RSS
Container Icon

::. Guo Ruofan : Saya Perlu Obat Supaya Bisa Menemani Kakek Sampai Tua .::


Guo Ruofan seorang anak perempuan yang berusia 13 tahun, ia mengidap penyakit langka yang mengakibatkan persendiannya rapuh, sehingga kakeknya harus menggendongnya setiap kali ia ke sekolah. 

Dia datang ke panggung Impian Tiongkok untuk mewujudkan impiannya. Ruofan berasal dari Ibukota kuno, Xi'an. Ruofan tidaklah sama seperti anak-anak lainnya. Ruofan adalah penderita Mucopolysaccharidosis, sebuah penyakit turunan yang langka, yang menyebabkan penderitanya tidak bisa berlari dan melompat seperti anak lainnya.

Para penderita Mucopolysaccharidosis tidak bisa memecah kadar gula dalam tubuhnya, dan akibatnya akan berpengaruhi pada tulang dan persendiannya. Kata Ruofan, di seluruh Tiongkok, hanya ada seribu orang penderita penyakit ini. Ayah dan Ibu Ruofan pergi ke mana-mana untuk mencari obat untuk Ruofan, sedangkan Ruofan sendiri, tinggal bersama Kakek dan Neneknya.

Guo Ruofan Dan Kakeknya
Ruofan dan kakeknya tinggal lantai 6 sebuah rumah susun. Setiap hari, Sang Kakek yang berusia 71 tahun, selalu menggendong Ruofan dan mengantarnya pergi ke sekolah. Kelas, Ruofan sendiri ada di lantai 4. 

Kakek Ruofan selalu menggendong Ruofan sampai ke kelasnya, dan bahkan dengan sabar menunggu Ruofan apabila ada pelajaran yang pindah lantai. Kakek Ruofan mengatakan pada Ruofan bahwa dia akan terus menggendong Ruofan meski usia Kakek sudah 80 tahun. Yang penting Ruofan selalu rajin belajar.

Kakek menginginkan agar Ruofan dapat masuk ke Akademi Seni Xi'an. Kakek mengatakan pada Ruofan, kalau dia berhasil masuk ke akademi tersebut, mereka juga akan pindah rumah ke sebelah akademi. "Kakek adalah kakimu", demikian kata Kakek pada Ruofan. Meski tidak bisa seperti anak normal lainnya, Ruofan sangat pandai menggambar. Bahkan, gambar Ruofan selalu mendapatkan juara pertama atau juara kedua.

Di panggung Impian Tiongkok, Ruofan menunjukkan keahliannya dalam melukis pasir. Keindahan lukisan dan syair yang diucapkan Ruofan, serta ketenangan dan kedewasaannya membuat Guru Popo dan semua hadirin terpesona.


Ruofan menyampaikan keinginannya di panggung, bahwa dia menginginkan obat agar bisa sembuh dan tumbuh berkembang seperti anak-anak yang lain. Tujuannya bukan agar dia berumur lebih panjang, namun harapannya adalah agar dia dapat menjaga dan menemani Kakek sampai tua.

Saat ini, obat tersebut sangat sulit didapat. Guru Popo berjanji, selama obat ini ada di dunia, mereka akan membantu mencarikan obat untuk Ruofan. Sesudah acara ini disiarkan, sakit is kecil Ruofan menjadi perhatian banyak pihak.

Pembawa acara televisi nasional menyampaikan berita di televisi. Mereka berusaha menemukan obat yang diproduksi di Amerika ini. Blog yang dibuat oleh tim "Mencari Obat Khusus Bagi Si Kecil" telah mendapat respon dari 70 ribu orang, termasuk beberapa artis Tiongkok terkenal.

Saat ini, televisi Zhejiang bersama Yayasan Kesejahteraan Tiongkok telah berhubungan dengan produsen obat khusus tersebut di Amerika dan bernegosiasi agar bisa mendapatkan kesempatan penggunaan obat tersebut untuk Ruofan. Kita hanya dapat berharap agar impian anak manis ini dapat menjadi kenyataan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Bukti Cinta Dari Surga .::

Aku tidak mencintainya. namun karna ia terlalu baik dan sudah banyak menolong aku dan keluargaku, Aku mencoba membuka hati untuknya. Aku jalani cinta ini dengan rosma, walau sedikitpun aku tidak mencintainya. Setiap Hari Rosma selalu memperhatikanku, namun tetap saja aku tidak mencintainya.

Hari ini Rosma datang ke rumahku menjenguk ibuku yang sedang sakit. entah mengapa aku tidak senang dengan kehadiran Rosma. Tampak aku lihat Ibuku penuh senyum kegembiraan menyambutnya. ya, Rosma memang bisa sekali mengambil hati keluargaku, karna itu aku tidak bisa menolak keluargaku yang menginginkan perjodohan ini. Aku mengabaikan Rosma, aku acuh terhadapnya, dan akupun menduakannya dengan Lisa gadis yang kucintai. Pada saat itu Rosma menelponku. 

"mas, aku boleh minta tolong gak?" Rosma agak gugup.
"Minta tolong apa?" aku dengan cetus.
"emm ini mas, motorku mogok berhubung hari sudah malam bengkel sudah tutup. jadi mas bisa jemput aku gak?" Rosma dengan suara canggung.
"oh mas tidak bisa Rosma, motor mas juga lagi di pinjam tetangga kamu naik taksi saja"
"iya mas" rosma dengan suara kecewa.

Keesokan harinya akupun terbangun dengan mendengar suara tangisan ibuku " duh ndo... ndo malang sekali nasibmu nak" ibu dengan sedih. Akupun heran dan bertanya pada ibu. 
"Ada apa Bu, kenapa nangis?" tanya aku
"Rosma di rampok tadi malam nak..." jawab ibu dengan terisak-isak.
"tapi, keadaan Rosma gimana bu?" aku sedikit penasaran. 
"sekarang dia di rumah sakit, cepat kamu jenguk dia"

Aku pun merasa sedikit bersalah, namun kejadian ini juga tidak menumbuhkan cintaku pada Rosma. Akupun pergi mengambil motorku, tapi tidak untuk menjenguk Rosma di rumah sakit melainkan pergi ke rumah Lisa. entah kenapa di jalan pikiranku kosong namun aku ingin sekali sampai di rumah lisa. aku laju motorku dengan cepat, tiba-tiba ada sebuah mobil dari seberang jalan mendadak belok, aku pun banting setir ke kiri. Akupun terjatuh dan tak sadarkan diri.

Tiba-tiba aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit. Entah sudah berapa lama aku di rumah sakit. yang pasti di sekelilingku sudah banyak sanak keluargaku di rumah sakit, mereka melihatku dengan senyum haru, namun Aku tidak melihat Lisa "lisa, dimana lisa?" bisikku dalam hati.

Setelah benar-benar sembuh Akupun dibawa pulang oleh keluargaku. beberapa hari kemudian aku menelpon Lisa namun tidak di angkat sms ku pun tidak dibalas, terakhir kudengar kabar dia sudah punya lelaki lain. Aku pun menjadi sangat benci terhadap Lisa, selama aku sakit dia tidak menjengukku sama sekali, sia-sia aku berkorban untuk dia selama ini. 

Tiba-tiba aku teringat dengan Rosma. akupun coba mencari tahu pada Ibu.

"Bu, gimana kabar rosma kok gak pernah kelihatan?" aku penasaran. ibu tidak menjawab, dia masuk kamar lalu memberikan sebuah kertas dengan tulisan yg jelek seperti anak kecil yang baru belajar menulis. Aku pun membaca tulisan itu dengan seksama.
"mas Ibnu aku minta maaf kalo aku ini banyak salah sama mas, aku belum sempurna di mata mas ibnu. Namun semua akan kulakukan agar mas ibnu bisa mencintai aku. aku mencintai mas ibnu karna Allah, juga Karna tidak mau mengecewakan orang tua kita yang telah menjodohkan kita. oia, aku selau mendoakan mas ibnu agar lekas sembuh. Riana"
Aku pun menangis membacanya, hasrat ingin bertemu Rosma pun tidak terbendung lagi.

"Ibu! Rosma sekarang dimana bu? aku ingin sekali bertemu dia" tanyaku penuh gelisah.

"Rosma telah meninggal nak, karna kejadian perampokan itu dia harus dioperasi dengan resiko yang tinggi. namun operasi itupun akhirnya gagal. setelah meninggal dia memberikann jantungnya untuk kamu nak. karna Rosma tahu hidupnya tidak akan lama lagi jadi dia lakukan itu semua untuk kamu, lelaki yang sangat dicintainya.." jawab ibu dengan tangisan keras.

Air matakupun tidak terbendung lagi, aku menangis sejadi-jadinya. tak kusangka wanita yang tidak aku cintai, wanita yang sering aku lukai hatinya rela mengorbankan semuanya demi Aku dan keluargaku, sedangkan Lisa gadis yang kucintai tak sedikitpun memperhatikan aku apalgi berkorban untukku . Aku sungguh sangat menyesal. oh Andai saja Aku mau menjemput dia malam itu, mungkin aku masih bisa bertemu Rosma. Rasa cinta terhadap Rosma inipun tumbuh dengan cepat menusuk hati paling dalam.

"Rosma ijinkan aku bertemu padamu sekali lagi, aku ingin meminta maaf dan menjalin kisah cinta yang halal padamu. Rosma, terima kasih untuk semua, detak jantung ini adalah bukti Cinta dari surga yang kamu berikan."-


Sumber Dari : http://kisahdanceritakuu.blogspot.com 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Kisah Mengharukan Dari Seorang Ibu Yang Kehilangan Puterinya .::

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya). Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kimpoi lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkimpoian mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang² tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan².

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain. Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan² akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.


Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki². Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian² tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.

Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya.. Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba² sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari obat² herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat² herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya, ia tiba² mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?.. 

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu. Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama² menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari² mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai. Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar² muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main². 

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan ?”. “Saya tidak mencuri, kakek. 

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba² tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab. 
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

Setelah ditanya berkali² tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu. Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.  

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba² sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba² muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.” 
“Tidak Bu, saya yang bersalah”.

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan² ke kota , dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan. Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu²nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya. Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota , bermain² di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. 

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. 

“Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa² Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama² dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat. 

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta² ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu² “Kalau ibu saying padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta² dengan ledakan tangis yang memilukan. 

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu²nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis “Ibu benar² tidak menginginkan saya lagi.”  Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba² ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan² imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba² ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada tuhan yang Maha welas asih. Tuhan pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya. Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling² jatuh ke bawah.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana², tetapi hasilnya nihil. Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana², tetapi hasilnya nihil.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?” Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba² muka sang anak, lalu bertanya!!
“Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”.
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi.
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

::. Louisa Bernadette Indrawati : Wanita Terpendek Indonesia .::

Setiap wanita pasti mendambakan tubuh yang cantik dan ideal. Namun tidak demikian dengan Louisa Bernadette Indrawati (36) yang memiliki tubuh dengan tinggi hanya 74 cm. Bukan hanya tubuh yang pendek, Louisa juga tidak memiliki kaki dan tangan yang sempurna seperti kebanyakan orang. Namun kondisi seperti itu, ia bisa menunjukan identitasnya sebagai wanita normal. Tidak perlu dikasihani dan tidak mau dibedakan dengan wanita normal lainnya.

Louisa Bernadette Indrawati (Tengah)
Louisa lahir sebagai anak dari pasangan Sukardji Kusno dan Maria Magdalena Sriyati pada tanggal 27 Mei 1974 di Kediri. Ia menyadari kelainan yang ada pada dirinya sejak ia masih kecil. Keadaan itu menyebabkan ia sering minder dan menyendiri. Ia bertanya kepada orang-tuanya tentang keadaan tubuhnya, “ Papa, mama kenapa Louisa punya tubuh begini, kok tidak sama dengan teman Louisa.” Papa dan mamanya hanya berkata bahwa ia adalah anak yang luar biasa, yang tidak ada bedanya dengan anak lain. Tuhan memberikan keunikan kepada setiap anak. Setiap anak diberi kekurangan dan juga kelebihan. Louisa pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya.

Akhirnya Louisa tumbuh dengan keyakinan dan semangat yang besar. Ia tidak minder sekalipun ia dianggap oleh banyak orang sebagai wanita yang aneh karena tubuhnya. Ia sekolah di sekolah normal dan terus belajar mandiri. Ia tidak mau sekolah di sekolah untuk anak cacat dan selalu mendapatkan prestasi akademik di sekolah. Louisa kemudian masuk perguruan tinggi dan saat kuliah hukum atas anjuran ayahnya yang seorang jaksa, Louisa diam-diam, tanpa sepengetahuan orangtuanya, mengambil kuliah computer sampai lulus D3.

Ia sangat tertarik dengan teknologi. Lulus kuliah, Louisa bekerja di perusahaan computer. “ Percaya diri itu memang ada, tapi saya tetap tahu diri dengan keadaan tubuh saya. Saya tak pernah terpikir menikah. Saya mengadopsi bayi berumur 20 hari. Saya memberinya nama Maria Rosa Widya Buana.” Louisa mengasuh dan mendidik Rosa penuh kasih, sebagaimana seorang Ibu terhadap anaknya. “ Dia juga selalu tiga besar,” kata Louisa tersenyum ke arah Rosa yang berumur 12 tahun.

Desember 1999, Louisa ambil cuti tahunan dan berlibur ke Bali bersama Rosa. Kemana pun pergi, Louisa selalu membawa Alkitab. Ia berusaha dapat membacanya setiap hari. Louisa tahu pasti, kekuatan hidupnya terletak pada kedekatannya dengan Tuhan. Di pesawat, Louisa membaca Alkitab. Namun, tanpa sengaja Alkitab itu terjatuh. Tiba-tiba saja laki-laki yang duduk di sebelahnya mengambilkan Alkitab itu, “ Mbak, ini Alkitabnya “. Louisa pun mengangguk menerima Alkitab dan berucap singkat, “ Thanks.” 

“Saya selalu berusaha menghindari perkenalan yang berkepanjangan dengan pria. Saya takut jatuh cinta. Saya sadar betul akan diri saya,” ungkapnya. Pria tadi beberapa kali mengajaknya mengobrol yang dijawab singkat. Bahkan cenderung cuek. “ Mbak, mbak kan orang Kristen, kok sombong sih?” Dug! Louisa benar-benar kaget dengan komentar itu. Sombong? Sesungguhnya di hati yang paling dalam Louisa minder ! Selama ini ia sengaja tidak pernah ramah dengan setiap pria yang ditemuinya. Ia sadar ternyata sikapnya itu telah melukai orang lain. Ya, bukankah ia pengikut Kristus yang harus jadi berkat ? Perkenalan pun terjadi. Mereka bertukar alamat email dan nomor telepon. Pria yang ganteng tadi bernama Handoyo Suryo yang kelahiran tahun 1963, dari keluarga yang bermukim di jalan Darmo, Surabaya.

Setelah perkenalan itu, Handoyo menghubunginya. Lalu mereka saling menelepon, kirim email, dan chatting. Persahabatan pun terjalin. Satu kali, tanpa sengaja mereka bertemu kembali di Jogja saat keduanya tugas kantor. “ Saya kaget bukan main. Saya lagi makan bareng dengan teman-teman di restoran. Eh, Handoyo juga di restoran itu. Akhirnya kami ngobrol satu meja.” Selesai makan mereka kembali ke hotel masing-masing. Saat berpisah itulah, Louisa merasakan hal aneh di hatinya. Ia berpikir tentang Handoyo. Jatuh cinta? Ah, tidak. Tidak! Louisa mencoba menepis perasaan lain dari sekadar persahabatan. Hati Louisa bergejolak. Entahlah, malam itu Louisa merasakan ketulusan Handoyo. Louisa berdoa, bertanya pada Tuhan tentang perasaan itu.

Tuhan seolah menjawab, Handoyo itu orang baik”. Sekitar tiga tahun lamanya bersahabat dan saling menguji sampai mana cinta itu melekat. Tiba-tiba Handoyo datang menemui Louisa sambil membawa cincin, “Will you marry me?” Louisa tersentak. Campur aduk perasaan dalam hatinya. Betulkah? Seriuskah? Ah, tidak mungkin. Lamaran Handoyo saat itu terasa lebih sebagai penghinaan.. “Saya tepiskan cincin yang dibawanya. Saya marah. Saya bilang padanya, tidak. Ini tidak mungkin terjadi.” Hatinya menangis. Lamaran itu ditolaknya. Handoyo mencoba meyakinkan bahwa lamaran itu betul-betul serius. Louisa tak percaya.

Setelah kejadian itu, hubungan mereka memburuk. Louisa tak mau mengangkat telepon dari Handoyo. SMS dan email pun tak dibalasnya. Handoyo benar-benar serius! Lamaran kedua dilakukan. Ia membawa orangtuanya dari Surabaya datang ke Jakarta. Namun, ketegangan terjadi karena orangtua Handoyo sangat kaget melihat keadaan Louisa yang cacat, boncel tentu sangat impossible sekali. Begitu juga teman-temannya serta keluarga mengolok-olok. Lamaran kedua pun akhirnya batal lagi. Ternyata Handoyo yakin benar Tuhanlah yang mempertemukan dan mengaturnya , bahwa Louisa adalah pasangan yang diberikan baginya. Itu selalu diucapkan pada Louisa, “ Mari kita sama-sama berdoa. Tuhan Maha ajaib. Dia akan buka jalan.”

Menjawab keyakinan Handoyo, Louisa hanya berkata, “Kalau memang kehendak Tuhan, kamu pasti bisa meyakinkan orangtuamu dan orangtuaku.” Tepatnya Agustus 2004, doa itu terjawab. Handoyo dan keluarga datang melamar Louisa. Keharuan tak dapat dibendung. Orangtua Louisa menerima lamaran untuk anak sulungnya tanpa keraguan. Empat bulan kemuddian, 13 Oktober 2004, Louisa dan Handoyo mengikat janji dalam sakramen pernikahan kudus di Gereja St. Vincentius A. Paulo, Kediri. Mereka berdua menikah diberkati karena Louisa dari agama Katolik sedangkan dari keluarga Handoyo masih dalam sekte lain. Di hadapan pastor, umat, dan keluarga janji setia diucapkan. Mereka akan bersama dalam susah dan senang, dalam miskin dan kaya, dalam sehat dan sakit sampai maut memisahkan.

“Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan, diberikan Tuhan bagi saya. Saya diberi suami yang sangat baik,” tutur haru wanita yang kerap bersaksi di berbagai gereja itu. Juga Handoyo katakan tidak merasa menyesal karena Tuhanlah yang mempertemukan kami berdua, menyentuh serta menggemggam tangannya pun aliran cinta tetap mengalir sehingga bisa menikmati secara hakiki walaupun orang di sekitar sepertinya tidak rela menerima kami.

Dua bulan menikah, Louisa terlambat datang bulan. “ Saya piker ya biasalah mungkin karena capek. Tapi suami mendorong periksa ke dakter. Menyampaikan hasil positif hamil, dokter melihat saya. Seperti tidak percaya. Saya dan suami juga tidak kalah kagetnya. Berita ini keruan saja menghebohkan keluarga. Senang sekaligus khawatir. Apalagi setelah dokter menjelaskan bahwa kehamilannya sangat berisiko. Dokter pun menyarankan untuk aborsi demi keselamatan ibu dan anak. Handoyo dan Louisa terus berdoa. “Setelah berdoa, saya yakin meneruskan kehamilan saya. Suami juga sepakat.

“Setelah hamil enam bulan sepuluh hari,Rabu, 15 Juni 2005 tepat 07.40 WIB, Louisa melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Maria Gabriella Handoyo di RSAB Harapan Kita. Louisa boleh cacat, tapi putrinya lahir mungil serta ini adalah nuansa keindahan serta menyatakan kemulian Tuhan. Hamil saja perut gendut sekitar 15 cm, tapi cara Tuhan sulit ditangkap lewat daya nalar manusia. Keluarga ini bermukim di Kelapa Gading, Jakarta-Utara.

Sungguh hari yang sangat bersejarah. Bukan hanya bagi Louisa, tapi juga dunia kedokteran. Di Rumah Sakit Harapan Kita, ditangani oleh tujuh orang dokter dan karena kandungannya ada kelainan. Louisa dioperasi sekitar 40 menit dan ia sempat mengalami stress, karena tensi darahnya mencapai 200. Sungguh ajaib baji lahir tanpa gangguan, sehat dan tingginya 40 cm. benar-benar Tuhan luar biasa melakukan tanda mukjizat dan ajaib. Lahir seorang baji yang mungil perempuan yang cantik sehingga inilah yang menjadi kebanggaan bagi keluarga ini berkat bonus yang Tuhan berikan menutupi sudut pandang orang-orang yang meragukan.

Ada yang menanyakan walaupun keadaan seperti ini apa yang dilakukan ke depan masaalah, prasarana keluarga dalam sesi ekonomi keuangan. Louisa memberikan jawaban, memang kebutuhan keluarga dari mana saja Tuhan beri, karena Tuhan tidak pernah membiarkan atau meninggalkan umat yang berharap kepadaNya.

Contoh untuk bayar operasi saja di rumah sakit ketika melahirkan dibutuhkan Rp.176 juta biaya perawatan, sedangkan uang yang ada hanya Rp.35 juta. Dari mana dana bisa menutupi kebutuhan tersebut? Ternyata Tuhan itu tidak pernah terlambat semuanya bisa teratasi.

Sekarang Louisa masih bekerja, beraktifitas sebagai motivator dan turut tampil menyaksikan kemurahan Tuhan diundang sebagai pembicara dalam pelayanan antara lain media elektronik. Sedangkan suaminya (Handoyo) mengelola usaha computer dan menghasilkan income yang cukup memadai.” Puji Tuhan. Tak habis-habisnya kami bersyukur pada Allah,” kata wanita yang Juni 2005 tercatat di MURI sebagai wanita pertama Indonesia dengan ukuran tubuh 74 cm yang berhasil melahirkan. Meski lahir amat premature, Gaby tumbuh dengan baik karena Louisa memberinya ASI. Tidak sampai disitu berkat Tuhan, tanpa disadari ada seseorang yang menyumbangkan sebuah mobil Kijang baru untuk keluarga ini di luar perhitungan secara logika.Saat ini Louisa banyak memberikan kesaksian di berbagai tempat. Jika Tuhan kehendaki di satu saat Louisa akan datang ke Amerika Serikat.

Kesaksiannya banyak menguatkan orang lain dan memberi dorongan bahwa kalau kita terus melihat kelemahan kita tanpa memandang kepada kelebihan yang Tuhan sudah berikan maka kita tidak akan menjadi manusia seutuhnya. Louisa telah menjadi contoh tentang seorang yang telah menjadi besar sekalipun memiliki tubuh yang kecil. Jadi walaupun dianggap rendah oleh manusia tetapi dimuliakan TUHAN.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS