RSS
Container Icon

::. Kisah Mengharukan : Cinta Yang Berakhir Penyesalan .::

Penyesalan (Ilustrasi)
Ini adalah kisah nyata yang akan menginspirasi kita semua, saya dapatkan dari sebuah notes di facebook bernama Rina Amalina. Semoga dapat menjadi pelajaran dan HIKMAH bagi kita semua.

****
Suamiku kini telah tiada dan penyesalanku yg terus ada. Ini adalah kisah nyata di kehidupanku. Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada. Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku. Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku. Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.


Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah, tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah. Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku, dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.


Tapi kini aku tahu. Semua ucapanku selama ini salah. dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada. Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya. Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.


Dia berkata, “ Setiap kali kami ajak dia makan siang, mas Anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ Aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang. lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”


Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat. Teringat akan amarahku pada suamiku, aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan, dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi: “Perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. 

Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa, kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu. ”Membaca itu, benar-benar baru kusadari, betapa suamiku menyayangi putraku. betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita. Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “Ibu capek? Istirahat dulu saja” Dengan kasar kukatakan, “Ya jelas aku capek, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, ayah tahunya ya pulang datang bersih... titik.”


Sungguh, bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.


Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya. tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku: “Pak kenapa cari klinik yang termurah? Saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula. ”Dan suamiku menjawab, “Tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja, aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas. ”Tuhan... Maafkan hamba Tuhan, hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada. Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.


Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari. Banggalah pada suamimu, karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya. Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana. Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu. Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar. Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya. Teruntuk

suamiku.
Maafkan aku sayang. Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.

Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu. Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu. Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu. Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kesabaran Seorang Istri Solehah .::

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Istri Solehah (Ilustrasi)
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami. 
Lalu suamiku  pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun. Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H  tatkala ia dalam  perjalanan dari kota kerjanya menuju  rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan,  mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan yang semakin menambah kesedihanku  adalah  pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian  menjenguknya di Rumah Sakit, dan  ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah 5 tahun berlalu, sebagian orang  menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah
SWT melakukan apa yang Ia kehendaki. 
Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah
SWT yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku
 untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun
 menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku
 (untuk berdoa), dan aku  memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku
 tidak  melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun
 tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata,
اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya. Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah ROMEO & JULIET Dari Tanah Arab .::

Huda al-Niran dan Arafat Mohamad Tahar
Sanaa, Kisah cinta Huda al-Niran, 22, wanita Arab Saudi dan  Arafat Mohamad Tahar, 25, pria Yaman yang ditentang keluarga mereka membuat heboh dunia Arab. Kisah mereka sepertinya halnya kisah roman "Romeo dan Juliet" karya William Shakespare.
 
Huda Al-Niran, seorang gadis berkewarganegaraan Arab Saudi kabur ke Yaman saat akan dinikahkan dengan pemuda hasil perjodohan keluarganya. Gadis muda ini nekad pergi ke Yaman untuk mendatangi sang kekasih Arafat, tapi tindakan Huda berbuntut panjang karena Ia masuk ke negara Yaman secara Ilegal. Baru sesaat melepas rindu dengan sang kekasih, Hudapun di tangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Berita "Kawin Lari" yang melibatkan dua negara ini sontak mendapat perhatian dari warga Arab Saudi dan Yaman. 
Hakim sempat meminta Huda menceritakan alasannya nekat menerobos perbatasan dan menjadi imigran gelap diYaman. Tahar bahkan mengajukan permohonan ke pengadilan di Sanaa, Yaman, agar kekasihnya yang nekat menyeberangi perbatasan Saudi bisa tinggal bersamanya di Yaman.
 
Wanita Yaman yang menyerukan pengadilan mengabulkan
permintaan Huda
Perjuangan pasangan itu bahkan menuai dukungan luas di Yaman. Gambar mereka muncul di berbagai stiker dan spanduk di luar gedung pengadilan di Sanaa. Keluarga Niran bersikeras tidak mengizinkan putrinya menikah dengan Tahar di Yaman.
 
Tahar pun termotivasi berjuang ke pengadilan, karena kekasihnya berani meninggalkan negaranya demi bisa hidup bersamanya, di Yaman. Di pengadilan, Tahar bahkan menolak bantuan pengacara yang ditawarkan Kedutaan Saudi, karena khawatir ada tekanan yang berakibat gadis pujaannya dipulangkan ke Saudi.
 
”Ini adalah kasus kemanusiaan, dan tidak harus meningkatkan ketegangan antara kedua negara,” kata Abdel al- Qadi Rakib, pengacara non-pemerintah, kemarin, seperti dilansir Daily Mail.
 
Rakib kepada Human Right Watch mengatakan, Niran melarikan diri dari Arab Saudi ke Yaman dengan kekasihnya Tahar, setelah keluarganya tidak mengizinkan mereka menikah. Rakib curiga otoritas Saudi menekan Sanaa agar memulangkan gadis itu.
 
Kasus itu kini jadi perhatian Human Rights Watch yang berbasis di New York. Pada tanggal 19 November 2013 lalu, HRW mendesak Pemerintah Yaman untuk tidak memulangkan Niran ke Saudi, dengan pertimbangan hidupnya bisa terancam. ”Dia (Niran) takut mengalami kekerasan fisik dari anggota keluarganya, jika dia kembali ke Arab Saudi,” bunyi pernyataan badan Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di New York.Huda Al-Niran akan mendengarkan keputusan hakim pada 1 Desember nanti. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Malaikat Harut dan Marut Yang Diuji Allah SWT .::

Harut dan Marut adalah dua malaikat sebagai ujian Allah atas manusia. Allah mengutus keduanya di Babil, sebuah tempat di negeri Irak. Kisah keduanya Allah abadikan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 102. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang setan-setan baca pada masa kerajaan Sulaiman. ( Dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir ), padahal Sulaiman tidak kafir ( mengerjakan sihir ), hanya setan-setanlah yang kafir ( mengerjakan sihir ). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu sihir yang dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tidak ada baginya bagian di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual diri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”
Apakah Keduanya Memang Malaikat?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir apakah Harut dan Marut malaikat atau bukan. Pendapat pertama mengatakan bahwa keduanya adalah malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut…” (QS. Al Baqarah: 102)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan keduanya ke muka bumi sebagai ujian bagi manusia. Allah berfirman:
“Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. Al Baqarah: 102)
Pendapat kedua mengatakan bahwa Harut dan Marut adalah dua raja, yakni manusia.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa keduanya adalah dua orang lelaki yang fasik namun menampakkan kesalehan sehingga menyerupai malaikat. Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengibaratkan keduanya dengan sebutan dua malaikat karena itulah yang masyhur di tengah negeri Babil.
Pendapat yang keempat mengemukakan bahwa keduanya adalah tukang sihir dari penduduk Babil.
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir Ath Thabari merajihkan pendapat pertama. Yakni, keduanya adalah malaikat. Pendapat inilah yang benar dan diikuti banyak ahli tafsir, dan ini pula yang ditunjukkan dalam zhahir ayat. Allahu a’lam.
Malaikat Mengajarkan Sihir?
Sihir ( Ilustrasi )
Jika keduanya malaikat, mungkin muncul dalam benak kita beberapa pertanyaan, “Mengapa malaikat mengajarkan sihir kepada manusia? Bukankah sihir adalah perbuatan kufur? Bukankah malaikat adalah makhluk yang tidak berbuat maksiat kepada Allah SWT.
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa sihir yang kedua malaikat itu ajarkan bukanlah perbuatan dosa, bukan pula kemaksiatan. Karena apa yang keduanya lakukan semata-mata dengan izin Allah, sebagai ujian bagi manusia. Keduanya juga senantiasa memberikan peringatan keras dan jelas bahwa mereka adalah cobaan. Bahkan keduanya mengatakan kepada orang yang hendak belajar sihir, “Janganlah engkau kafir!” Yakni, dengan mempelajari sihir. [Lihat Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari Juz 2 hal. 422 dengan Tahqiq Mahmud Syakir]
Kita tentu masih ingat kisah Khadhir dan Musa ‘alaihimas sallam. Khadhir membunuh anak kecil, apakah kita katakan bahwa Khadhir telah melakukan perbuatan dosa? Tentu tidak, sebab ia melakukannya dengan izin Allah dan dengan hikmah yang sangat mendalam.
Terwujudlah hikmah yang Allah kehendaki dengan diturunkannya Malaikat Harut dan Marut. Terpisahlah manusia menjadi dua golongan, mukmin dan kafir. Orang yang beriman adalah mereka yang tidak belajar sihir dari kedua malaikat itu. Sedangkan orang yang kafir adalah orang yang mempelajari sihir dan mempraktikkannya. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela dan mengancam mereka sebagaimana dalam ayat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tidak ada baginya bagian di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual diri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 102)
Riwayat Batil tentang Harut dan Marut
Perlu diingatkan pula, ada beberapa riwayat batil mengenai dua sosok malaikat ini. Harut dan Marut diriwayatkan melakukan kemaksiatan dengan seorang wanita hingga keduanya diazab di dunia sampai hari kiamat.
Sengaja kami mengetengahkan kisah ini karena kisahnya tertera dalam sebagian kitab tafsir. Tujuannya, agar kaum muslimin mengetahui kebatilan berita ini. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan Nabi Adam ke muka bumi, para malaikat berkata, ‘Wahai Rabbku, apakah Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan-Mu?’
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.’
Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami lebih taat kepada-Mu daripada Bani Adam.’
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berkata kepada para malaikat, “Datangkan kepadaku dua orang malaikat dari malaikat-malaikat yang ada. Lalu, turunkan keduanya ke bumi dan kita lihat bagaimana mereka berbuat?’
Para malaikat berkata, ‘Wahai Rabb kami, turunkanlah Harut dan Marut.’
Keduanya pun diturunkan ke bumi. Lalu dinampakkan kepada mereka berdua Az-Zuhrah (sebuah bintang). Dia menjelma dalam bentuk seorang wanita cantik jelita.
Wanita itu pun datang kepada mereka berdua dan kedua malaikat itu terpesona dan mengajak wanita tersebut untuk berzina.
Sang wanita berkata, ‘Tidak! Demi Allah, sampai kalian berdua mau mengucapkan kalimat syirik ini.’
Keduanya berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan berbuat syirik kepada Allah.’
Wanita itu pun pergi meninggalkan mereka berdua. Kemudian wanita itu kembali dengan membawa seorang bayi, maka kedua malaikat itu kembali mengajak sang wanita untuk berzina.
Sang wanita berkata, ‘Tidak! Demi Allah, sampai kalian membunuh bayi ini.’
Kedua malaikat itu berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan membunuhnya selamanya.”
Maka sang wanita pergi.
Kemudian ia datang lagi membawa segelas minuman keras. Kedua malaikat kembali mengajak sang wanita untuk berzina.
Maka sang wanita berkata, ‘Tidak!! Demi Allah, sampai kalian minum minuman ini.’
Akhirnya, keduanya pun meminum minuman keras tersebut. Lalu keduanya mabuk hingga berzina dengan wanita itu dan membunuh bayinya. Tatkala keduanya sadar, sang wanita berkata, ‘Demi Allah, semua perkara yang tidak mau kalian lakukan di hadapanku, telah kalian lakukan ketika kalian mabuk.’
Keduanya pun diperintahkan untuk memilih siksa dunia atau siksa akhirat. Maka keduanya memilih siksa dunia.”
Riwayat ini batil, bukan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan bahwa kisah ini termasuk berita Israiliyat yang diambil dari Ka’b Al-Ahbar. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (2/134 no. 6178), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (6186), Ibnu Abid Dunya dalam Al-Uqubat (222), ‘Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhab (787), dan lainnya.
Secara panjang lebar Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan kebatilan kisah ini dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah juz 1 hal. 314-318 hadits no. 170.
Tersebut pula dalam riwayat -yang tentunya riwayat ini tidak benar sebagaimana riwayat sebelumnya-, konon ada seseorang mendatangi Harut dan Marut. Ia berkeinginan mempelajari sihir.
Sesampainya di tempat Harut dan Marut, ia sangat terkejut. Ia menjumpai keduanya dalam keadaan digantung dengan kedua kakinya, diazab setelah melakukan kemaksiatan. Kedua matanya terbelalak buta, dan kulit keduanya telah menghitam.
Begitu melihat keduanya, ia berkata, “Laa ilaha illallah!”
Harut dan Marut saat mendengar suara tersebut berkata, “Siapa engkau?”
Dia menjawab, “Aku salah seorang manusia.”
Keduanya menimpali, “Dari umat siapa?”
Dijawab, “Dari umat Muhammad SAW.”
Keduanya berkata, “Apakah beliau telah diutus?”
Dijawab, “Iya.”
Keduanya pun berkata, “Alhamdulillah.” Tampak kebahagiaan pada Harut dan Marut.
Berkata sang lelaki, “Kenapa kau begitu bahagia?”
Keduanya menjawab, “Karena beliau adalah nabi akhir zaman, menjelang kiamat. Berarti hampir berakhir azab untuk kami berdua.”
Semua kisah-kisah ini tidak memiliki sanad (penyandaran berita) yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di samping itu, riwayat itu juga menyelisihi ayat Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan Harut dan Marut dalam ayat di atas dengan sebutan, “Dua malaikat,” artinya keduanya seperti malaikat yang lain sebagai hamba-hamba Allah yang mulia dan selalu taat kepada Allah, tidak ada sama sekali celaan di dalam ayat. Allahu a’lam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Nyata : Ammar Mustafa, Si Muadzin Yang Sabar .::

Muadzin ( Ilustrasi )
Kota Riyadh ternyata menyimpan banyak kisah dan rahasia yang hanya diperlihatkan pada telinga yang mau mendengar dan hati yang mau merasa. Tentu saja hidayah adalah kehendak NYA dan hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.
Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.
Ammar Mustafa, itulah namanya. dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .
Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, sayapun mencoba tanyakan kepada Iqbal. 
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India. 
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Ternyata Ammar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersa,a teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Ammar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan. Tapi Ammar pun manusia.
Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.

Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.
Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui. Shalat telah selesai. Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi. Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince ( Putra Raja Saudi ) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras. Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.
Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba2 datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?
Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) , mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.
Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .
Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
“Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:
“Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.
“Alhamdulilah, SR 1.400 “, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.
Tubuh Ammar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini. “
Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah.Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar. Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh, saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah….seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”. (NAI)

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
” Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. ” (Al Fushilat 35) Allahuakbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.
Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdoa dengan ikhlas & berusaha keras.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS