay yaitu istri Hanzhalah seorang muslimah yang sangat baik. Istri Hanzhalah menceritakan bahwa suaminya pergi berperang dalam keadaan junub atau berhadast besar karena mereka merupakan pengantin baru yang masih menjalankan bulan madu.

Setelah mendengar cerita dari istri Hanzhalah, akhirnya sahabat Nabi menceritakan hal ini kepada beliau. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebab jenazah yang dimandikan malaikat yaitu jenazah Hanzhalah karena dia meninggal dalam keadaan berhadast besar sehingga para malaikat mensucikannya.


Karena hal inilah akhirnya Hanzhalah bin Rahib mendapat gelar sebagai Ghasilul Malaikat yaitu orang yang dimandikan oleh para malaikat. Atas gelar inilah Hanzhalah menjadi kebanggaan bagi kaum Anshar karena karamah yang telah diperolehnya.


Sumber Dari : http://log.viva.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS